Krisis Akhlak Zaman Now: Meneladani Strategi Rasulullah Membangun Peradaban Madinah

Prof. Dr. Ali Maschan Moesa, M.Si.,
Prof. Dr. Ali Maschan Moesa, M.Si.,

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Di tengah dinamika zaman yang kian kompleks, esensi dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW sering kali hanya dimaknai sebatas perpindahan fisik atau momentum pergantian tahun. Padahal, esensi terdalam dari hijrah adalah transformasi spiritual dan sosial yang menyeluruh untuk membentuk tatanan masyarakat yang beradab dan bermartabat. Pesan mendalam inilah yang menjadi inti sari dari Khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Jawa Timur, Prof. Dr. Ali Maschan Moesa, M.Si., pada tanggal 19 Juni 2026 di ruang utama Masjid Manarul Ilmi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Dalam khotbahnya yang bertajuk “Hijrah sebagai Transformasi Diri dan ke Hal yang Lebih Baik,” Prof. Ali Maschan mengawali petuahnya dengan mengingatkan jemaah akan pentingnya menjaga kesehatan mental dan spiritual. Berdasarkan isyarat Al-Qur’an dan riset ilmiah modern, kesehatan lahir dan batin manusia justru lebih banyak ditentukan oleh kondisi psikisnya ketimbang fisik semata. Beliau mengungkapkan fakta menarik bahwa di dalam Al-Qur’an, kata “hati” diulang sebanyak 473 kali, sedangkan kata yang merujuk pada fisik atau jasad hanya disebut sebanyak tujuh kali. Hal ini menunjukkan bahwa hati merupakan pusat kendali manusia yang harus selalu dijaga agar tidak terkunci dari hidayah Allah SWT.

Lebih lanjut, khatib juga memberikan sentilan bagi kaum muslimin terkait penurunan kualitas dalam memaknai ibadah rutin, salah satunya salat Jum’at. Bagi umat Islam yang belum diberikan kemampuan finansial untuk menunaikan ibadah haji ke Makkah, salat Jum’at sebenarnya merupakan momentum pengganti yang luar biasa, atau dikenal sebagai hijjul fuqar wal masakin (hajinya kaum fakir dan miskin). Sayangnya, kesadaran ini mulai mengikis di kalangan masyarakat modern, di mana banyak jemaah yang datang terlambat dan pulang paling awal, padahal generasi terdahulu terbiasa hadir sejak pagi demi mengejar keutamaan pahala berkurban.

Keprihatinan Prof. Ali Maschan tidak berhenti di situ; beliau juga menyoroti realitas sosial masa kini yang mencerminkan tanda-tanda “Kiamat Sugra” atau kekacauan duniawi berdasarkan Surah Al-Hajj. Fenomena pertama yang disoroti adalah maraknya ibu yang enggan menyusui bayinya sendiri dengan ASI karena berbagai alasan, serta tingginya angka aborsi dan kasus pembunuhan anak kandung yang kian mengkhawatirkan. Kondisi-kondisi ini menjadi alarm keras bahwa nilai-nilai kemanusiaan dasar telah mengalami pergeseran dan kegoncangan yang hebat di era modern.

Tanda kekacauan duniawi yang paling mencolok dan relevan saat ini digambarkan melalui ayat wataronas sukaro wahumukaro, yaitu fenomena masyarakat yang bertingkah laku seperti orang mabuk, meski mereka tidak mengonsumsi khamar. Beliau mencontohkan hilangnya akal sehat dalam hubungan keluarga, seperti fenomena anak kandung yang tega menuntut dan menyidangkan ibu kandungnya di pengadilan hanya demi perebutan harta warisan. Konflik-konflik tragis seperti suami membunuh istri atau sebaliknya menjadi bukti nyata dari hilangnya kendali moral akibat hati yang telah membatu.

Menghadapi potret buram masyarakat modern tersebut, Prof. Ali Maschan mengajak jemaah untuk merefleksikan kembali sejarah pasca-hijrah Nabi Muhammad SAW saat membangun Kota Madinah. Madinah sejatinya bukan sekadar nama tempat, melainkan sebuah simbol peradaban tinggi di mana sesama manusia saling menghargai tanpa memandang sekat agama atau keyakinan. Kota ini menjadi fondasi awal penerapan konsep rahmatan lil alamin, sebuah misi kasih sayang yang cakupannya universal untuk seluruh alam, termasuk menyelamatkan kelestarian makhluk hidup lainnya, dan bukan sekadar lil muslimin.

Strategi pertama yang dijalankan oleh Rasulullah SAW dalam membangun peradaban Madinah adalah mendirikan masjid. Bagi Rasulullah, masjid bukan sekadar tempat ritual salat semata, melainkan pusat dari segala aktivitas peradaban umat. Di masjid pulalah segala urusan dunia maupun akhirat dikonsolidasikan, mulai dari tempat berkumpul, bermusyawarah mufakat, hingga mengatur strategi sosial dan pertahanan umat Islam. Masjid difungsikan sebagai jantung penggerak perubahan karakter dan moral masyarakat.

Langkah strategis kedua yang ditempuh Rasulullah setelah mendirikan masjid adalah melakukan Al-Ikha, yaitu mempersaudarakan kaum Muhajirin asal Makkah dengan kaum Ansar di Madinah. Ikatan persaudaraan yang dibangun atas dasar iman (ikhwah fiddin) ini dicontohkan secara nyata ketika para sahabat bersedia membagi harta, toko, dan aset mereka secara adil demi menopang saudaranya seiman. Persaudaraan ideologis ini terbukti melahirkan solidaritas internal yang sangat kokoh, bahkan nilai martabatnya dinilai lebih tinggi daripada sekadar hubungan biologis atau sedarah.

Setelah internal umat Islam solid, strategi ketiga Rasulullah adalah merangkul struktur kemajemukan masyarakat Madinah melalui kesepakatan tertulis yang dikenal sebagai Piagam Madinah. Melalui 47 pasal yang disepakati bersama seluruh suku dan kelompok lintas agama, termasuk kaum musyrik dan yahudi, Rasulullah menegaskan konsep innahum umatun wahidah—bahwa seluruh penduduk Madinah adalah satu bangsa. Hal ini menjadi bukti sejarah yang tak terbantahkan bahwa Rasulullah membangun sebuah negara bukan berdasarkan sentimen agama mayoritas, melainkan atas asas pluralisme dan kebinekaan.

Berkaca dari manhaj atau metode dakwah Rasulullah tersebut, Prof. Ali Maschan menarik kesimpulan krusial bahwa peradaban yang kuat dibangun dari manusianya terlebih dahulu, bukan dari sekadar tumpukan aturan hukum. Beliau mengkritik kecenderungan sistem modern yang kerap kali sibuk merombak dan mengganti regulasi, namun mengabaikan perbaikan moral penegak hukum dan masyarakatnya. Rasulullah SAW diutus ke muka bumi dengan misi utama memperbaiki akhlak (liutammima makarimal akhlak), karena ketika akhlak seseorang telah baik, maka keadilan dan tatanan hukum dengan sendirinya akan tegak.

Lebih dalam lagi, khotbah ini menegaskan bahwa esensi ajaran Islam menekankan pada kesalehan sosial (hablum minannas) ketimbang egoisme kesalehan pribadi. Hubungan ritual dengan Allah SWT tidak akan bernilai sempurna jika mengabaikan penderitaan sesama manusia. Beliau mengingatkan secara tajam bahwa ibadah puasa tidak akan diterima tanpa zakat fitrah, dan predikat haji mabrur tidak diukur dari berapa kali seseorang pergi ke Makkah, melainkan dari meningkatnya empati sosial, kesenangan membantu kaum melarat, serta kerelaan menolong orang yang sedang kesusahan sekembalinya ke tanah air.

Khutbah Jum’at yang penuh makna di Masjid Manarul Ilmi ITS ini ditutup dengan untaian doa agar seluruh jemaah senantiasa diberikan keberkahan umur, keluasan ilmu, serta keluarga yang sakinah. Prof. Ali Maschan mengajak segenap jemaah untuk menjadikan momentum hijrah sebagai pemantik transformasi diri menuju akhlakul karimah. Di akhir khotbahnya, beliau mendoakan agar kelak ketika tiba masanya berpulang dari dunia yang fana ini, umat muslim senantiasa diwafatkan dalam keadaan terbaik, yakni husnul khatimah.

Sumber: Khutbah Jum’at oleh Prof. Dr. Ali Maschan Moesa, M.Si. bertajuk “Hijrah sebagai transformasi diri dan ke hal yang lebih baik” di Masjid Manarul Ilmi ITS Surabaya Pada Jum’at 19 Juni 2026.

E-Buletin