KabarMasjid.id, Surabaya – Di tengah dinamika kawasan Perumahan Gunungsari Indah, Kecamatan Karangpilang, berdiri kokoh sebuah monumen kebersamaan umat yang kini dikenal sebagai Masjid Muhammadiyah “Gunungsari Indah” (MGSI). Jauh dari citra masjid perumahan pada umumnya, MGSI telah bertransformasi menjadi sebuah institusi dakwah yang modern, inklusif, dan profesional. Perjalanannya, dari ruang tamu sederhana menjadi kompleks masjid senilai miliaran rupiah, adalah hikayat inspiratif tentang kekuatan visi, kepemimpinan, dan partisipasi jamaah yang tak pernah surut.
Akar Sejarah: Dari Niat di Ruang Tamu
Sejarah MGSI bermula dari sebuah kerinduan kolektif pada bulan Ramadhan 1410 H (1989 M). Saat itu, para penghuni awal perumahan yang dibangun oleh PT. Agra Paripurna merasa perlu adanya tempat untuk salat Tarawih berjamaah. Karena masjid yang dibangun pengembang berlokasi cukup jauh, mereka bersepakat untuk memanfaatkan rumah milik Bapak Arif di Blok E-23, yang pada siang hari berfungsi sebagai Taman Kanak-Kanak, sebagai lokasi ibadah.
Semangat itu terus menyala hingga pada tahun 1990, sebuah informasi dari almarhum Bapak Sunarso menjadi titik balik. Sebuah rumah Tipe 70 di Blok W-13 dengan luas tanah 238 m² hendak dijual. Dipelopori oleh Bapak Agus Suwondo, jamaah bergerak cepat untuk membelinya seharga Rp 25.000.000,-. Dengan dana yang belum ada saat itu, semangat gotong royong terbukti luar biasa; beberapa jamaah ada yang sampai menjual motor dan meminjamkan sertifikat rumah mereka untuk memastikan pembelian dapat dilakukan secara tunai.

(Masjid Muhammadiyah GSI Tampak Luar Sisi Barat)
Fondasi Awal dan Afiliasi Strategis
Pada tahun 1991, dengan mengucap basmalah, pembangunan tahap pertama hingga pengecoran plat lantai dua dimulai di bawah arahan kontraktor Bapak Surya. Bersamaan dengan itu, panitia yang dipimpin Bapak Agus Suwondo secara resmi menyematkan nama “Masjid Gunungsari Indah,” yang kemudian populer dengan akronim MGSI. Setelah pembangunan tahap kedua (penyelesaian lantai 2 hingga atap) pada tahun 1995, struktur organisasi takmir pertama kali dibentuk pada tahun 1997, dengan Bapak Agus Suwondo sebagai Ketua Takmir pertama.
Sebuah langkah strategis yang menentukan masa depan masjid diambil pada tahun 1999. Di bawah kepemimpinan Ketua Takmir Bapak Achmad Lutfi, melalui musyawarah mufakat, jamaah menyerahkan MGSI kepada Persyarikatan Muhammadiyah melalui Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya. Langkah ini, yang dikukuhkan dengan Akta Notaris No. 138/KRPL/1999, tidak hanya memperjelas status kepemilikan aset tetapi juga mengintegrasikan MGSI ke dalam jaringan dakwah Muhammadiyah yang lebih luas.
Era Transformasi di Bawah Kepemimpinan Visioner
Era baru MGSI dimulai ketika Bapak Hidayat Fatoroni terpilih sebagai Ketua Takmir pada tahun 2012. Prioritas utamanya adalah menuntaskan persoalan legalitas yang fundamental. Bekerja sama dengan tim hukum yang dipimpin Bapak Suharto Harjo, S.H., M.H., takmir berhasil mengurus Sertipikat Hak Guna Bangunan (SHGB) No. 2043 atas nama Persyarikatan Muhammadiyah pada tahun 2013 dan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Tempat Ibadah pada tahun 2019.
Kapasitas masjid yang hanya 250 jamaah menjadi pendorong utama untuk program pengembangan masif. Pada tahun 2020, di tengah awal pandemi, panitia pengadaan lahan yang diketuai Bapak G. Baqiuddin berhasil menghimpun tiga lahan baru di Blok W-12 (dibeli), W-14 (hibah dari keluarga Bpk. H. Bambang PH), dan W-15 (hibah dari keluarga Bpk. Imam Mahmudi, S.T.), serta satu unit apartemen (hibah dari keluarga Bpk. H. Ir. Nono Supriyadi). Total luas tanah masjid pun berkembang menjadi 744 m.
Setelah pematangan lahan, peletakan batu pertama pengembangan kedua dilakukan pada 1 Januari 2022 oleh Wakil Pimpinan PWM Jawa Timur, Prof. Dr. Thohir Luth, M.A.. Proyek yang diketuai oleh Bapak Ir. Priyono Dwidjowarastro dan didukung oleh tim penggalangan dana pimpinan Bapak Restoe Winarko ini menelan biaya sekitar Rp 5,9 Miliar. Puncaknya adalah peresmian oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., pada 7 September 2024. Dalam kesempatan itu, Prof. Haedar berpesan, “Jadikan Masjid Muhammadiyah Gunungsari Indah menjadi Masjid Berkemajuan.

(Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir dan Jajaran bersama Takmir Masjid Gunungsari Indah)
Jiwa MGSI: Prinsip, Fungsi, dan Filosofi Mendalam
Di balik kemegahan arsitektur modern-kontemporernya, MGSI menyimpan filosofi mendalam bernama KOMBILAB (Kombinasi Lama dan Baru). Secara fisik, konsep ini menyatukan bangunan lama dan baru sebagai simbol harmoni antargenerasi. Secara spiritual, ia memosisikan masjid sebagai “Laboratorium Pendidikan Karakter” yang bertujuan membentuk generasi Qurani. Menara setinggi 22 meter pun dibangun sebagai penanda bahwa pengembangan masjid dimulai pada tahun 2022.
Filosofi ini diperkaya lebih jauh melalui makna yang terkandung dalam logo MGSI, yang merumuskan prinsip dan fungsi utama masjid. Prinsip dasarnya adalah menjadikan masjid sebagai tempat ibadah yang memancarkan nilai ukhuwah (persaudaraan) dan menjadi pusat peradaban Islam. Visi peradaban ini disimbolkan dengan bentuk lingkaran dan bulan sabit dalam logo.
Sementara itu, fungsi masjid diartikulasikan dalam tiga pilar utama: sebagai pusat segala aktivitas zikrullah, media pemersatu umat, dan pusat kajian keilmuan. Ketiga fungsi ini, yang dilambangkan dengan ikon bintang, kubah, dan Al-Quran, diikat oleh satu tujuan mulia, yakni agar masjid mampu “memenangkan hati jamaahnya,” sejalan dengan tagline-nya: “Menyatukan, menenangkan, dan menyenangkan”.
Keistimewaan MGSI tecermin dalam 22 program unggulannya. Salah satu yang paling menonjol adalah TPQ Program Disabilitas, sebuah layanan pendidikan inklusif bagi 121 santri tuna netra (dengan kelas Braille), autis, serta tuna wicara dan rungu. Ini dilengkapi dengan Rumah Tahfidz yang dibimbing oleh hafidzah berkualitas.
Di bidang sosial, MGSI menjadi rumah bagi semua kalangan melalui Mualaf Corner, MGSI Senior Care untuk jamaah lansia, program konsultasi waris, hingga menjadi base camp bagi komunitas Bikers-Mu Chapter Surabaya. Untuk kemandirian ekonomi, masjid ini mengelola unit usaha seperti W-Mart dan W-Café, serta memiliki Kantor Layanan LazisMU (KLL) yang terintegrasi

(SBG Basecamp BikersMU Chapter Surabaya)
Menatap Cakrawala Masa Depan
Visi MGSI adalah “Terwujudnya Masjid Muhammadiyah Gunungsari Indah yang makmur dan memakmurkan dengan membangun masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Untuk mencapainya, takmir di bawah kepemimpinan Bapak Hidayat Fatoroni telah menyusun program kerja hingga tahun 2028. Agenda prioritasnya antara lain melunasi pembiayaan lahan Blok W-12, melanjutkan pembangunan tahap berikutnya di bawah kepanitiaan Bapak Stefan Marhandian, mengadakan mobil ambulans, dan memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Perjalanan panjang Masjid Muhammadiyah Gunungsari Indah (MGSI) dari sebuah ruang tamu sederhana menjadi kompleks dakwah yang megah adalah bukti nyata kekuatan visi, kebersamaan, dan kepemimpinan yang amanah. Transformasi ini bukan sekadar perubahan fisik bangunan, melainkan sebuah evolusi fungsi yang menempatkan masjid sebagai jantung peradaban Islam di lingkungannya. Dengan mengintegrasikan ibadah ritual, pendidikan inklusif, pelayanan sosial, dan pemberdayaan ekonomi, MGSI telah berhasil melampaui perannya sebagai tempat salat semata, menjadi solusi dan inspirasi bagi jamaah dan masyarakat luas.
Dengan landasan sejarah yang kokoh dan program-program visioner yang terus berjalan, MGSI kini menatap masa depan sebagai prototipe “Masjid Berkemajuan” sesuai dengan pesan dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ia tidak hanya menjadi aset kebanggaan bagi warga Gunungsari Indah dan Persyarikatan Muhammadiyah, tetapi juga menjadi model bagi masjid-masjid lain tentang bagaimana mengelola rumah ibadah secara profesional, modern, dan berdampak luas. Dengan demikian, kisah MGSI adalah tentang bagaimana sebuah niat tulus yang dirawat secara kolektif mampu membangun warisan yang tidak hanya memakmurkan secara fisik, tetapi juga mencerahkan dan memberdayakan umat secara berkelanjutan. (Tim Redaksi)