Kabarmasjid.id, Malang – Di tengah dunia yang sedang tidak baik-baik saja, umat Islam seringkali dihadapkan pada kebingungan akibat banyaknya narasi yang saling bertabrakan. Menanggapi fenomena ini, Masjid Agung Jami Malang menyelenggarakan ibadah salat Jumat pada 10 April 2026 dengan menghadirkan Ustadz H. Musyaffa’ Asady sebagai khatib yang mengupas tuntas mengenai pentingnya mencari sosok pembimbing spiritual yang tepat.
Dunia saat ini sedang mengalami krisis multidimensi yang dampaknya terasa hingga ke pelosok negeri, mulai dari persoalan ekonomi, sosial, hingga politik. Arus globalisasi membuat setiap peristiwa di belahan dunia lain bisa memengaruhi kehidupan kita secara langsung, yang seringkali memicu rasa cemas dan keluh kesah yang berlebihan di tengah masyarakat.
Dalam khutbahnya, Ustadz Musyaffa’ mengingatkan bahwa ujian dan musibah adalah keniscayaan bagi setiap manusia yang hidup. Namun, seorang mukmin sejati dituntut untuk tetap bersyukur selama nikmat iman dan Islam masih melekat di dada, serta menghadapi setiap persoalan dengan kacamata muhasabah dan kesabaran yang tinggi.
Agar tidak tersesat dalam menghadapi badai kehidupan, umat diperintahkan untuk selalu berpegang teguh pada warisan Rasulullah SAW, yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah. Namun, memahami kedua pusaka tersebut tidaklah mungkin dilakukan sendirian tanpa bimbingan dari para ulama yang merupakan pewaris sah para Nabi dan pemegang amanah para Rasul.
Sayangnya, muncul fenomena di mana perbedaan pendapat antar ulama justru dibesar-besarkan oleh pihak tertentu hingga menciptakan kesan konflik yang tidak berkesudahan. Akibatnya, banyak umat yang merasa bingung dan mulai menjauh dari ulama, padahal menjauhkan umat dari pembimbing agama adalah tujuan utama dari pihak-pihak yang ingin merusak akidah.
Ustadz Musyaffa’ kemudian memaparkan kriteria penting dari Rasulullah SAW mengenai sosok orang alim yang layak diikuti. Beliau menekankan bahwa tidak semua orang yang berlabel alim atau memiliki pengikut banyak bisa dijadikan panutan, melainkan mereka yang mampu membawa umat dari lima kondisi negatif menuju lima kondisi positif.
Kriteria pertama adalah ulama yang mampu membawa umat dari keraguan menuju keyakinan (minasy-syak ilal yaqin). Seorang guru yang benar akan memantapkan hati muridnya dengan ajaran yang selaras dengan para ulama salaf, bukan justru membawa pemikiran aneh atau “nyeleneh” yang semakin membingungkan masyarakat.
Kedua, sosok pembimbing tersebut harus mampu mengarahkan umat dari kesombongan menuju ketawaduan (minal kibr ilat-tawadhu). Ulama yang sejati tidak akan mengajarkan pengikutnya untuk merendahkan atau mencaci maki saudara seiman, karena merasa pendapat kelompoknya adalah yang paling benar di dunia.
Kriteria ketiga adalah kemampuan membawa umat dari benih permusuhan menuju persaudaraan dan saling menasihati (minal adawah ilan-nasihah). Di tengah panasnya suhu organisasi atau politik, ulama harus menjadi pendingin yang mengajak pada persatuan, bukan justru mengkampanyekan kebencian yang hanya akan menyenangkan setan.
Selanjutnya, kriteria keempat adalah ulama yang mendidik umat untuk berpindah dari sifat riya menuju keikhlasan (minar-riya ilal ikhlas). Segala amal ibadah yang dilakukan haruslah diarahkan semata-mata untuk meraih rida Allah SWT, bukan demi popularitas pribadi, pengakuan kelompok, atau sekadar mencari pengaruh di mata manusia.
Kriteria kelima dan terakhir adalah sosok yang mampu mengubah orientasi umat dari cinta dunia yang berlebihan menuju cinta akhirat (minar-rahbah ilaz-zuhdi). Pembimbing tersebut akan selalu mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara, sehingga setiap aktivitas harus berorientasi pada kemaslahatan di hari akhir nanti.

Di akhir khutbah, ditekankan bahwa keberadaan ulama yang lurus sangat krusial karena mereka adalah salah satu pemberi syafaat di hari kiamat selain para Nabi dan syuhada. Dekat dengan ulama yang memenuhi kriteria tersebut akan memastikan kita tetap memiliki sandaran iman meskipun problematika kehidupan menerjang dari berbagai arah.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan hidayah kepada para ulama dan pemimpin bangsa agar dapat bersinergi menyelesaikan berbagai permasalahan umat. Dengan bimbingan yang tepat, kita berharap Indonesia dapat melangkah menjadi bangsa yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, sebuah negeri yang baik dan penuh ampunan Tuhan.
Sumber: Khutbah Jum’at Masjid Agung Jami Malang 10 April 2026 yang disampaikan oleh Ustadz H. Musyaffa’ Asady.