KabarMasjid.id, Surabaya – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, umat Islam diingatkan kembali untuk menata hati dan mempersiapkan diri secara maksimal. Persiapan ini bukan sekadar urusan fisik, melainkan lebih dalam mengenai penguatan niat dan pembersihan jiwa agar ibadah yang dijalankan tidak hanya menjadi rutinitas tanpa makna. Semangat menyambut bulan penuh berkah ini menjadi inti pesan yang disampaikan dalam pelaksanaan ibadah mingguan di salah satu pusat syiar Islam di Kota Pahlawan.
Khutbah mendalam mengenai persiapan Ramadhan ini disampaikan oleh Ustadz Abdul Quddus yang bertindak sebagai khatib dalam pelaksanaan Khutbah Jum’at pada 13 Februari 2026 di Masjid Al-Irsyad Surabaya. Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Fahmi bin Abdillah Mahdi bertindak sebagai imam salat, di mana khutbah difokuskan pada upaya meningkatkan ketakwaan serta memahami keistimewaan yang diberikan Allah SWT khusus kepada umat Nabi Muhammad SAW selama bulan Ramadan.
Dalam pembukaan khutbahnya, Ustadz Abdul Quddus menekankan bahwa takwa yang sesungguhnya berpusat di dalam hati, bukan sekadar tampilan lahiriah. Beliau mengutip pesan Rasulullah SAW yang mengingatkan umatnya sejak bulan Rajab dan Syakban untuk mulai membersihkan hati. Hal ini krusial agar saat memasuki Ramadan, seorang mukmin telah berada dalam kondisi spiritual yang siap untuk menampung limpahan rahmat dan keberkahan.
Khatib juga mengingatkan bahwa Ramadan adalah kesempatan emas di mana pintu surga dibuka lebar dan pintu neraka ditutup rapat. Fenomena spiritual ini ditandai dengan diringankannya langkah hamba-hamba beriman untuk melakukan amal saleh. Oleh karena itu, niat yang tulus atau islahun niah menjadi kunci utama agar setiap amalan, sekecil apa pun, dapat bernilai besar di sisi Allah SWT dan mendatangkan ampunan atas dosa-dosa masa lalu.
Salah satu target konkret yang dianjurkan bagi setiap Muslim adalah menyelesaikan khatam Al-Qur’an minimal satu kali selama bulan Ramadan. Mengingat Ramadan adalah Syahrul Qur’an atau bulan diturunkannya mukjizat terbesar, sesibuk apa pun urusan duniawi, interaksi dengan kitab suci tidak boleh ditinggalkan. Hal ini merujuk pada teladan Nabi Muhammad SAW yang bahkan di akhir hayatnya menyimak bacaan Al-Qur’an dari Malaikat Jibril.
Terkait ibadah malam atau qiyamulail, khatib menjelaskan fleksibilitas yang diberikan dalam syariat. Meskipun iktikaf sepuluh hari terakhir sangat diutamakan, bagi mereka yang memiliki keterbatasan, menghidupkan satu malam saja—seperti malam ke-23 yang pernah disarankan Nabi kepada sahabat Unais—sudah memiliki nilai yang besar. Bahkan, menjaga salat Isya dan Subuh secara berjemaah di masjid pun sudah dihitung seperti menghidupkan malam sepenuhnya.
Pesan penting lainnya dalam kajian ini adalah larangan menjadikan kelelahan ibadah malam sebagai alasan untuk meninggalkan salat Subuh berjemaah. Ustaz Abdul Quddus menyoroti kekeliruan sebagian orang yang terlalu fokus pada salat sunah malam hari namun justru tertidur dan melewatkan salat Subuh di masjid. Beliau menekankan pentingnya menjaga prioritas ibadah sesuai dengan urutan yang telah ditetapkan dalam agama.
Memasuki inti materi, khatib memaparkan lima keistimewaan Ramadan yang tidak diberikan kepada umat-umat terdahulu. Keistimewaan pertama adalah aroma mulut orang yang berpuasa yang di sisi Allah lebih harum daripada minyak kesturi. Hal ini merupakan bentuk pemuliaan terhadap hamba yang rela menahan lapar dan dahaga demi menjalankan perintah penciptanya, sehingga kondisi fisik yang tampak lesu justru menjadi kebanggaan di hadapan para malaikat.
Keistimewaan kedua dan ketiga berkaitan dengan dukungan makhluk langit. Para malaikat yang tidak pernah bermaksiat senantiasa memohonkan ampun bagi orang yang berpuasa hingga waktu berbuka tiba. Selain itu, setiap hari Allah memerintahkan surga untuk menghias diri guna menyambut kedatangan hamba-hamba-Nya yang telah bersusah payah menjalankan ibadah yang berat sebagai bentuk penghormatan tertinggi.
Keistimewaan keempat adalah dibelenggunya setan-setan jahat, sehingga godaan eksternal berkurang secara signifikan. Dalam kondisi ini, hambatan utama manusia dalam beribadah hanyalah hawa nafsu dari dalam diri sendiri. Khatib menyarankan agar umat Islam menghindari maksiat sekecil apa pun, karena perbuatan buruklah yang sebenarnya membuat badan terasa berat dan lemah untuk menjalankan ketaatan kepada Allah.
Keistimewaan kelima adalah pemberian ampunan di setiap malam Ramadan. Berbeda dengan pandangan umum yang mengira ampunan hanya ada pada malam Lailatul Qadar, Nabi menjelaskan bahwa setiap pekerja akan mendapatkan upahnya setelah menyelesaikan amalannya. Maka, setiap malam yang dilalui dengan puasa dan ibadah menjadi penggugur dosa bagi pelakunya, asalkan didasari rasa iman dan mengharap rida-Nya.
Sebagai penutup, Ustadz Abdul Quddus memberikan peringatan keras mengenai penghalang pahala, yakni permusuhan antar sesama Muslim. Allah dapat menahan pahala puasa dan salat seseorang jika ia masih menyimpan kebencian atau belum berdamai dengan saudaranya. Oleh karena itu, momen menjelang Ramadan di Masjid Al-Irsyad ini diakhiri dengan ajakan untuk memperbaiki hubungan dengan sesama manusia agar seluruh amal ibadah dapat naik dan diterima oleh Allah SWT.
Sumber: Khutbah Jum’at pada 13 Februari 2026 di Masjid Al-Irsyad Surabaya. Khutbah disampaikan oleh Ustadz Abdul Quddus