Kabarmasijid.id, Surabaya – Waktu terus bergulir tanpa henti, membawa setiap jiwa kian mendekat pada batas usia yang telah digariskan. Kesadaran akan kefanaan dunia sering kali terabaikan dalam rutinitas harian yang padat, padahal setiap detik yang berlalu adalah satu langkah lebih dekat menuju liang lahat. Pesan reflektif inilah yang menjadi inti dalam khutbah Jumat pada 15 Mei 2026 di Masjid Al-Irsyad Surabaya, yang disampaikan oleh khatib Al Ustadz Fahmi Abdillah Mahri.
Dalam ceramahnya, Ustadz Fahmi mengingatkan para jamaah untuk senantiasa melakukan muhasabah diri. Ia menekankan bahwa perjalanan hidup manusia di dunia bukanlah tentang menjauh dari akhirat, melainkan justru semakin mendekat kepada kematian. Oleh karena itu, sisa usia yang ada harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk meningkatkan kualitas iman dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Beliau kemudian mengajak jamaah untuk bersiap menyambut bulan-bulan mulia dalam kalender Hijriah. Merujuk pada surah At-Tawbah, khatib menjelaskan bahwa Allah SWT telah menetapkan 12 bulan dalam setahun, di mana empat di antaranya adalah bulan-bulan haram yang memiliki kedudukan istimewa di sisi-Nya. Salah satu yang akan segera tiba adalah bulan Dzulhijjah.
Ustadz Fahmi menyoroti keutamaan sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah Berdasarkan sabda Rasulullah SAW, sepuluh hari pertama bulan ini merupakan waktu yang paling dicintai oleh Allah untuk melaksanakan amal saleh, bahkan melampaui keutamaan berjihad di jalan Allah, kecuali bagi mereka yang mengorbankan jiwa dan hartanya secara total di medan perang.
Oleh karena itu, beliau mengimbau jamaah untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Mengingat tahun depan belum tentu kita bisa menjumpai kembali momen serupa, setiap muslim dianjurkan untuk memperbanyak amalan sunah, seperti memperbanyak bacaan Al-Qur’an, memperbanyak sedekah, serta memperbanyak zikir kepada Allah SWT.
Salah satu amalan yang ditekankan secara khusus adalah ibadah puasa, terutama pada hari Arafah (9 Dzulhijjah). Keutamaan berpuasa di hari tersebut sangat besar, yakni dapat menjadi penghapus dosa bagi seseorang atas kesalahannya di masa lalu maupun masa yang akan datang. Ini adalah bentuk rahmat Allah yang sangat luas bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.
Penting untuk dipahami bahwa rangkaian ibadah yang dijalankan di bulan Dzulhijjah bukan sekadar ritual formal tanpa makna. Ustadz Fahmi menegaskan bahwa kedekatan diri kepada Allah yang dicapai melalui puasa, zikir, dan sedekah semestinya membuahkan kesalehan sosial. Kesalehan ini harus tercermin dalam perilaku sehari-hari, di mana seorang muslim seharusnya semakin berhati-hati dalam menjaga lisan dan perbuatannya agar tidak menyakiti orang lain, yang menjadi kunci dalam membangun hubungan harmonis dengan sesama.
Selain anjuran memperbanyak amal kebaikan, khatib juga memberikan peringatan keras mengenai larangan berbuat dzalim. Di bulan-bulan haram, dosa atas perbuatan zalim dipandang jauh lebih berat. Ustadz Fahmi menegaskan bahwa tidak ada alasan bagi seorang mukmin untuk mengambil hak orang lain atau merusak nama baik sesama, karena Allah SWT Maha Melihat segala perbuatan hamba-Nya.
Peringatan ini didasarkan pada prinsip bahwa Allah SWT tidak akan pernah lengah terhadap perbuatan zalim. Meskipun hukuman bagi orang zalim terkadang ditunda, Allah pasti akan menimpakan balasan atas perbuatannya sebelum orang tersebut menutup mata. Inilah bentuk keadilan Allah yang harus diwaspadai oleh setiap manusia.
Sebagai ilustrasi, beliau menceritakan sebuah kisah tentang seseorang yang pernah dizalimi hingga dokumen pentingnya dihancurkan oleh pihak lain. Sang korban kemudian memanjatkan doa kepada Allah agar pelaku mendapatkan balasan yang setimpal. Selang beberapa tahun kemudian, pelaku tersebut mengalami kecelakaan tragis yang mengakibatkan tubuhnya hancur, persis seperti kerugian yang ia ciptakan pada dokumen korban sebelumnya.
Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa doa orang yang terzalimi (mazlum) adalah salah satu doa yang mustajab. Ustadz Fahmi mengingatkan bahwa berbuat zalim, seperti mengambil hak orang lain, tidak membayar utang, atau mendurhakai orang tua, adalah perbuatan yang mengundang kemurkaan Allah di dunia dan akhirat.

Menariknya, sang khatib juga memberikan catatan penting mengenai adab bagi orang yang terzalimi. Meski doa tersebut mustajab, Ustadz Fahmi mengingatkan agar kita tetap menjaga batasan dan tidak berdoa secara berlebihan hingga melampaui batas yang wajar. Hal ini mengajarkan kita untuk tetap menjaga hati agar tidak ikut terkotori oleh dendam yang merusak, sekaligus mengedepankan sikap bijak dalam menuntut keadilan tanpa kehilangan kendali atas emosi diri sendiri.
Sebagai penutup, beliau mengajak seluruh jamaah untuk segera melakukan perbaikan diri. Jika pernah berbuat zalim, segeralah meminta maaf dan mengembalikan hak orang yang dirugikan sebelum datang hari pembalasan. Pintu tobat masih terbuka lebar bagi mereka yang ingin memperbaiki diri dan beramal saleh.
Khutbah ditutup dengan doa agar Allah SWT senantiasa memberikan hidayah, mengampuni dosa-dosa kaum muslimin, dan mematikan kita semua dalam keadaan husnul khatimah. Semoga pesan dari Masjid Al-Irsyad ini menjadi pemicu bagi kita untuk lebih produktif dalam beribadah di hari-hari yang diberkahi.
Sumber: khutbah Jumat yang disampaikan oleh Al Ustadz Fahmi Abdillah Mahri di Masjid Al-Irsyad Surabaya pada tanggal 15 Mei 2026.