Mengapa Sukses Akademis Orang Tua Bisa Ringkih Tanpa Pendidikan Adab di Rumah?

Ustadz Muhammad Sholeh Drehem, Lc., M.Ag.
Ustadz Muhammad Sholeh Drehem, Lc., M.Ag.

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Pendidikan karakter tidak melakoni perjalanannya hanya di dalam ruang-ruang kelas atau koridor akademis yang megah. Lebih dari sekadar kurikulum formal, fondasi adab dan moral seorang insan sesungguhnya ditempa pertama kali di dalam lingkungan domestik yang hangat, yakni rumah tangga. Hal inilah yang menjadi sorotan utama dalam ibadah salat Jumat yang berlangsung di Masjid Manarul Ilmi Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pada 31 Juli 2026, dengan khatib Ustadz Muhammad Sholeh Drehem, Lc., M.Ag. yang menyampaikan pesan mendalam mengenai peran sentral keluarga dalam membentuk karakter generasi penerus.

Dalam paparan awal khutbahnya, khatib menegaskan bahwa konsep keluarga memiliki cakupan makna yang sangat luas dan inklusif. Diskusi tentang keluarga bukan hanya sebatas relasi antara suami dan istri atau ayah dan anak-anaknya semata. Lebih jauh dari itu, lingkungan keluarga juga melingkupi orang tua, mertua, saudara kandung, ipar, hingga para asisten rumah tangga yang turut beraktivitas di dalam rumah. Setiap komponen ini saling memengaruhi dalam menciptakan iklim tumbuh kembang karakter anggota keluarga.

Mengarungi bahtera rumah tangga tentu tidak pernah sepi dari dinamika, perbedaan pendapat, serta gejolak permasalahan hidup. Ustaz Muhammad Sholeh Drehem mengingatkan jamaah bahwa ujian dan riak-riak kecil dalam kehidupan domestik adalah sesuatu yang sangat manusiawi dan lumrah terjadi. Bahkan, manusia terpilih seperti Nabi Muhammad SAW pun mengalami berbagai ujian serta tantangan dalam kehidupan rumah tangganya bersama para istri beliau.

Ujian rumah tangga yang dialami oleh Rasulullah SAW menjadi pelajaran berharga yang diabadikan di dalam Al-Qur’an, salah satunya pada Surah At-Tahrim. Melalui ayat-ayat dalam surah tersebut, Allah SWT memberikan petunjuk dan teguran secara langsung untuk meluruskan setiap permasalahan yang timbul. Hal ini memberikan gambaran jelas bahwa penyelesaian masalah keluarga harus senantiasa disandarkan pada nilai-nilai wahyu dan keteladanan ilahi.

Salah satu pesan paling krusial yang digarisbawahi dalam khutbah tersebut adalah amanat Allah SWT dalam Surah At-Tahrim ayat 6. Ayat ini memanggil orang-orang beriman untuk secara aktif menjaga diri dan keluarganya dari ancaman api neraka (quu anfusakum wa ahlikum naara). Kepala keluarga memegang amanah besar untuk mengarahkan bahtera rumah tangga agar tidak tergelincir pada kegagalan mendidik moral dan agama anak-anaknya.

Kegagalan terbesar seorang insan bukanlah ketika ia menemui jalan buntu dalam urusan finansial atau pencapaian karier dunianya. Kegagalan yang hakiki terjadi saat seorang kepala rumah tangga gagal menuntun istrinya dan gagal mengarahkan anak-anaknya menjadi pribadi yang berbakti (birrul walidain) serta bertakwa. Tanggung jawab kepemimpinan di dalam rumah tangga ini menuntut kesadaran penuh dari setiap orang tua.

Khatib juga menyampaikan refleksi khusus yang sangat relevan bagi masyarakat di lingkungan perguruan tinggi dan akademisi. Aktivitas akademik yang padat, kejar-kejaran riset, serta pencapaian gelar yang tinggi kerap kali menyita waktu dan energi orang tua secara masif. Kendati demikian, kesibukan tersebut jangan sampai membuat seseorang alih-alih sukses mendidik ratusan mahasiswa di kampus, namun justru luput dan gagal mengarahkan anak kandungnya sendiri di rumah.

Ketika melangkah masuk ke dalam rumah, seorang ayah dan ibu hendaknya melepas sejenak atribut serta kesibukan pekerjaannya. Rumah harus dijadikan sebagai tempat yang penuh kehangatan, kasih sayang, dan ruang aman (baitii jannatii) bagi anak-anak untuk mengadu serta mencurahkan isi hatinya. Kehadiran fisik dan emosional orang tua di tengah keluarga merupakan kunci utama terbangunnya komunikasi yang sehat.

Karakter, adab, dan ketakwaan anak sesungguhnya tumbuh dari apa yang mereka lihat dan rasakan secara langsung sehari-hari dari orang tuanya. Kedisiplinan dalam beribadah, kebiasaan membaca Al-Qur’an, serta kelembutan tutur kata orang tua akan terserap menjadi teladan yang menancap kuat pada jiwa anak. Pendidikan karakter yang paling efektif berpangkal dari keteladanan nyata, bukan sekadar instruksi lisan.

Khatib turut mengutip salah satu riwayat hadis yang menekankan betapa besarnya nilai meluangkan waktu bersama anak. Duduk berdampingan dengan anak untuk mengajarkan adab, etika, dan nilai-nilai kebaikan memiliki keutamaan yang sangat tinggi di sisi Allah, bahkan melebihi keutamaan berinfak dan bersedekah. Pengajaran adab sejak dini merupakan investasi spiritual terpenting bagi masa depan anak.

Keberhasilan sejati seorang kepala rumah tangga terpancar saat ia mampu menjadi penuntun (qawwam) yang dihormati dan dirindukan oleh keluarganya. Sosok ayah yang bijaksana serta ibu yang salehah akan menjadi benteng pertahanan utama bagi anak-anak dalam menghadapi derasnya arus zaman dan dinamika pergaulan luar yang makin kompleks.

Sumber: Khutbah Jumat yang disampaikan oleh Ustadz Muhammad Sholeh Drehem, Lc., M.Ag. di Masjid Manarul Ilmi ITS Surabaya pada 31 Juli 2026

E-Buletin