Kabarmasjid. Surabaya – Cinta adalah kata yang paling sering diucapkan namun paling sering disalahpahami hakikatnya. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang serba materialistis, makna cinta sering kali tereduksi menjadi sekadar gejolak emosional yang fana dan sesaat. Padahal, dalam kacamata iman, cinta merupakan fondasi utama yang menghubungkan seorang hamba dengan Sang Pencipta dan pembawa risalah-Nya.
Pesan mendalam mengenai hakikat kasih sayang ini disampaikan dengan khidmat oleh KH. Abdul Hamid Abdullah, S.H., M.Si. dalam khutbah Jumat di Masjid Al Akbar Surabaya pada 3 April 2026. Beliau menegaskan bahwa perwujudan cinta kepada Allah dan Rasulullah bukan sekadar pengakuan di lisan, melainkan sebuah komitmen aktif yang harus terpancar melalui setiap embusan napas dan langkah nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Pada awal pemaparannya, KH. Abdul Hamid menekankan bahwa cinta kepada Allah adalah puncak dari segala jenis cinta yang ada di dunia. Beliau mengutip pemikiran Syekh Ibnul Qayyim yang menyatakan bahwa cinta kepada Allah adalah ruh dari ibadah, inti dari penghambaan, dan sumber kebahagiaan yang sejati. Tanpa cinta ini, ibadah seseorang akan terasa kering dan hanya menjadi rutinitas fisik tanpa makna spiritual yang mendalam.
Lebih lanjut, Beliau menjelaskan bahwa cinta kepada Rasulullah SAW merupakan konsekuensi langsung dan bukti keabsahan cinta seseorang kepada Allah. Mustahil bagi seorang mukmin mengaku mencintai Sang Khalik namun mengabaikan manusia pilihan-Nya. Mengacu pada hadis riwayat Bukhari dan Muslim, keimanan seseorang dianggap belum sempurna hingga ia mencintai Nabi Muhammad lebih dari orang tuanya, anak-anaknya, bahkan dirinya sendiri.
Masuk ke inti pembahasan, khatib merinci enam wujud konkret dari cinta tersebut, yang diawali dengan ketaatan penuh pada perintah Allah dan Rasul-Nya. Beliau menggarisbawahi bahwa bukti utama cinta adalah ittiba’ atau mengikuti jejak langkah Nabi secara keseluruhan, bukan sepotong-sepotong. Mengamalkan sunah dan mencintai syariat, meski terkadang terasa berat bagi hawa nafsu, adalah ujian pertama bagi ketulusan cinta seorang hamba.
Wujud kedua yang ditekankan adalah mendahulukan keinginan Allah dan Rasul-Nya di atas segala keinginan pribadi maupun tradisi. Di sinilah letak ujian pengorbanan yang sesungguhnya; saat seorang mukmin dihadapkan pada pilihan antara tren zaman yang menggoda atau ketetapan agama yang mengikat. Cinta yang sejati tidak akan pernah membangkang, melainkan tunduk patuh dengan penuh ketulusan meski hati mungkin merasa berat.
Selanjutnya, wujud ketiga adalah ujian loyalitas, yakni mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci apa yang dibenci-Nya. Seseorang yang benar-benar mencintai Allah akan merasakan kebahagiaan saat berada di masjid, gemar membaca Al-Qur’an, dan mencintai orang-orang saleh. Sebaliknya, ia akan merasakan kegelisahan terhadap kemaksiatan, kekufuran, dan segala bentuk kezaliman yang tidak diredai oleh Sang Pencipta.
Wujud keempat dalam khutbah tersebut adalah kewajiban membela kehormatan Allah dan Rasul-Nya di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Di era informasi ini, pembelaan bukan hanya dilakukan dengan kata-kata keras, melainkan dengan menunjukkan akhlak mulia sebagai representasi terbaik dari ajaran Islam. Menolak kedustaan atas nama agama dan menjelaskan kebenaran dengan hikmah adalah bentuk pembelaan yang paling elegan.
Kelima, perwujudan cinta ditunjukkan melalui sikap mengagungkan dan memuliakan Rasulullah SAW. KH. Abdul Hamid mengajak jemaah untuk senantiasa menghidupkan ajaran Nabi dan konsisten bersalawat sebagai bentuk penghormatan. Memuliakan Nabi berarti menjadikan tuntunannya sebagai kompas utama dalam menavigasi kehidupan sosial maupun pribadi agar tidak tersesat di tengah arus modernitas.
Puncak dari segala cinta tersebut adalah perasaan rindu yang mendalam untuk bertemu dengan Allah dan Rasulullah SAW. Khatib menjelaskan bahwa kerinduan ini adalah sifat para sahabat yang telah mendahului kita. Barang siapa yang merasa senang dan rindu untuk berjumpa dengan Allah, maka Allah pun akan senang menyambut perjumpaan dengannya, yang pada akhirnya akan bermuara pada kenikmatan di surga nanti.

Sebagai bahan refleksi, KH. Abdul Hamid mengingatkan jemaah bahwa cinta yang tidak disertai dengan ketaatan hanyalah cinta palsu. Beliau mengajak setiap individu untuk jujur mengevaluasi diri: apakah kita lebih bahagia mendengarkan nasihat agama atau sekadar gosip? Apakah kita lebih memprioritaskan salat berjamaah atau hiburan duniawi? Pertanyaan-pertanyaan jujur ini menjadi tolok ukur kadar cinta yang sesungguhnya.
Menutup khutbahnya, KH. Abdul Hamid mendoakan agar seluruh jemaah termasuk ke dalam golongan hamba yang memiliki cinta sejati. Cinta yang dibuktikan dengan amal saleh dan pengorbanan diharapkan menjadi bekal utama untuk meraih rida-Nya. Semoga dengan memupuk cinta yang benar, setiap Muslim dapat merasakan manisnya iman dan pada akhirnya layak mendapatkan pertemuan yang indah dengan Sang Khalik di akhirat kelak.
Sumber: Khutbah Jum’at Masjid Al Akbar Surabaya 3 April 2026 oleh KH. Abdul Hamid Abdullah, S.H., M.Si. dengan bahasan “Perwujudan Cinta Allah dan Rosulullah”