Kabarmasjid.id, Surabaya – Kehidupan modern sering kali menghadapkan manusia pada berbagai labirin persoalan yang menguras energi dan pikiran. Mulai dari himpitan ekonomi yang mencekik, ketidakpastian kondisi alam, hingga urusan domestik rumah tangga yang tak kunjung menemukan titik terang. Di tengah kepungan masalah tersebut, banyak orang yang tersesat mencari jalan keluar yang semu. Padahal, Islam telah menyediakan sebuah kunci spiritual yang sangat sederhana namun memiliki daya dobrak yang luar biasa untuk mengurai segala benang kusut kehidupan, yakni dengan memperbanyak istighfar.
Pesan mendalam inilah yang digaungkan dalam ibadah salat Jumat yang berlangsung khusyuk di Masjid As Sakinah, Perumahan Pantai Mentari, Surabaya, pada Jumat, 24 Muharram 1448 H atau bertepatan dengan 10 Juli 2026. Dalam kesempatan mulia tersebut, Ustadz Dr. H. Fauzi Palestin, S. Hum., M.Ag yang bertindak sebagai khatib mengajak seluruh jamaah untuk merefleksikan kembali orientasi hidup mereka. Beliau mengingatkan bahwa kehadiran fisik di masjid hendaknya menjadi momentum penting untuk memperkokoh keimanan dan konsistensi dalam menjalankan perintah serta menjauhi larangan Allah SWT agar menjadi golongan orang yang beruntung.
Untuk membuka cakrawala berpikir jamaah, Ustadz Fauzi Palestin memutar kembali lembaran sejarah Islam klasik di kota Basrah, Irak. Di kota tersebut, hidup seorang ulama sufi terkemuka yang sangat dihormati, yakni Al Imam Hasan Al-Bashri. Suatu hari, sang Imam didatangi oleh tiga orang tamu yang berbeda dalam waktu yang hampir bersamaan. Ketiga tamu ini membawa beban hidup dan keluhan yang sama sekali tidak sama, mencerminkan heterogenitas masalah yang biasa dihadapi oleh umat manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Tamu pertama datang dengan raut wajah yang dipenuhi kecemasan, mengeluhkan kondisi ekonominya yang sedang berada di titik nadir. Ia terjepit oleh krisis moneter, kesulitan finansial, dan himpitan kebutuhan hidup yang sangat berat. Mendengar keluh kesah yang begitu pelik tersebut, Al Imam Hasan Al-Bashri tidak memberikan tips bisnis atau strategi ekonomi material, melainkan memberikan sebuah petunjuk spiritual yang tegas: beliau memerintahkan tamu tersebut untuk pulang dan memperbanyak membaca istighfar kepada Allah SWT.
Tidak berselang lama, datanglah tamu kedua dengan persoalan yang sama sekali berbeda. Tamu ini mengeluhkan kondisi alam dan cuaca ekstrem yang sedang melanda wilayahnya; panas yang menyengat, kekeringan yang luar biasa, hingga membuat sektor pertanian mati dan tidak bisa tumbuh sebagaimana mestinya. Menariknya, menghadapi persoalan ekologis dan krisis pangan ini, Imam Hasan Al-Bashri kembali memberikan jalan keluar yang persis sama, yaitu meminta sang tamu untuk memperbanyak istighfar kepada Allah SWT.
Suasana semakin memicu rasa penasaran ketika tamu ketiga masuk ke ruangan sang Imam. Pria ini mengonsultasikan masalah domestik rumah tangganya yang sudah berjalan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, namun hingga detik itu belum juga dikaruniai tanda-tanda kehadiran seorang keturunan. Secara medis dan logika manusia, persoalan ini membutuhkan penanganan khusus, tetapi di luar dugaan, Imam Hasan Al-Bashri kembali mengulangi resep yang sama untuk ketiga kalinya: perbanyaklah mengetuk pintu ampunan Allah dengan istighfar.
Konsistensi jawaban dari sang Imam tentu saja memicu kebingungan di kalangan orang-orang yang menyaksikan peristiwa tersebut. Mereka merasa musykil dan bertanya-tanya, bagaimana mungkin tiga problem kehidupan yang sangat bertolak belakang—miskin harta, krisis alam, dan kemandulan—bisa disembuhkan hanya dengan satu obat yang sama. Menjawab keheranan tersebut, Imam Hasan Al-Bashri menjelaskan bahwa resep ini bukanlah karangannya sendiri, melainkan pelajaran berharga yang diabadikan dari strategi dakwah Nabi Nuh Alaihissalam saat kaumnya meminta solusi atas segala persoalan mereka.
Ustadz Fauzi Palestin kemudian membawa jamaah kembali ke realitas lokal dengan menceritakan kisah yang serupa di tanah air. Pola penyelesaian masalah batiniah ini ternyata juga dipraktikkan oleh ulama karismatik Nusantara, al-Alim al-Allamah Syaikhona Kholil bin Abdul Latif Bangkalan. Dalam sebuah riwayat, Syaikhona Kholil juga pernah didatangi tiga tamu dengan hajat yang berbeda-beda, dan uniknya, beliau memberikan ijazah amalan yang sama persis seperti yang dilakukan Imam Hasan Al-Bashri puluhan abad silam, yaitu melazimkan istighfar.
Namun, Ustadz Fauzi Palestin memberikan catatan kritis yang sangat penting agar jamaah tidak salah kaprah dalam memahami amalan ini. Beliau menegaskan bahwa istighfar yang dimaksud para ulama bukanlah sekadar untaian kata Astagfirullahaladzim yang meluncur di lisan secara formalitas pada keheningan malam atau setelah salat. Mengucapkan kalimat ampunan tentu baik, tetapi getaran lisan tersebut sama sekali tidak cukup jika tidak dibarengi dengan perubahan sikap hidup nyata dan pembersihan noda-noda hitam di dalam dada.
Lebih lanjut, Ustadz Fauzi Palestin memerinci hakikat istighfar yang sesungguhnya sesuai dengan pandangan para ulama, yaitu ruju’un anil dzunub atau kembali (tobat) dari dosa-dosa yang dahulu pernah dilakukan, lalu menghadap Allah dengan totalitas ketaatan yang sungguh-sungguh. Istighfar yang dahsyat adalah istighfar yang mampu membersihkan lisan dari kebiasaan membicarakan kekurangan dan keburukan orang lain (ghibah). Selain itu, ia juga harus mampu menyembuhkan hati dari penyakit batin yang kronis seperti iri, dengki, dan kesombongan yang sering menjadi hijab penghalang antara makhluk dan Sang Pencipta.
Apabila komitmen kuat untuk bertobat ini sudah tertanam dan lisan terus dibasahi oleh istighfar yang tulus, maka janji Rasulullah SAW pasti akan berlaku. Nabi Muhammad SAW menjamin bahwa bagi siapa saja yang istiqamah beristighfar, Allah akan mengubah setiap kerumitan hidupnya menjadi kemudahan, mengganti setiap kegundahan dan kesedihan hati dengan kelapangan yang menenteramkan, serta mengucurkan rezeki dari arah yang tidak pernah diduga sebelumnya. Istighfar menjadi magnet bagi datangnya pertolongan Allah, baik untuk kebahagiaan di dunia maupun jaminan keselamatan di akhirat kelak.

Sebagai penutup, Ustadz Fauzi Palestin mengingatkan bahwa tidak ada manusia yang bersih dari dosa dan kezaliman terhadap dirinya sendiri, namun pintu maaf Allah selalu terbuka lebar bagi mereka yang mau mengakui kesalahannya dengan bersungguh-sungguh. Melalui momentum ibadah Jumat ini, umat Islam diharapkan dapat terus membina keseimbangan antara lisan yang gemar beristighfar dan perilaku sehari-hari yang taat di jalan Allah. Semoga kita semua dibimbing untuk menjaga lisan dan hati kita dari segala penyakit batin, sehingga saat malaikat maut datang menjemput, kita berada dalam kondisi terbaik, yaitu meraih husnul khatimah.
Sumber: Khutbah Jumat mengenai kedahsyatan istighfar yang disampaikan oleh Ustadz Dr. H. Fauzi Palestin, S. Hum., M.Ag di Masjid As Sakinah, Pantai Mentari, Surabaya pada 10 Juli 2026.