Kabarmasji.id, Surabaya – Dalam mengarungi kehidupan dunia, manusia sering kali disibukkan oleh berbagai target dan pencapaian materi yang sifatnya sementara. Namun, seorang muslim yang bijak hendaknya juga menetapkan target pencapaian akhirat yang berorientasi pada keselamatan serta kebahagiaan yang abadi. Suasana khidmat tersebut terasa saat ibadah salat Jumat yang diselenggarakan di Masjid Al-Irsyad Surabaya pada tanggal 17 Juli 2026, di mana khatib Ustadz Abdullah Hadrami menyampaikan pesan-pesan penting terkait interaksi seorang hamba dengan Al-Qur’an.
Dalam penyampaian khutbahnya, Ustadz Abdullah mengingatkan agar setiap muslim tidak berpulang ke rahmatullah sebelum berhasil mencapai dua gelar kemuliaan di sisi Allah. Dua pencapaian besar tersebut adalah menjadi Shahibul Qur’an (sahabat Al-Qur’an) serta menjadi Ahlul Qur’an (keluarga Al-Qur’an). Keutamaan ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW yang menegaskan bahwa Al-Qur’an kelak di hari kiamat akan hadir memberikan syafaat kepada para sahabatnya.
Lebih jauh, Ustadz Abdullah menjelaskan kedudukan istimewa yang dimiliki oleh Ahlul Qur’an di hadapan Allah SWT. Merujuk pada hadis Nabi, orang-orang yang tergolong dalam keluarga Al-Qur’an dianggap sebagai keluarga Allah di bumi serta hamba-hamba-Nya yang paling khusus. Oleh karena itu, menjadikan kedua predikat ini sebagai tujuan hidup merupakan langkah strategis untuk meraih kemuliaan sebelum kehidupan dunia berakhir.
Guna memahami kriteria sejati dari Ahlul Qur’an, khatib mengutip penjelasan berharga dari Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam karya beliau, Zadul Ma’ad. Menurut Imam Ibnul Qayyim, seseorang terhitung sebagai keluarga Al-Qur’an apabila ia memenuhi dua syarat utama: memahami isi kandungannya serta mengamalkan petunjuknya dalam kehidupan sehari-hari.
Menariknya, kriteria tersebut tetap berlaku meskipun seseorang tidak mampu menghafal seluruh isi Al-Qur’an di luar kepala. Khatib meluruskan pandangan yang berkembang di tengah masyarakat bahwa fokus utama berinteraksi dengan Al-Qur’an semata-mata adalah kemampuan menghafalkannya. Sebaliknya, hafalan merupakan sebuah nilai tambah atau bonus, sedangkan tujuan utamanya adalah pemahaman dan pengamalan.
Sejarah mencatat bahwa pada zaman para sahabat Rasulullah SAW, fokus pengajaran berpusat pada penanaman nilai dan pengamalan. Kala itu, Al-Qur’an belum dibukukan menjadi 30 juz seperti yang kita kenal sekarang, sehingga banyak sahabat yang hanya menghafal beberapa surah namun benar-benar menguasai pemahaman dan pengamalannya. Hal ini menunjukkan bahwa substansi Al-Qur’an terletak pada bagaimana ajaran tersebut diwujudkan dalam ikhtiar hidup.
Untuk mengoptimalkan manfaat Al-Qur’an dalam kehidupan, khatib membagikan tiga kunci utama yang perlu diterapkan oleh setiap muslim. Kunci pertama adalah menjaga kuantitas bacaan, seperti merutinkan program membaca satu juz per hari (One Day One Juz). Mengalokasikan waktu sekitar satu jam sehari untuk membaca Al-Qur’an akan mendatangkan keberkahan pada waktu, usia, serta rezeki yang didapatkan.
Kunci kedua yang tidak kalah penting adalah menjaga kualitas. Kualitas ini dicapai dengan terus berupaya memahami dan mengamalkan ayat-ayat Al-Qur’an secara bertahap. Belajar mendalami walau hanya satu ayat setiap harinya secara konsisten jauh lebih mendalam manfaatnya sebagaimana yang diteladani oleh para sahabat Nabi dahulu.
Adapun kunci ketiga adalah intensitas interaksi dengan Al-Qur’an. Seorang muslim dianjurkan untuk senantiasa meluangkan waktu bersentuhan dengan Al-Qur’an dalam berbagai kesempatan, baik sebelum dan sesudah subuh, maupun di sela-sela aktivitas harian lainnya. Kontinuitas ini menjadi benteng spiritual yang memelihara keimanan.
Terkait hafalan, khatib memberikan saran praktis bagi masyarakat awam agar tidak membebani diri secara berlebihan hingga melupakan kualitas. Cukuplah memfokuskan diri untuk menghafal dan menguatkan hafalan (mutqin) pada Juz 30 atau Juz ‘Amma. Menjaga hafalan Juz ‘Amma agar tetap lancar mengalir dan dapat diresapi setiap saat jauh lebih berharga dibanding menambah hafalan namun kerap terlupakan.
Selain Juz ‘Amma, terdapat beberapa surah pilihan yang sangat dianjurkan untuk dihafalkan dan dirutinkan pembacaannya. Surah Al-Mulk dianjurkan untuk dibaca setiap malam karena keutamaannya yang melimpah, mulai dari pengampunan dosa hingga perlindungan dari azab kubur dan azab neraka. Begitu pula dengan Surah Al-Kahfi yang disunnahkan untuk dibaca setiap hari Jumat guna memperoleh petunjuk dan cahaya spiritual.

Sebagai penutup, Ustadz Abdullah mengajak seluruh jamaah untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang utama. Dengan senantiasa mempelajari, memahami, serta mengamalkan ajaran-ajarannya, setiap muslim diharapkan dapat berpulang dalam keadaan ridha dan diridhai Allah SWT serta menyandang gelar mulia sebagai sahabat dan keluarga Al-Qur’an.
Sumber: Khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Hadrami di Masjid Al-Irsyad Surabaya pada tanggal 17 Juli 2026