KabarMajid.id, Surabaya – Khutbah Jumat pada tanggal 5 Desember 2025 di ruang utama Masjid Nasional Al Akbar Surabaya yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. A. Muhibbin Zuhri, M.Ag, mengajak umat Islam merenungkan kembali esensi keimanan. Dalam ceramahnya yang bertajuk “Karakter Ideal Seorang Muslim,” beliau menekankan bahwa identitas Islam tidak hanya berhenti pada formalitas pengakuan, melainkan harus terwujud dalam akhlak dan perilaku sehari-hari.
Prof. Muhibbin Zuhri menjelaskan bahwa karakter sejati seorang Muslim lahir dari keimanan yang hidup, bukan sekadar lisan. Mengutip Surah Al-Anfal ayat 2, beliau menyebutkan ciri orang beriman sejati: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka.” Getaran ini adalah pertanda bahwa keimanan telah mengakar kuat di dalam jiwa.
Karakter terkuat dari seorang Muslim adalah Akhlaqul Karimah atau akhlak yang mulia. Ini bukanlah hal sekunder, melainkan misi utama diutusnya Rasulullah SAW. Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan semulia-mulianya akhlak.” Oleh karena itu, menampilkan akhlak yang mulia—seperti amanah, sopan, rendah hati, dan penuh kasih—adalah wajib bagi setiap Muslim.
Menurut Imam Ghazali dan definisi yang disampaikan dalam khutbah, akhlak adalah suatu kondisi jiwa yang murni, yang dari sanalah lahir perbuatan-perbuatan baik secara mudah, tanpa perlu pertimbangan panjang. Akhlak yang baik merupakan karakter yang kuat dan autentik, bukan sekadar tindakan artifisial yang dibuat-buat.
Untuk membentuk karakter yang kuat dan akhlak mulia, diperlukan proses pendidikan diri yang tidak hanya mengasah intelektual, tetapi juga menyentuh ranah afektif dan psikomotorik. Pembentukan karakter ini memerlukan latihan, pembiasaan, serta suri tauladan yang baik dalam sebuah sistem pendidikan Islami.
Karakter ideal berikutnya adalah kemampuan menjaga lisan. Lisan adalah anggota tubuh krusial yang dapat mendeteksi keimanan seseorang, dan darinya bisa muncul kebaikan maupun pertengkaran. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” Dalam Islam, hanya ada dua opsi untuk lisan: fungsikan untuk kebaikan, atau lebih baik diam.
Prof. Muhibbin Zuhri mengingatkan bahwa dalam konteks hari ini, apa yang keluar dari lisan juga diwakili oleh “ujung jemari” kita melalui teknologi digital, seperti media sosial. Apa yang kita ucapkan atau ketik adalah cerminan dari apa yang kita pikirkan, dan akumulasi dari sikap itu membentuk karakter kita. Oleh karena itu, Muslim harus berhati-hati agar lisan dan jemarinya hanya melahirkan kata-kata serta tulisan yang baik.
Seorang Muslim juga harus menjadi pribadi yang tawadu atau rendah hati. Karakter ini merupakan ciri dari Ibadurrahman (hamba-hamba Allah Yang Maha Kasih), yaitu orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Furqan ayat 63.
Rendah hati bukanlah bentuk kelemahan, melainkan kunci untuk mendapatkan kemuliaan. Mengutip perkataan Imam Syafi’i, “Siapa yang rendah hati akan diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Sikap tawadu ini akan menghindarkan seorang Muslim dari kesombongan dan meninggikan derajatnya di mata sesama dan di sisi Allah.
Karakter esensial lainnya adalah rahmah atau kasih sayang yang sangat besar kepada sesama. Nabi SAW bersabda, “Tidaklah beriman salah satu di antara kalian sampai dia dapat mencintai saudaranya lebih dari dia mencintai dirinya sendiri.” Hadis ini menunjukkan betapa dalamnya tuntutan Islam akan kasih sayang universal.
Dengan adanya rahmah, akan lahir empati dan simpati kepada siapapun, terutama mereka yang lemah, seperti para fakir miskin (fuqara wal masakin) dan saudara-saudara yang memerlukan bantuan. Rahmah inilah yang pada akhirnya akan terekspresi dalam sikap menolong, membantu, dan melahirkan kemaslahatan sosial.
Terakhir, Muslim yang baik adalah uswatun hasanah atau teladan bagi orang-orang di sekitarnya. Seorang Muslim harus menjadi agen kebaikan dan inspirasi di mana pun ia berada. Mengakhiri khutbah, beliau menyampaikan pesan Ibnu Mas’ud, “Jadilah kamu semua orang-orang yang mengajak kepada jalan Allah, sedangkan kalian diam,” yang berarti berdakwah bil-hal, yaitu dengan menampilkan akhlak yang baik agar ditiru dan menciptakan komunitas yang baik.
Sumber: Khutbah Ju’mat Masjid Al Akbar Surabaya oleh Prof Dr. H. A. Muhibbin Zuhri, M.Ag dengan tema “Karakter Ideal Seorang Muslim”