Kabarmasjid.id, Surabaya – Kesibukan duniawi sering kali membuat manusia abai terhadap kesehatan spiritualnya, padahal hati adalah muara dari segala tingkah laku. Pada pelaksanaan salat Jumat tanggal 1 Mei 2026 yang bertempat di Masjid Raudhatul Musyawarah (Kemayoran) Surabaya, Hadratul Mukarom KH Muhammad Abdul Bari hadir sebagai khatib untuk memberikan peringatan penting bagi jemaah mengenai bahaya rusaknya hati di era modern ini.
Mengawali khutbahnya, Kiai Abdul Bari menekankan bahwa kesehatan hati adalah kunci utama dalam menjalankan pengabdian kepada Allah SWT. Beliau mengutip wasiat dari ulama besar tabiin, Imam Hasan al-Basri, yang merumuskan enam perkara utama yang menjadi penyebab rusaknya hati manusia. Enam poin ini menjadi cermin bagi setiap muslim untuk melihat sejauh mana kualitas iman dan tindakannya dalam kehidupan sehari-hari yang sering kali penuh dengan godaan duniawi.
Perkara pertama yang disoroti adalah kebiasaan manusia yang melakukan dosa namun terus menunda-nunda taubatnya. Banyak orang merasa aman dalam kemaksiatan karena menganggap Allah Maha Pengampun, sehingga mereka meremehkan waktu yang terus berjalan. Padahal, menurut khatib, ajal tidak pernah menunggu kesiapan seseorang untuk bertaubat, dan menunda kembali ke jalan Allah adalah bentuk kelalaian yang bisa berujung pada kerugian abadi di akhirat kelak.
Poin kedua yang merusak hati adalah kepemilikan ilmu, khususnya ilmu agama, namun tidak diiringi dengan pengamalan yang nyata. Kiai Abdul Bari mengingatkan jemaah bahwa ilmu tanpa amal bagaikan pohon yang tidak berbuah, atau bahkan lebih buruk, seperti seekor khimar yang memikul tumpukan kitab di punggungnya. Ilmu seharusnya menjadi cahaya yang menuntun perilaku, bukan sekadar menjadi hiasan lisan atau status sosial yang tidak memberi manfaat spiritual bagi pemiliknya.
Selanjutnya, khatib memaparkan perkara ketiga, yakni beramal namun tidak dilandasi dengan keikhlasan. Di tengah tren pencitraan saat ini, banyak orang yang terjebak dalam jebakan riya, di mana amal kebaikan dilakukan hanya untuk mendapatkan pujian atau pengakuan dari sesama manusia. Kerusakan hati terjadi ketika niat ibadah telah bergeser dari mencari keridaan Allah menjadi mencari apresiasi duniawi yang semu dan tidak bernilai di hadapan Sang Pencipta.
Keempat, rusaknya hati disebabkan oleh sikap manusia yang terus menikmati rezeki dari Allah namun lupa untuk bersyukur. Syukur seharusnya menjadi napas setiap hamba, mulai dari bangun tidur hingga kembali terlelap, namun sering kali manusia hanya melihat apa yang tidak mereka miliki daripada mensyukuri apa yang ada. Kufur nikmat ini membuat hati menjadi keras dan selalu merasa kurang, sehingga ketenangan batin pun mustahil untuk diraih.
Perkara kelima adalah ketidakmampuan manusia untuk rida terhadap pembagian atau ketetapan yang telah digariskan oleh Allah SWT. Banyak individu yang menghabiskan energinya untuk merasa iri pada keberuntungan orang lain atau menyesali nasibnya sendiri tanpa ada rasa qanaah. Ketidakhadiran rasa rida ini membuat hati selalu gelisah dan jauh dari kedamaian, karena ia terus melawan kehendak Tuhan yang sebenarnya mengandung hikmah bagi setiap hambanya.
Poin terakhir dari wasiat Imam Hasan al-Basri adalah kebiasaan mengantarkan jenazah ke liang lahat namun tidak mengambil pelajaran (ibrah) darinya. Sering kali kematian orang lain dianggap sebagai kejadian biasa yang tidak ada hubungannya dengan diri kita sendiri. Padahal, melihat pemakaman seharusnya menjadi pengingat paling tajam bahwa dunia ini hanyalah persinggahan sementara dan setiap saat Izrail bisa datang menjemput nyawa kita tanpa aba-aba.
Dalam khutbahnya, Kiai Abdul Bari juga sempat menyinggung situasi sosial di mana ada sebagian masyarakat yang mungkin memilih berunjuk rasa namun melalaikan salat Jumat. Beliau menegaskan bahwa meskipun Islam tidak melarang penyampaian aspirasi, kewajiban ibadah kepada Allah tidak boleh dikalahkan oleh urusan duniawi apa pun. Keseimbangan antara tanggung jawab sosial dan ketaatan spiritual harus tetap dijaga agar hidup tetap berada dalam koridor keberkahan.
Beliau juga mengingatkan bahwa rata-rata umur manusia saat ini sangat terbatas, hanya berkisar antara 60 hingga 70 tahun bagi mayoritas penduduk Indonesia. Dengan waktu yang sesingkat itu, sangat tidak bijaksana jika seseorang menghabiskan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar materi tanpa mempedulikan kondisi hatinya. Kematian yang datang tanpa mengenal umur seharusnya menjadi pemacu bagi kita untuk terus berbenah dan memperbaiki diri setiap waktu.

Sebelum mengakhiri khutbah, khatib mengajak jemaah untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri secara mendalam atas enam perkara perusak hati tersebut. Beliau mendoakan agar Allah senantiasa memberikan kekuatan kepada seluruh umat untuk bisa menjaga hati dari noda-noda dosa dan kelalaian. Harapannya, setiap langkah yang kita ambil di dunia ini selalu berorientasi pada persiapan menuju akhirat yang kekal dengan hati yang bersih.
Sumber: khutbah Jumat di Masjid Raudhatul Musyawarah (Kemayoran) Surabaya pada 1 Mei 2026 yang disampaikan oleh KH Muhammad Abdul Bari dengan tema “Enam Perkara Penyebab Rusaknya Hati”