Menata Hati di Hari Jumat: Mengapa Kejujuran Lebih Berharga daripada Materi?

KH. M. Alauddin, Lc, MM
KH. M. Alauddin, Lc, MM

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Dunia yang bergerak begitu cepat seringkali membuat kita terlena dan kehilangan arah spiritual. Di tengah kesibukan harian, ibadah Jumat hadir sebagai oase untuk menyegarkan kembali iman dan memperkuat komitmen kita sebagai hamba Allah. Pesan-pesan yang disampaikan dari atas mimbar bukan sekadar rutinitas, melainkan pengingat tajam tentang hakikat kehidupan yang fana.

Khutbah ini berlangsung pada hari Jumat, 17 April 2026, bertempat di Masjid Roudhotul Musyawarah (Kemayoran) Surabaya, sebuah rumah ibadah bersejarah yang menjadi saksi bisu perkembangan syiar Islam di Kota Pahlawan Khutbah tersebut disampaikan dengan sangat khidmat oleh KH. M. Alauddin, Lc, MM, yang memberikan uraian mendalam mengenai pentingnya integritas spiritual dan konsistensi dalam menjaga ketakwaan di era modern yang penuh tantangan.

Dalam pembukaan khutbahnya, khatib menekankan bahwa takwa adalah sebaik-baik bekal bagi setiap Muslim dalam mengarungi kehidupan. Takwa bukan hanya sekadar menjalankan ritual formal keagamaan, melainkan sebuah kesadaran batin yang mendalam yang membuat seseorang senantiasa merasa diawasi oleh Sang Pencipta dalam setiap tarikan napas dan langkah kakinya, baik saat sendiri maupun di tengah keramaian.

KH. M. Alauddin menguraikan bahwa tantangan terbesar umat saat ini seringkali datang dari dalam diri sendiri, yakni penyakit hati yang merusak seperti sombong, iri, dan dengki. Penyakit-penyakit inilah yang sering menjadi penghalang utama bagi masuknya hidayah dan keberkahan ke dalam hidup seseorang, sehingga proses pembersihan jiwa melalui zikir dan muhasabah harus dilakukan secara berkelanjutan.

Beliau juga menyoroti fenomena sosial di mana nilai-nilai kejujuran dan amanah mulai terkikis oleh syahwat kekuasaan serta materi. Di hadapan jamaah yang memadati ruang utama masjid, khatib mengingatkan dengan tegas bahwa harta yang berlimpah tidak akan pernah membawa ketenangan sejati jika didapatkan dengan cara-cara yang tidak diridhai oleh Allah SWT.

Lebih lanjut, ditekankan pula pentingnya menjaga harmoni dalam hubungan antar sesama manusia atau hablun minannas. Islam tidak hanya mengajarkan kesalehan pribadi di dalam masjid, tetapi juga menuntut penganutnya untuk menjadi rahmat bagi lingkungan sekitar dengan cara memberikan manfaat, membantu yang lemah, serta menjadi solusi atas berbagai problematika sosial yang ada.

Khatib kemudian mengajak jamaah untuk meneladani sifat para ulama dan orang-orang saleh terdahulu yang tetap menjaga kerendahan hati meskipun memiliki kedalaman ilmu dan kedudukan yang tinggi. Kerendahan hati inilah yang menjadi kunci bagi seorang Muslim untuk dapat terus membuka diri terhadap kebenaran dan terus memperbaiki kualitas dirinya tanpa merasa lebih mulia dari orang lain.

Pesan tentang urgensi waktu juga menjadi poin sentral dalam ceramahnya kali ini. Beliau mengingatkan bahwa waktu yang telah berlalu adalah aset yang tidak akan pernah bisa kembali, sehingga setiap detik yang dimiliki seharusnya diinvestasikan untuk menabung amal jariyah yang manfaatnya akan terus mengalir bahkan setelah seseorang meninggalkan dunia ini.

Selain itu, KH. M. Alauddin mengingatkan peran penting para orang tua untuk menjadi teladan nyata bagi anak-anak mereka di rumah. Pendidikan karakter dan penanaman nilai agama yang paling efektif bukanlah melalui lisan atau teori semata, melainkan melalui contoh konkret dalam perilaku sehari-hari, mulai dari kedisiplinan ibadah hingga kejujuran dalam berkata-kata.

Di tengah arus informasi digital yang begitu masif dan seringkali membingungkan, khatib berpesan agar umat Islam memiliki filter yang kuat dalam menyaring setiap kabar. Jangan sampai perangkat teknologi yang kita miliki justru menjadi sarana untuk menyebarkan fitnah atau adu domba yang dapat merusak tali persaudaraan sesama Muslim yang seharusnya terjaga dengan erat.

Mendekati akhir khutbah, suasana masjid terasa semakin hening saat khatib mengajak jamaah untuk merenungkan akhir hayat yang bisa datang kapan saja. Kematian adalah sebuah kepastian yang tidak memandang usia atau jabatan, sehingga mempersiapkan diri dengan amal saleh harus selalu menjadi prioritas di atas ambisi duniawi yang seringkali bersifat menipu.

Penekanan KH. M. Alauddin, Lc, MM pada aspek ketakwaan dan kebersihan hati menjadi sinyal kuat bahwa di tengah modernitas kota, integritas moral tetaplah modal utama yang tak tergantikan. Dengan menginternalisasi nilai-nilai tersebut, kita diharapkan mampu bertransformasi menjadi pribadi yang tidak hanya saleh secara ritual di dalam masjid, tetapi juga menebar manfaat dan kedamaian di tengah masyarakat. Pada akhirnya, semoga setiap langkah yang kita pijakkan setelah meninggalkan rumah ibadah ini senantiasa dibimbing oleh hidayah Allah SWT menuju akhir hayat yang husnul khatimah.

Sumber: Khutbah Jumat Masjid Roudhotul Musyawarah (Kemayoran) Surabaya pada 17 April 2026 dengan Khatib KH. M. Syukron Djazilan mengambil tema ”Urgensi Tirakat”

E-Buletin