Kabarmasjid.id, Surabaya Di tengah dinamika sosial yang sering kali menguras energi batin, nilai-nilai spiritual menjadi oase yang menyejukkan bagi setiap jiwa yang mencari ketenangan. Kepekaan sosial atau empati bukanlah sekadar konsep teoritis, melainkan landasan akhlak yang diajarkan oleh para utusan Tuhan sepanjang sejarah manusia. Pada hari Jumat, 15 Mei 2026, bertempat di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, Prof. Dr. H. Aswadi Suhada, M.Ag menyampaikan khutbah mendalam yang menyoroti urgensi menghidupkan kembali kisah empati para nabi sebagai kompas moral bagi umat modern.
Khatib mengawali uraiannya dengan menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar kitab hukum, melainkan gudang hikmah yang memuat prototipe kepribadian luhur. Beliau menjelaskan bahwa empati adalah kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain, sebuah sifat yang melekat kuat pada diri para Nabi. Dalam narasi Al-Qur’an, setiap Nabi digambarkan memiliki kepedulian yang melampaui kepentingan pribadi demi keselamatan dan kesejahteraan kaumnya.
Lebih lanjut, Prof. Aswadi menekankan bahwa empati merupakan akar dari transformasi sosial yang dibawa oleh Islam. Tanpa rasa peduli, dakwah hanya akan menjadi retorika kosong yang tidak menyentuh hati. Beliau merujuk pada ayat-ayat yang menggambarkan betapa berat beban yang dirasakan Rasulullah SAW ketika melihat penderitaan umatnya, sebuah refleksi puncak dari cinta dan kepedulian seorang pemimpin kepada rakyatnya.
Dalam konteks Nabi Musa AS, khatib menceritakan bagaimana empati membawanya membela kaum yang tertindas meskipun ia harus menghadapi risiko besar. Musa tidak bisa berdiam diri melihat ketidakadilan di depan matanya, menunjukkan bahwa empati harus diwujudkan dalam tindakan nyata untuk menegakkan kebenaran. Sikap ini menjadi pengingat bagi kita agar tidak bersikap apatis terhadap kezaliman yang terjadi di sekitar kita.
Tak lupa, Prof. Aswadi mengisahkan keteguhan Nabi Ibrahim AS yang memiliki empati tinggi terhadap masa depan generasi penerusnya. Doa-doa Ibrahim yang diabadikan dalam Al-Qur’an mencerminkan kecemasan seorang ayah sekaligus pemimpin akan keberlangsungan iman dan kesejahteraan keturunannya. Ini mengajarkan bahwa empati juga harus mencakup visi jangka panjang untuk membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai ketuhanan.
Beliau juga menyoroti kisah Nabi Yusuf AS yang meskipun telah dikhianati oleh saudara-saudaranya, tetap mampu menunjukkan empati yang luar biasa saat ia berada di puncak kekuasaan. Yusuf memilih untuk memaafkan dan memberikan bantuan pangan kepada mereka di masa sulit. Ini adalah bukti bahwa empati mampu meruntuhkan dinding dendam dan menggantinya dengan jembatan kasih sayang serta persaudaraan.
Selain Nabi Yusuf, keteladanan dalam memandang penderitaan sesama juga tercermin kuat pada kisah Nabi Yunus AS. Pengalaman spiritualnya di dalam perut ikan paus menumbuhkan kepekaan batin yang luar biasa mendalam mengenai arti kelemahan manusiawi di hadapan Sang Pencipta. Rasa empati spiritual inilah yang kemudian menggerakkan beliau untuk kembali memimpin kaumnya dengan penuh kesabaran, membimbing mereka keluar dari kegelapan menuju cahaya iman tanpa sedikit pun menyisakan rasa putus asa.
Pelajaran penting lainnya yang ditekankan dalam khutbah tersebut adalah bagaimana empati dapat menjadi solusi bagi krisis kemanusiaan di era globalisasi. Prof. Aswadi menyentil fenomena masyarakat digital yang terkadang lebih sibuk dengan gawai daripada memperhatikan kesulitan tetangganya. Nilai empati para Nabi menuntut kita untuk kembali hadir secara utuh dalam kehidupan sosial dan memberikan kebermanfaatan nyata.
Khatib kemudian mengajak jamaah untuk merenungkan bahwa setiap ibadah dalam Islam, seperti shalat dan zakat, sejatinya memiliki dimensi sosial yang kuat. Zakat, misalnya, adalah manifestasi formal dari rasa empati untuk memperkecil kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin. Jika ibadah ritual tidak melahirkan empati, maka ada yang perlu dievaluasi dari kualitas pemahaman keagamaan seseorang.
Dalam bagian lain khutbahnya, beliau menjelaskan bahwa empati juga harus ditujukan kepada alam semesta. Para Nabi mengajarkan manusia untuk tidak berbuat kerusakan di muka bumi karena itu akan merugikan mahluk lain. Kesadaran ekologis ini lahir dari rasa empati terhadap lingkungan hidup yang telah menyediakan sumber daya bagi kelangsungan hidup umat manusia di masa kini dan mendatang.
Prof. Aswadi juga menggarisbawahi bahwa pendidikan di keluarga harus menjadi laboratorium utama dalam menanamkan empati sejak dini. Orang tua diharapkan mencontohkan perilaku peduli sebagaimana para Nabi mendidik keluarganya. Dengan demikian, akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional dan spiritual yang matang.
Khatib juga mengingatkan bahwa dalam struktur sosial yang lebih luas, para pemimpin dan pemangku kebijakan memikul tanggung jawab terbesar untuk mengimplementasikan nilai luhur ini. Kebijakan publik yang dilahirkan dari rahim empati akan selalu berpihak pada kemaslahatan masyarakat kecil dan kaum yang lemah. Sebaliknya, ketika seorang pemimpin kehilangan kepekaan sosialnya, maka tatanan keadilan akan runtuh dan digantikan oleh kesenjangan yang merugikan hajat hidup orang banyak.

Menjelang akhir khutbah, beliau memberikan tips praktis untuk mengasah empati, di antaranya dengan sering melakukan tadabbur Al-Qur’an dan menelaah sejarah kehidupan para nabi. Memahami penderitaan dan perjuangan mereka akan melunakkan hati yang keras dan membangkitkan semangat untuk menolong sesama. Beliau mengingatkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.
Sebagai penutup, Prof. Aswadi Suhada mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan nilai empati ini sebagai identitas utama seorang muslim. Di tengah perpecahan dan konflik yang sering melanda, empati adalah perekat yang mampu menyatukan berbagai perbedaan. Semoga dengan meneladani kisah-kisah luhur dalam Al-Qur’an, kita mampu menjadi agen perubahan yang membawa kedamaian bagi lingkungan sekitar.
Sumber: Khutbah Jum’at berjudul “Kisah Empati Para Nabi dalam Al Qur’an” yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Aswadi Suhada, M.Ag. di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya pada tanggal 15 Mei 2026