Kabarmasjid.id, Malang – Momentum bulan suci Ramadhan selalu menjadi saat yang paling dinantikan oleh umat Muslim untuk mempertebal keimanan dan memperbaiki kualitas diri. Di tengah hiruk-pikuk dunia, khutbah Jumat menjadi oase spiritual yang memberikan panduan praktis agar setiap ibadah yang dijalankan tidak sekadar menjadi rutinitas tanpa makna. Pada hari Jumat, 13 Maret 2026, bertempat di Masjid Agung Jami Malang, Habib Haidar bin Sholeh Mauladdawilah menyampaikan pesan-pesan mendalam mengenai rahasia keselamatan seorang hamba di akhirat.
Dalam khutbahnya, Habib Haidar mengingatkan jemaah bahwa saat itu mereka telah berada di hari ke-23 Ramadhan. Beliau menekankan pentingnya rasa syukur dan permohonan agar Allah SWT memberikan kekuatan istikamah hingga akhir bulan. Baginya, sisa hari di bulan Ramadhan ini adalah waktu yang sangat kritis bagi setiap Muslim untuk memastikan seluruh rangkaian ibadah, mulai dari puasa hingga salat tarawih, diterima dengan sempurna oleh Allah SWT.
Tema sentral yang diangkat dalam kajian tersebut merujuk pada hadis sahih dari sahabat Muad bin Jabal. Habib Haidar menceritakan bagaimana sahabat senior tersebut bertanya kepada Rasulullah SAW tentang amalan apa yang dapat memasukkan seseorang ke surga dan menjauhkannya dari api neraka. Pertanyaan ini dianggap sebagai perkara yang sangat besar, namun sesungguhnya mudah dilakukan bagi siapa saja yang mendapatkan pertolongan dari Allah SWT.
Amalan pertama yang ditekankan adalah menjaga kemurnian tauhid. Seseorang harus memastikan bahwa pusat ibadahnya hanya kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun. Beliau menjelaskan bahwa ketenangan batin hanya bisa diraih jika seseorang meyakini bahwa tidak ada kebahagiaan maupun kesedihan yang terjadi di dunia ini kecuali atas izin dan pengaturan Allah yang Maha Kuasa.
Pilar kedua untuk meraih surga adalah menegakkan salat lima waktu dengan penuh kedisiplinan. Habib Haidar menganalogikan salat sebagai tiang bangunan; tanpa salat yang kokoh, identitas keislaman seseorang akan mudah goyah. Beliau mengajak jemaah untuk tidak menyepelekan waktu-waktu salat, mulai dari subuh hingga isya, sebagai bentuk komunikasi langsung antara hamba dan Sang Pencipta.
Selanjutnya, zakat menjadi poin ketiga yang tidak boleh diabaikan. Beliau mengingatkan bahwa zakat, baik zakat fitrah maupun zakat mal, adalah instrumen pembersih harta. Dalam harta yang kita miliki, terdapat hak fakir miskin yang dititipkan oleh Allah. Mengeluarkan zakat berarti menjalankan amanah titipan tersebut, sementara menahannya sama saja dengan memakan hak orang lain yang diharamkan.
Langkah keempat dan kelima menuju surga adalah menjalankan puasa Ramadhan dan melaksanakan ibadah haji bagi yang memiliki kemampuan. Kelima amalan ini merupakan rukun Islam yang saling berkaitan dan menjadi fondasi utama bagi keselamatan seorang mukmin. Tanpa pondasi yang lengkap ini, perjalanan menuju rida Allah akan terasa pincang dan tidak sempurna.
Selain amalan wajib, Habib Haidar memaparkan tentang “pintu-pintu kebaikan” sebagai pelengkap. Pertama adalah puasa yang berfungsi sebagai junnah atau perisai. Beliau mengutip hadis bahwa satu hari berpuasa dengan ikhlas di jalan Allah dapat menjauhkan seseorang dari api neraka sejauh perjalanan seratus tahun. Hal ini menunjukkan betapa dahsyatnya efek puasa dalam melindungi jiwa manusia.
Pintu kebaikan kedua adalah sedekah. Beliau memberikan perumpamaan yang sangat kuat bahwa sedekah memiliki kemampuan untuk menghapus dosa-dosa manusia sebagaimana air memadamkan api yang sedang berkobar. Di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, memperbanyak sedekah adalah cara paling efektif untuk “mencuci” kesalahan-kesalahan masa lalu yang pernah dilakukan.
Pintu kebaikan ketiga adalah salat malam atau qiyamul lail. Habib Haidar menggambarkan bahwa menjauhkan lambung dari tempat tidur untuk bersujud di tengah malam adalah ciri utama orang-orang saleh. Keheningan malam merupakan waktu terbaik bagi seorang hamba untuk merajut kedekatan emosional dan spiritual yang paling intim dengan Allah SWT.
Namun, di balik semua amalan besar tersebut, terdapat satu pengingat yang sangat tegas tentang bahaya lisan. Habib Haidar menekankan bahwa lisan adalah kunci yang bisa menjaga atau justru menghancurkan seluruh amal baik. Beliau memperingatkan bahwa banyak orang yang tersungkur ke dalam neraka jahanam bukan karena perbuatan fisik lainnya, melainkan karena “hasil panen” dari ucapan mereka yang tidak terjaga.

Sebagai penutup, Habib Haidar mengajak jemaah untuk menjadikan Ramadhan sebagai madrasah untuk melatih lisan dan hati. Dengan menjaga tutur kata, menguatkan tauhid, dan istikamah dalam ibadah, seorang Muslim diharapkan keluar dari bulan suci ini dengan predikat takwa yang hakiki. Semoga segala amal ibadah kita di sisa bulan Ramadhan ini diterima dan menjadi wasilah untuk berkumpul bersama para kekasih Allah di surga nanti.
Sumber: Khutbah Jum’at 13 Maret 2026 Masjid Jami’ Malang bersama Habib Haidar bin Sholeh Mauladdawilah