Kabarmasjid.id, Surabaya – Menjaga hubungan baik antar sesama merupakan fondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat, terlebih di tengah dinamika zaman yang kian kompleks. Nilai-nilai spiritualitas yang diajarkan dalam agama memberikan panduan agar interaksi sosial tidak kehilangan arah dan maknanya. Salah satu pilar utama dalam membangun keharmonisan tersebut adalah melalui praktik silaturahim yang tulus dan berkelanjutan.
Pesan mendalam mengenai pentingnya merajut persaudaraan ini disampaikan dalam khutbah Jumat yang berlangsung pada 10 April 2026 di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya. Dalam kesempatan tersebut, Ustadz H. Ahmad Muzakky Al Hafidz bertindak sebagai khatib dan mengusung tema “Silaturahim pada Era Modern”. Beliau menekankan bahwa di tengah kemajuan teknologi, esensi kasih sayang antar sesama tidak boleh luntur oleh kepentingan sesaat.
Secara etimologi, khatib menjelaskan bahwa silaturahim terdiri dari dua kata utama, yakni shilah yang berarti menyambung dan rahim yang berarti kasih sayang. Istilah ini membawa pesan filosofis bahwa seluruh umat manusia pada hakikatnya berasal dari satu rahim yang sama, yakni keturunan Nabi Adam dan Ibu Hawa. Kesadaran akan asal-usul yang satu ini seharusnya menjadi pengikat kuat agar hubungan persaudaraan tidak mudah terputus oleh perbedaan.
Silaturahim dalam pandangan Islam bukan sekadar tradisi sosial, melainkan ibadah yang sangat agung di sisi Allah SWT. Mengutip hadis Rasulullah SAW, khatib mengingatkan bahwa siapa pun yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaknya ia menyambung tali silaturahim. Janji Allah ini menunjukkan bahwa keberkahan hidup seseorang sangat erat kaitannya dengan sejauh mana ia peduli terhadap sesamanya.
Namun, tantangan besar muncul di era modern saat ini di mana silaturahim sering kali terancam oleh berbagai faktor eksternal. Kesibukan pekerjaan, ambisi pribadi, hingga kepentingan politik sering kali mencabik-cabik kerukunan yang telah ada. Jika tidak waspada, interaksi manusia akan bergeser dari niat ibadah yang spiritual menjadi sekadar transaksi kepentingan sosial yang dangkal.
Khatib memberikan peringatan keras agar niat silaturahim tidak dibelokkan hanya untuk mengejar manfaat duniawi semata. Pertemuan yang didasari atas keinginan agar dipuji, dipilih dalam kontestasi, atau sekadar mendapatkan harta benda adalah bentuk silaturahim yang sia-sia. Hal tersebut mungkin memberikan manfaat jangka pendek di dunia, namun kehilangan nilai pahala dan keberkahan di akhirat kelak.
Oleh karena itu, prinsip utama yang harus dipegang dalam bersilaturahim adalah bingkai keikhlasan dan ketulusan hati. Setiap langkah yang kita ambil untuk menemui sahabat atau saudara harus dilandaskan pada ketaatan kepada Allah SWT. Dengan menjaga kemurnian niat, setiap pertemuan akan menjadi sarana pembersihan jiwa dan penguat ikatan spiritual yang lebih kokoh.
Selain niat, etika dalam bersilaturahim juga menjadi poin penting yang disoroti oleh Ustadz H. Ahmad Muzakky. Beliau menegaskan bahwa silaturahim yang ideal adalah yang bersifat proaktif, yakni mendahului untuk menemui, bukan hanya menunggu untuk ditemui. Seseorang yang memiliki inisiatif untuk berkunjung menunjukkan kerendahan hati dan kemuliaan akhlak dalam menjaga hubungan baik.
Lebih lanjut, konten dari silaturahim tersebut harus membawa manfaat nyata bagi orang yang dikunjungi, minimal dalam bentuk doa. Setiap kali bertemu, hendaknya kita saling mendoakan agar keluarga, umur, dan kehidupan orang lain selalu berada dalam keberkahan. Ungkapan “Uhibbukum fillah” atau aku mencintaimu karena Allah, merupakan puncak dari keindahan komunikasi dalam silaturahim.
Kemajuan teknologi di era digital ini sebenarnya memberikan kemudahan luar biasa bagi manusia untuk tetap terhubung. Jarak geografis yang jauh, bahkan hingga ke luar negeri, tidak lagi menjadi alasan untuk memutuskan komunikasi. Penggunaan telepon, pesan instan, hingga layanan video call harus dimanfaatkan secara optimal sebagai media penyambung kasih sayang kepada orang tua dan kerabat.
Memanfaatkan teknologi informasi untuk tujuan mulia ini merupakan bentuk adaptasi positif di era modern agar kita tidak tergolong sebagai pemutus silaturahim. Allah SWT melaknat mereka yang dengan sengaja membiarkan hubungan persaudaraan terputus tanpa ada usaha untuk memperbaikinya. Media digital harus menjadi jembatan, bukan justru menjadi penghalang bagi kehangatan hubungan antarmanusia.

Pesan penutup dalam khutbah tersebut mengajak jamaah untuk meneladani ajaran Rasulullah SAW dalam menebarkan salam dan berbagi kepada sesama. Memberi makan kepada yang membutuhkan dan menyambung silaturahim adalah amalan dengan pahala tertinggi karena merupakan ruh dari kemanusiaan itu sendiri. Sangat naif jika persaudaraan yang agung harus hancur hanya karena masalah-masalah sepele yang tidak prinsipil.
Dengan menjaga keseimbangan antara hubungan kepada Allah (hablum minallah) dan hubungan kepada sesama manusia (hablum minannas), diharapkan iman dan Islam seseorang tetap terjaga. Silaturahim yang konsisten akan menciptakan masyarakat yang harmonis, penuh berkah, dan selalu dalam lindungan-Nya. Mari kita jadikan setiap momen pertemuan sebagai ladang ibadah yang mengantarkan kita pada keselamatan dunia dan akhirat.
Sumber: Khotbah Jumat di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya pada tanggal 10 April 2026. oleh Ustadz H. Ahmad Muzakky Al Hafidz ini mengangkat tema “Silaturahim pada Era Modern.”