Kabarmasjid.id, Surabaya – Menjaga ketakwaan kepada Allah SWT sering kali dipersepsikan sebatas investasi pahala untuk kehidupan akhirat semata. Padahal, petunjuk syariat dan rekam jejak sejarah para nabi membuktikan bahwa buah ketakwaan serta kepasrahan yang tulus (tawakal) dapat langsung dirasakan keberkahannya di kehidupan dunia. Nilai-nilai spiritual ini menjadi benteng moral sekaligus jalan keluar atas berbagai ujian hidup yang dihadapi umat manusia sehari-hari.
Pesan mendalam tersebut disampaikan oleh Ustadz Abdul Qudus Khadam saat bertindak sebagai khatib dalam ibadah salat Jumat yang diselenggarakan di Masjid Al-Irsyad, Surabaya, pada Jumat 14 Agustus 2026. Dalam khutbahnya, beliau mengajak seluruh jemaah untuk tidak hanya memandang takwa dari kacamata ganjaran akhirat, melainkan juga meyakini janji-janji Allah SWT yang mendatangkan ketenangan dan kemudahan hidup di alam dunia.
Mengawali uraiannya, khatib mengingatkan kembali makna takwa yang hakiki, yakni menjalankan seluruh perintah Allah SWT, menjauhi segala larangan-Nya, serta senantiasa mensyukuri nikmat tanpa bersikap kufur. Beliau mengutip pandangan ulama ternama, Syekh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin, yang menegaskan bahwa takwa kepada Allah SWT membawa dampak nyata dan faedah langsung bagi dinamika kehidupan seorang hamba di dunia.
Keuntungan duniawi pertama dari sikap bertakwa adalah jaminan kemudahan dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah At-Talaq ayat 4, barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan kemudahan dalam segala urusannya. Janji ini menjadi penawar bagi setiap muslim yang sedang dibelit kesulitan ekonomi, pekerjaan, maupun masalah keluarga.
Faedah berikutnya dari ketakwaan adalah hadirnya benteng spiritual yang kuat saat seseorang mendapat bujuk rayu atau godaan setan. Orang yang bertakwa akan senantiasa memiliki kesadaran kritis (tadakkaru) untuk segera ingat kepada Allah SWT ketika terdeteksi sinyal-sinyal maksiat, sehingga ia dapat serta-merta membentengi diri dan meninggalkan keburukan tersebut sebelum terjerumus lebih dalam.
Tak hanya itu, khatib menjelaskan bahwa takwa merupakan perantara utama datangnya hidayah taufik. Dengan hidayah ini, seorang hamba diberi kepekaan nurani (furqan) untuk membedakan antara perkara yang benar dan yang batil. Yang tak kalah penting, Allah SWT memberikan kelapangan hati serta kemudahan fisik bagi orang tersebut untuk mengamalkan kebenaran dan konsisten menjauhi keburukan.
Dalam perjalanan hidup, manusia sering kali merasa lelah dan merasa kebaikannya sia-sia. Namun, khatib menegaskan bahwa Allah SWT tidak akan pernah menyia-nyiakan pahala orang-orang yang bertakwa dan bersabar. Hal ini dicontohkan secara sempurna melalui rekam jejak perjalanan hidup Nabi Yusuf AS yang penuh lika-liku, mulai dari dibuang oleh saudara-saudaranya ke dalam sumur hingga mendekam di dalam penjara.
Berkat ketakwaan dan kesabaran yang tanpa batas, Nabi Yusuf AS akhirnya diangkat oleh Allah SWT menjadi sosok pimpinan terhormat di Mesir serta dipersatukan kembali dengan keluarga besarnya. KISAH ini menjadi bukti empiris bahwa penderitaan yang dihadapi dengan ketakwaan pada akhirnya akan berbuah kemuliaan dan kebahagiaan yang melimpah.
Pelajaran keimanan dan kepasrahan total juga tercermin dari keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Ibunda Hajar. Atas perintah Allah SWT, Nabi Ibrahim AS meninggalkan istri dan putranya yang masih bayi, Ismail, di sebuah lembah tandus tak berpenghuni di Makkah. Meskipun secara logika manusia tindakan tersebut terasa berat dan membahayakan, Ibunda Hajar menerima takdir tersebut dengan keyakinan penuh bahwa Allah SWT tidak akan pernah menelantarkan hamba-Nya.
Kepasrahan dan prasangka baik (husnuzhan) Ibunda Hajar kemudian membuahkan mukjizat nyata dengan terbitnya mata air Zamzam di bawah hentakan kaki bayi Ismail. Kehadiran sumber air suci tersebut tidak hanya menyelamatkan nyawa mereka dari dahaga, tetapi juga mengundang kedatangan Kabilah Jurhum hingga akhirnya kawasan padang pasir yang mulanya mati berubah menjadi pusat peradaban yang makmur.
Kisah inspiratif lainnya yang diangkat dalam khutbah adalah perjuangan Ibunda Nabi Musa AS. Di tengah ancaman kekejaman Firaun yang memerintahkan pembunuhan setiap bayi laki-laki, sang ibu mendapat ilham untuk menghanyutkan bayi Musa ke Sungai Nil di dalam sebuah peti kayu. Kepasrahan ibu Nabi Musa yang menyerahkan nasib buah hatinya secara total kepada Allah SWT akhirnya dibayar tuntas dengan keselamatan sang bayi.

Secara menakjubkan, Allah SWT mengatur agar bayi Musa justru dibesarkan di dalam lingkungan istana Firaun dan dikembalikan ke pangkuan ibu kandungnya sendiri untuk disusui. Mengakhiri khutbahnya, Ustaz Abdul Qudus Khadam berpesan agar jemaah senantiasa memelihara prasangka baik kepada Allah SWT, karena setiap ketetapan-Nya—meski kadang terasa pahit pada awalnya—pasti mengandung hikmah terbaik bagi kehidupan dunia dan akhirat.
Sumber: Khutbah Jumat yang disampaikan oleh Ustadz Abdul Qudus Khadam di Masjid Al-Irsyad Surabaya pada 14 Agustus 2026.