Mengagungkan Shalat, Bukan Sekadar Menggugurkan Kewajiban

Drs. H. M. Taufiq AB
Drs. H. M. Taufiq AB

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Bagi seorang Muslim, shalat adalah tiang agama yang ditegakkan lima kali sehari. Namun, seringkali rutinitas ini terjebak dalam formalitas gerakan dan bacaan tanpa disertai penghayatan yang mendalam. Banyak yang baru sebatas “melaksanakan” shalat agar terhindar dari dosa, tetapi belum sampai pada level “mengagungkan” ibadah yang menjadi dialog langsung antara hamba dan Sang Pencipta tersebut.

Nuansa reflektif inilah yang mengemuka dalam khutbah Jumat yang disampaikan oleh Drs. H. M. Taufiq AB pada 26 Juni 2026 di Masjid Al Akbar Surabaya. Dalam uraiannya, beliau menekankan bahwa esensi ibadah shalat jauh melampaui rutinitas fisik, melainkan sebuah bentuk pengagungan spiritual yang seharusnya mengubah perilaku dan orientasi hidup seorang mukmin secara menyeluruh.

Khatib membuka khutbahnya dengan mengingatkan jamaah akan perintah mendirikan shalat yang bertebaran di dalam Al-Qur’an. Beliau menggarisbawahi bahwa kata yang digunakan seringkali adalah aqimi (dirikanlah), bukan sekadar af’alu (kerjakanlah). Perbedaan diksi ini mengandung konsekuensi logis yang besar: mendirikan shalat menuntut kesiapan hati, ketundukan jiwa, dan kesinambungan dampak ibadah tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Fenomena yang terjadi saat ini, menurut Drs. H. M. Taufiq AB, adalah banyaknya orang yang shalat namun tetap tidak mampu membendung perbuatan keji dan munkar dalam dirinya. Hal ini menjadi paradoks yang nyata di tengah masyarakat. Beliau menjelaskan bahwa kondisi tersebut terjadi karena shalat yang dilakukan belum menyentuh level mengagungkan Allah, melainkan baru sebatas menggugurkan kewajiban syariat agar lepas dari beban hukum.

Lebih lanjut, khatib menjelaskan bahwa mengagungkan shalat dimulai sejak seseorang mendengar kumandang adzan. Ketika panggilan suci itu bergema, seorang mukmin yang mengagungkan shalatnya akan segera menepikan segala urusan duniawi. Mereka menyadari bahwa menghadap Penguasa Semesta Alam jauh lebih mendesak dan mulia ketimbang mengejar urusan transaksional yang sifatnya sementara.

Aspek krusial berikutnya yang disoroti adalah persiapan fisik dan mental sebelum takbiratul ihram. Kesempurnaan wudhu, kerapian pakaian, dan kekhusyukan niat menjadi indikator utama seberapa besar seseorang menghargai shalatnya. Ketika seseorang menghadap tokoh penting dunia saja mengenakan pakaian terbaik, sudah sepatutnya ia tampil jauh lebih rapi dan bersih saat menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Saat shalat dimulai, dimensi pengagungan itu termanifestasi dalam setiap gerakan dan bacaan. Khatib mengingatkan agar jamaah tidak terburu-buru dalam menuntaskan shalat. Setiap tumakninah—baik saat ruku’, iktidal, maupun sujud—merupakan ruang jeda spiritual yang krusial untuk meresapi keagungan Allah dan menyadari betapa kecilnya diri manusia di hadapan-Nya.

Dalam konteks sosial, Drs. H. M. Taufiq AB menegaskan bahwa shalat yang diagungkan akan melahirkan kesalehan sosial. Energi positif yang didapatkan dari kekhusyukan shalat akan terbawa ke luar masjid. Seorang yang mengagungkan shalatnya pasti akan menjaga lisannya dari menyakiti orang lain, menjaga tangannya dari kezaliman, dan menjaga hatinya dari penyakit sombong serta iri dengki.

Beliau juga mengingatkan bahwa shalat adalah amalan pertama yang akan dihisab di akhirat kelak. Jika shalat seseorang baik dan diterima karena didasari atas rasa pengagungan, maka amalan-amalan lainnya akan cenderung dinilai baik. Sebaliknya, jika shalatnya rusak dan dilakukan dengan asal-asalan, maka amalan kebajikan yang lain pun terancam tidak bernilai di hadapan Allah.

Oleh karena itu, khatib mengajak seluruh jamaah untuk melakukan evaluasi total (muhasabah) terhadap kualitas shalat yang telah dilakukan selama ini. Sudah berapa banyak shalat yang kita kerjakan dengan hati yang melayang memikirkan dunia? Sudah berapa sering kita menunda-nunda waktu shalat hanya karena urusan pekerjaan yang tidak ada habisnya? Pertanyaan-pertanyaan reflektif ini harus dijawab dengan perbaikan nyata.

Menjelang akhir khutbah, beliau memberikan kiat-kiat praktis agar bisa naik kelas dari sekadar melaksanakan menjadi mengagungkan shalat. Di antaranya adalah dengan mempelajari makna dari setiap bacaan shalat, mengondisikan hati beberapa menit sebelum waktu shalat tiba, serta senantiasa berdoa memohon agar dianugerahi kenikmatan dalam beribadah dan kekhusyukan yang konsisten.

Sebagai penutup, khutbah ini diakhiri dengan harapan agar momentum ibadah Jumat dan shalat-shalat fardhu berikutnya dapat bertransformasi menjadi sarana komunikasi spiritual yang berkualitas. Dengan mengagungkan shalat, seorang Muslim tidak hanya meraih ketenangan batin di dunia, tetapi juga membangun benteng keselamatan yang kokoh untuk kehidupan di akhirat kelak.

Sumber: Khutbah Jumat berjudul “Mengagungkan Sholat Bukan Hanya Melaksanakan” yang disampaikan oleh Drs. H. M. Taufiq AB di Masjid Al Akbar Surabaya,  pada Jum’at 26 Juni 2026.

E-Buletin