Menjaga Api Kemabruran: Mengapa Haji Harus Menjadi Titik Balik Perubahan Hidup?

Dr. KH. Syukron Jazilan, M.Ag.
Dr. KH. Syukron Jazilan, M.Ag.

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Ibadah haji merupakan perjalanan spiritual puncak bagi setiap Muslim, sebuah momentum transformasi yang dinantikan seumur hidup. Namun, tantangan sesungguhnya bagi para jemaah bukanlah saat berada di Tanah Suci, melainkan bagaimana mempertahankan nilai-nilai kesucian tersebut setelah kembali ke rutinitas sehari-hari di tanah air.

Suasana khidmat menyelimuti Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya pada hari Jumat, 1 Mei 2026, saat Dr. KH. Syukron Jazilan, M.Ag. menyampaikan khotbah Jumat di hadapan ribuan jemaah. Dalam durasi khotbah yang mendalam, beliau mengangkat tema “Aktualisasi Haji Mabrur” sebagai pengingat bagi para jemaah, terutama di tengah musim pemberangkatan haji tahun 2026 yang sedang berlangsung.

Khatib membuka narasinya dengan menekankan bahwa haji mabrur adalah dambaan setiap hamba karena ganjaran yang dijanjikan tidak lain adalah surga. Namun, beliau mengingatkan bahwa meraih predikat mabrur bukanlah perkara mudah karena menuntut pengorbanan harta, tenaga, hingga keikhlasan niat yang luar biasa.

Poin krusial yang disampaikan adalah bahwa kemabruran haji tidak boleh berhenti pada ucapan atau doa semata. Inti dari haji yang diterima oleh Allah adalah adanya perubahan perilaku yang nyata, di mana seseorang harus menjadi jauh lebih baik dibandingkan versi dirinya sebelum berangkat ke haramain.

Perubahan ini pertama-tama harus terlihat dalam dimensi spiritual personal. Dr. KH. Syukron Jazilan mencontohkan bahwa jemaah yang sebelumnya mungkin jarang melakukan salat berjemaah, seharusnya menjadi lebih tekun dan disiplin dalam ibadahnya setelah pulang dari Makkah dan Madinah.

Namun, Islam tidak hanya mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya, tetapi juga hubungan antar sesama manusia. Oleh karena itu, aktualisasi haji mabrur sangat erat kaitannya dengan peningkatan kebaikan sosial melalui amal nyata seperti infak dan sedekah.

Kepedulian terhadap lingkungan sekitar menjadi parameter penting lainnya. Jemaah haji yang mabrur diharapkan memiliki kepekaan yang lebih tinggi terhadap nasib anak-anak yatim dan kaum duafa yang berada di lingkungan tempat tinggal mereka.

Dalam khotbahnya, beliau juga menyinggung tentang tekanan urusan duniawi yang sering kali memicu stres bagi manusia. Untuk menjaga ketenangan hati, seorang haji harus mampu melibatkan Allah dalam setiap langkahnya melalui sikap syukur, sabar, ikhlas, dan tawakal.

Khatib juga memberikan peringatan keras agar jemaah tidak terjebak pada kebanggaan semu terhadap gelar “Haji” atau panggilan “Abah” dan “Umi”. Kemuliaan seorang haji bukan terletak pada label sosialnya, melainkan pada kerendahan hatinya untuk terus belajar dan memperbaiki diri tanpa henti.

Untuk menjaga konsistensi atau istikamah dalam kebaikan, para alumni haji disarankan untuk tetap aktif mengikuti majelis taklim dan pengajian. Hal ini penting agar selalu ada lingkungan yang saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran sepanjang hayat.

Selain aspek mabrur, khotbah ini juga menjelaskan konsep keberkahan atau barokah bagi mereka yang hajinya diterima. Haji yang berkah tidak akan membuat seseorang kekurangan rezeki, melainkan justru akan menambah kelancaran urusan keluarga, kesuksesan anak-anak, dan ketenangan hidup.

Sebagai penutup, diingatkan pula bahwa musim haji 2026 di Jawa Timur sedang berada pada puncaknya dengan total 116 kloter yang akan berangkat hingga 20 mei mendatang. Harapan besar disematkan agar seluruh jemaah Indonesia diberikan kelancaran dan keselamatan hingga mampu meraih kemabruran yang abadi.

Sumber: Khotbah Jumat berjudul “Aktualisasi Haji Mabrur” yang disampaikan oleh Dr. KH. Syukron Jazilan, M.Ag. di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya pada 1 Mei 2026.

E-Buletin