Membangun Akhlak Melalui Iman: Strategi Perubahan Diri di Tahun Baru 2026.

K.H. Fathul Qadir, M.H.I.
K.H. Fathul Qadir, M.H.I.

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya  – Pergantian tahun sering kali hanya dirayakan dengan kemeriahan kembang api dan seremoni sesaat. Namun, di balik hiruk-pikuk pergantian kalender Masehi, terdapat makna mendalam tentang berkurangnya jatah usia dan pentingnya melakukan evaluasi diri secara spiritual agar tidak menjadi golongan yang merugi.

Kajian mendalam mengenai urgensi muhasabah ini disampaikan dalam khutbah Jum’at 2 Januari 2026 di Masjid Raudhatul Musyawarah Kemayoran, Surabaya. Bertindak sebagai khatib dan imam adalah Hadratul Mukaram K.H. Fathul Qadir, M.H.I., yang membedah bagaimana seharusnya seorang muslim menyikapi waktu dan perubahan zaman dengan kacamata iman.

Dalam pembukaannya, khatib menekankan bahwa meskipun tahun baru Masehi bukan merupakan tradisi asli Islam, momen ini tetap bisa dimanfaatkan sebagai fondasi untuk melakukan perubahan besar. Waktu yang terus berjalan adalah pengingat bahwa ajal semakin dekat, sehingga setiap detik yang terlewati di tahun sebelumnya harus dipertanggungjawabkan.

Khatib mengutip sebuah maqolah yang sering dinisbatkan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengenai tiga kategori manusia dalam menghadapi waktu. Kategori pertama adalah orang yang beruntung, yaitu mereka yang kualitas amal dan kehidupannya di hari ini jauh lebih baik daripada hari kemarin.

Kategori kedua adalah orang yang merugi, yakni mereka yang kualitas dirinya stagnan atau sama saja dengan hari kemarin. Sementara kategori ketiga yang paling mengkhawatirkan adalah orang yang terlaknat, yaitu mereka yang kualitas moral dan imannya justru lebih buruk dibandingkan masa lalunya.

Fenomena masyarakat dalam menghadapi momen besar juga dipetakan menjadi tiga kelompok. Ada kelompok yang acuh tak acuh dan menganggap waktu hanya rutinitas tanpa makna, ada yang ingin berubah namun tahu arahnya, serta ada kelompok yang ingin berubah tetapi bingung harus memulai dari mana.

Khatib menegaskan bahwa titik tolak perubahan yang paling utama bukanlah sekadar pada kecerdasan intelektual atau keterampilan teknis semata. Sejarah membuktikan bahwa banyak kerusakan alam dan sosial, seperti yang terjadi di Sumatera dan Aceh, justru sering kali melibatkan tangan-tangan orang yang terpelajar namun minim integritas.

Oleh karena itu, fondasi utama dalam melakukan perubahan hidup adalah penguatan iman (Al-imanu billah). Iman bukan hanya sekadar keyakinan dalam hati, tetapi harus diimplementasikan melalui perbuatan nyata dengan seluruh anggota tubuh sebagai bukti ketundukan kepada Sang Pencipta.

Iman yang kuat secara otomatis akan melahirkan akhlak yang mulia. Dalam kajian ini, akhlak didefinisikan sebagai kondisi jiwa yang telah tertanam kuat sehingga melahirkan perilaku spontan tanpa perlu berpikir panjang. Jika iman seseorang kokoh, maka ia akan refleks melakukan kebaikan dan menolak kemungkaran.

Sebaliknya, ketika seseorang mudah tergiur melakukan kecurangan atau korupsi, hal itu menjadi indikator bahwa imannya sedang dalam kondisi tipis. Iman bersifat dinamis, bisa naik dan bisa turun, sehingga diperlukan upaya berkelanjutan seperti mengaji dan mendekatkan diri kepada Allah untuk menjaga stabilitasnya.

Masjid Raudhatul Musyawarah Kemayoran sendiri menunjukkan implementasi iman melalui tindakan sosial yang nyata. Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini menyediakan layanan cuci motor gratis bagi jamaah dan program penukaran minyak jelantah untuk mendorong kesejahteraan serta kebersihan lingkungan jamaah.

Dengan memperkuat iman di tingkat personal, diharapkan akan muncul aura positif yang menular ke lingkungan keluarga, masyarakat, hingga bangsa. Perubahan kolektif yang berlandaskan syariat dan Al-Qur’an akan membawa sebuah bangsa menuju kondisi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur—negeri yang aman dan penuh ampunan.

Sebagai penutup, momen tahun baru ini harus menjadi momentum titik balik bagi setiap individu untuk membenahi niat dan amal. Pulang dari masjid atau setelah menyimak kajian ini, setiap muslim diharapkan memiliki semangat baru untuk meningkatkan kualitas iman agar kehidupan di masa depan menjadi jauh lebih berkah dan bermanfaat.

Sumber: Khutbah Jum’at Masjid Raudhatul Musyawarah Kemayoran, Surabaya oleh K.H. Fathul Qadir, M.H.I.

E-Buletin