Memantik Api Hijrah: Menolak Stagnasi Spiritual di Bulan Muharram

Dr. KH. Muhammad Najib M.
Dr. KH. Muhammad Najib M.

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Seringkali kita melewati pergantian tahun hijriah hanya sebatas seremonial kalender tanpa perenungan yang mendalam. Padahal, setiap kali bulan Muharram tiba, ada getaran spiritual besar yang seharusnya mampu menggerakkan kesadaran umat untuk bangkit dari berbagai ketertinggalan dan stagnasi spiritual. Di tengah dinamika zaman yang kian kompleks, esensi hijrah perlu dikontekstualisasikan kembali bukan sekadar sebagai romatika sejarah masa lalu, melainkan sebagai manifesto gerakan perubahan yang kontekstual dan berkelanjutan untuk masa kini.

Pesan substansial inilah yang menggema kuat dalam khutbah Jumat yang khidmat pada tanggal 12 Juni 2026 di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya. Bertindak sebagai khatib, Dr. KH. Muhammad Najib M. menyampaikan khutbah bertajuk “Muharram Bulan Kebangkitan”. Di hadapan ribuan jamaah yang memadati ruang utama masjid, beliau menguraikan secara bernas bagaimana momentum bulan suci ini harus ditransformasikan menjadi energi kolektif untuk membangkitkan harkat, martabat, dan spiritualitas umat Muslim di era modern.

Dalam awal khutbahnya, KH. Muhammad Najib menegaskan bahwa Muharram secara historis dan teologis memuat nilai-nilai perjuangan yang sangat tinggi. Bulan ini bukan sekadar penanda angka tahun yang baru, melainkan sebuah gerbang pembuka yang melambangkan optimisme. Beliau mengingatkan jamaah agar tidak terjebak dalam rutinitas ibadah yang kering, melainkan harus mampu menangkap “api” atau semangat dari peristiwa-peristiwa besar yang melatari kemuliaan bulan Muharram itu sendiri.

Lebih lanjut, khatib menekankan bahwa kata “kebangkitan” yang disematkan pada bulan Muharram harus dimaknai secara multidimensional. Kebangkitan tidak boleh hanya diartikan secara fisik atau material semata, melainkan harus dimulai dari kebangkitan kesadaran berpikir (fikrah) dan kejernihan hati (qalbiyah). Tanpa adanya transformasi internal dalam diri setiap individu Muslim, maka perubahan sosial yang dicita-citakan menuju kemajuan umat hanya akan menjadi utopia belaka.

Mengacu pada esensi hijrah Rasulullah SAW yang menjadi fondasi penanggalan Hijriah, KH. Muhammad Najib menjelaskan bahwa hijrah adalah cetak biru (blueprint) dari sebuah perubahan sistemik. Nabi Muhammad SAW tidak hanya berpindah tempat dari Makkah ke Madinah, tetapi sedang membangun tatanan peradaban baru yang lebih adil, inklusif, dan beradab. Oleh karena itu, umat Islam hari ini dituntut untuk melakukan “hijrah kontemporer” dengan meninggalkan segala bentuk kemalasan, kebodohan, dan egoisme.

Khatib juga menyoroti realitas umat hari ini yang masih sering mengalami polarisasi dan disintegrasi sosial. Dalam konteks inilah, Muharram hadir sebagai momentum resolusi konflik dan konsolidasi saf. Kebangkitan umat hanya bisa diraih jika ada rasa persatuan yang kokoh, saling menopang, dan mengesampingkan perbedaan-perbedaan kecil demi kemaslahatan yang lebih besar. Semangat persaudaraan kaum Muhajirin dan Ansar di Madinah harus dihidupkan kembali dalam ruang sosial kita saat ini.

Di samping dimensi sosial, khutbah tersebut juga menyentuh aspek penguatan ekonomi dan literasi umat. KH. Muhammad Najib mengindikasikan bahwa kebangkitan yang hakiki harus didukung oleh kemandirian tatanan kehidupan. Umat Islam tidak boleh menjadi penonton di negerinya sendiri; sebaliknya, harus aktif mengambil peran strategis dalam berbagai lini kehidupan, mulai dari sektor pemikiran, kebudayaan, hingga pemberdayaan ekonomi yang berbasis pada nilai-nilai keadilan dan keberkahan.

Menariknya, beliau juga menyelipkan pesan penting bagi generasi muda yang hidup di era digital-first saat ini. Tantangan zaman baru menuntut respons yang baru pula. Generasi masa kini harus mampu mengawinkan antara kedalaman spiritualitas tradisi dengan penguasaan teknologi mutakhir. Kebangkitan di bulan Muharram bagi generasi kontemporer berarti kemauan untuk memproduksi narasi-narasi positif, kreatif, dan solutif di ruang publik digital, bukan justru memperkeruh suasana dengan hoaks atau perdebatan yang sia-sia.

Secara metodologis, khatib memberikan panduan praktis tentang bagaimana memulai langkah kebangkitan ini. Langkah pertama dan utama adalah melakukan muhasabah atau evaluasi total terhadap apa yang telah dilakukan di masa lalu. Dengan melihat kekurangan di masa lalu secara objektif, kita dapat menyusun strategi dan langkah yang lebih presisi untuk menghadapi hari ini dan masa depan. Evaluasi ini mencakup aspek ibadah ritual maupun dampak sosial dari ibadah tersebut.

Selanjutnya, hasil dari evaluasi tersebut harus segera diaktualisasikan dalam bentuk aksi nyata (amal saleh) yang berdampak luas. KH. Muhammad Najib mengingatkan bahwa iman yang kuat selalu berbanding lurus dengan komitmen sosial yang tinggi. Bulan Muharram ini menjadi waktu yang paling tepat untuk menggalang aksi-aksi kemanusiaan, membantu sesama yang membutuhkan, serta memperkuat jejaring kebaikan di lingkungan terkecil kita masing-masing.

Mendekati akhir khutbah, suasana Masjid Al-Akbar terasa kian hening dan khusyuk saat khatib mengajak jamaah untuk merenungkan kembali tujuan akhir dari kehidupan ini. Segala bentuk kebangkitan di dunia, baik itu pencapaian intelektual, materi, maupun sosial, pada hakikatnya adalah bekal untuk menuju kebangkitan yang sejati di akhirat kelak. Kesadaran eskatologis inilah yang menjadi jangkar agar manusia tidak tersesat dan tetap rendah hati dalam melakukan proses perbaikan diri.

Sebagai penutup, KH. Muhammad Najib mengingatkan kita semua bahwa, Muharram 2026 ini harus menjadi titik balik yang tegas untuk keluar dari zona nyaman spiritual. Dengan membawa semangat kebangkitan dari masjid ke ruang-ruang publik, umat Islam diharapkan mampu tampil sebagai pelopor kemajuan yang membawa rahmat bagi seluruh alam, selaras dengan esensi suci bulan Muharram itu sendiri.

Sumber: Khutbah Jumat berjudul “Muharram Bulan Kebangkitan” yang disampaikan oleh Dr. KH. Muhammad Najib di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya pada Jum’at 12 Juni 2026

E-Buletin