Menjadi Mujahid di Era Digital: Memanfaatkan Teknologi dengan Kebijaksanaan

Khutbah Jum’at oleh Prof. Dr. Ir. H. Abdullah Syahab
Khutbah Jum’at oleh Prof. Dr. Ir. H. Abdullah Syahab

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Media digital telah menjadi medan pertempuran ideologi dan nilai. Dalam konteks inilah, tema “Menjadi Mujahid di Era Digital” yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. H. Abdullah Syahab, M.Sc dalam khotbah Jumat di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya pada 14 November 2025 menjadi sangat relevan. Pesan utamanya: setiap Muslim harus bertransformasi menjadi pejuang kebenaran yang piawai di ruang maya maupun nyata.

Prof. Abdullah Syahab memulai dengan mengingatkan bahwa kewajiban seorang Muslim adalah menjadi mujahid, yang berarti berjihad di jalan Allah. Ini adalah panggilan suci untuk menjaga integritas agama dan masyarakat.

Jihad dalam konteks modern tidak hanya dimaknai sebagai peperangan fisik, melainkan secara fundamental sebagai upaya tanpa henti untuk menjaga dan menegakkan kebenaran (al-haq) serta memerangi segala bentuk kemungkaran (al-munkar) yang merusak tatanan sosial dan moral.

MenurutProf. Syahab  , pertarungan antara hak dan batil adalah sebuah “perennial war” atau peperangan abadi yang akan terus berlanjut hingga hari kiamat. Ia mengutip kisah Habil dan Qabil sebagai bukti bahwa perseteruan telah ada sejak dua manusia pertama, menandakan bahwa seorang Muslim harus selalu waspada dan siap berjuang.

Kehadiran umat Islam di dunia ditandai dengan predikat istimewa sebagai Khairu Ummah (umat terbaik). Predikat ini bukan klaim kosong, melainkan melekat pada ciri khas utama: tamuruna bil ma’ruf wa tanhauna ‘anil munkar, yakni aktif menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Menariknya, Prof. Syahab menekankan bahwa dakwah bukanlah monopoli umat Islam. Ia menyebut bahwa setiap manusia, bahkan kelompok-kelompok dengan ideologi non-konvensional seperti ateisme dan LGBTQ, juga aktif “berdakwah” dan menyebarkan ideologi mereka. Ini menyiratkan bahwa umat Islam tidak boleh pasif, sebab semua orang di dunia sedang berada dalam gerakan dakwah.

Di era digital, sarana dakwah tidak lagi terbatas pada mimbar masjid. Prof. Syahab mendorong penggunaan platform yang beragam, bahkan dari bidang non-agama seperti olahraga. Ia mencontohkan bagaimana figur publik seperti pesepakbola Muhammad Salah dan atlet bela diri Khabib Nurmagomedov menyebarkan nilai-nilai keislaman secara global melalui prestasi dan perilaku mereka.

Dalam khutbah tersebutProf. Syahab  memberikan contoh nyata melalui eksperimen sosial di Amerika Serikat, di mana masjid menunjukkan kontribusi sosial yang luar biasa cepat dan ikhlas. Hal ini menunjukkan bahwa dakwah yang paling efektif dan viral di era digital adalah dakwah aksi: menunjukkan bahwa menjadi Muslim sangat kontributif dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Kemajuan teknologi informasi, khususnya munculnya Artificial Intelligence (AI) dan ChatGPT, harus disikapi sebagai alat yang sangat bermanfaat. AI membuka peluang besar untuk memperkaya pengetahuan agama dan mempermudah akses terhadap informasi keislaman.

Khotib membagikan pengalamannya sendiri dalam memanfaatkan AI untuk kepentingan belajar. Teknologi memungkinkan seseorang mengakses ratusan kitab tafsir, puluhan kamus bahasa Arab dan Inggris, hingga mengecek tingkat keabsahan hadis dalam hitungan detik—sesuatu yang sulit dijangkau di masa lalu.

Meski demikian, khotib memberikan peringatan keras. Mengutip Bertrand Russell, ia mengatakan bahwa setiap kemajuan ilmu pengetahuan harus disertai dengan peningkatan kebijaksanaan (wisdom), yang sayangnya tidak dapat disediakan oleh sains. Oleh karena itu, berhati-hati saat berguru—baik kepada guru manusia yang bisa salah maupun AI yang diprogram oleh manusia non-Muslim—adalah mutlak.

Intinya, era digital adalah medan jihad baru yang menuntut kecerdasan dan kehati-hatian. Prof. Syahab menutup khotbahnya dengan doa agar kita diberi ilmu yang bermanfaat—ilmu yang tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga meningkatkan ketakwaan. Sebab, “siapa yang ilmunya bertambah namun takwanya tidak bertambah, dia tidak akan memperoleh apapun dari Allah kecuali Allah semakin jauh.”

Sumber: Khutbah Jum’at oleh Prof. Dr. Ir. H. Abdullah Syahab dengan tema “Menjadi Mujahid di Era Digital” di Masjid Al Akbar Surabaya

E-Buletin