Kabasmasjid.id, Surabaya – Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan ancaman resesi yang membayangi, kegelisahan batin seringkali menjadi beban tambahan bagi masyarakat. Menghadapi situasi ini, nilai-nilai spiritual menawarkan sauh yang kokoh agar jiwa tetap tenang dan langkah tetap optimis. Agama memberikan panduan konkret bagaimana seorang individu seharusnya bersikap ketika badai persoalan datang bertubi-tubi.
Pesan kesejukan ini disampaikan dalam khutbah Jumat pada 27 Maret 2026 di Masjid Al Falah Surabaya oleh Ustadz Drs. EC. Abdurrahman. Dalam khotbah bertajuk “Tawakkal di Tengah Resesi”, beliau menekankan bahwa kunci utama menghadapi masa sulit adalah dengan memperkuat pilar takwa dan tawakal kepada Allah SWT sebagai satu-satunya tempat bersandar bagi setiap mukmin.
Khotib membuka penyampaiannya dengan mengingatkan bahwa takwa bukan sekadar konsep abstrak, melainkan bekal paling nyata dalam mengarungi kehidupan. Sebagaimana janji Allah dalam Al-Qur’an, mereka yang menjaga ketakwaannya akan senantiasa diberikan makhraj atau jalan keluar dari setiap himpitan masalah. Di tengah resesi, janji ini menjadi angin segar yang memberikan harapan bahwa setiap kesulitan pasti memiliki pintu solusi.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa takwa juga mendatangkan rezeki dari arah yang sama sekali tidak terduga. Seringkali manusia terlalu terpaku pada perencanaan matematis yang kaku, padahal Allah menyediakan rezeki yang melampaui logika perencanaan manusia. Hal ini menjadi pengingat agar kita tidak berputus asa meski indikator ekonomi makro terlihat kurang menguntungkan.
Ketakwaan yang benar juga akan membuahkan Furqan, yakni kemampuan spiritual untuk membedakan mana yang hak dan mana yang batil. Di masa sulit, kemampuan ini sangat krusial agar seseorang tidak terjebak dalam cara-cara yang dilarang agama demi mencari keuntungan sesaat. Orang yang bertakwa memiliki kontrol diri yang kuat untuk tetap istikamah di jalan kebenaran meski dalam keadaan terdesak.
Terkait konsep tawakal, Ustadz Abdurrahman menegaskan bahwa seorang mukmin harus memiliki sandaran yang kokoh kepada Allah sebagai Al-Mudabbir atau Pengatur tunggal alam semesta. Tawakal bukan berarti pasif, melainkan menyerahkan hasil akhir sepenuhnya kepada Pemilik Kekuasaan setelah melakukan ikhtiar yang maksimal. Tanpa sandaran ini, manusia akan mudah goyah oleh tantangan zaman.
Beliau kemudian memberikan ilustrasi mendalam melalui hadis tentang burung yang terbang di pagi hari dengan perut kosong dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang. Jika binatang yang tidak berakal saja dijamin rezekinya oleh Allah, maka manusia sebagai makhluk mulia seharusnya memiliki mental baja dan tidak mengenal kata putus asa dalam menghadapi rintangan hidup.
Ustadz juga menyoroti pentingnya menjaga kemurnian niat dan rasa takut hanya kepada Allah. Di tengah konstelasi dunia yang seringkali menakut-nakuti dengan berbagai kekuatan politik atau ekonomi, seorang mukmin tidak boleh gentar. Rasa takut yang berlebihan kepada makhluk hanya akan membuat Allah murka dan justru menjauhkan kita dari rahmat-Nya.
Dalam khutbah kedua, beliau mengajak jamaah untuk menjaga momentum spiritual yang telah didapat dari bulan Ramadan. Ramadan ibarat madrasah yang telah menempa jiwa untuk menjadi pribadi yang lebih sabar dan berserah diri. Kebiasaan-kebiasaan baik seperti salat malam, tadarus Al-Qur’an, dan zikir harus terus dipertahankan sebagai “azimat” atau modal dasar menghadapi ujian dunia.
Beliau menekankan bahwa dunia pada hakikatnya adalah tempat ujian atau alaqatul ibtila. Setiap masa memiliki fitnah dan tantangannya masing-masing, termasuk krisis ekonomi yang terjadi saat ini. Namun, dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah, seorang muslim akan mendapatkan hidayah untuk tetap menjadi pelaku kebenaran di tengah kekacauan.

Sebagai penutup, khotib mengajak untuk memperbanyak doa dan permohonan hidayah kepada Allah, sebagaimana yang selalu dibaca dalam setiap salat melalui surah Al-Fatihah. Hidayah inilah yang akan menuntun langkah kita agar tetap berada di jalan yang lurus, aman, dan nyaman meskipun badai resesi menerpa dari berbagai arah.
Khutbah ini memberikan pesan kuat bahwa solusi atas resesi bukan sekadar perhitungan angka di atas kertas, melainkan perbaikan hubungan dengan Tuhan. Dengan memperkuat takwa dan tawakal, setiap individu dapat meraih kebahagiaan yang hakiki, terlepas dari seberapa berat ujian ekonomi yang sedang melanda dunia saat ini.
Sumber: khutbah Jumat 27 Maret 2026 di Masjid Al Falah Surabaya oleh Ustadz Drs. EC. Abdurrahman membahas tentang “Tawakkal di Tengah Resesi”