Bukan Hanya Lisan, Waspada Jemari! Pentingnya Tabayyun Menjaga Persatuan di Medsos

Ustadz Ainul Yaqin, S.Si., M.Si., Apt.
Ustadz Ainul Yaqin, S.Si., M.Si., Apt.

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Di tengah arus deras informasi dan perkembangan teknologi yang kian pesat, persatuan umat Islam menghadapi tantangan yang kompleks. Bagaimana iman dan takwa dapat menjadi benteng di hadapan badai digital yang rentan memecah belah? Hal ini menjadi fokus utama dalam Khutbah Jumat yang disampaikan oleh Ustadz Ainul Yaqin, S.Si., M.Si., Apt. di Masjid Al Falah Surabaya pada tanggal 28 November 2025. Khutbah ini menekankan pentingnya merefleksikan kembali nilai-nilai fundamental Islam untuk menjaga keutuhan di zaman serba terhubung ini.

Penting untuk disadari bahwa inti dari ajaran Islam adalah kesatuan di bawah panji tauhid. Allah SWT telah menyampaikan bahwa umat yang terikat pada millah tauhid adalah satu hakikatnya, sebagaimana firman-Nya: “Inna hadzihi ummatukum ummatan wahidah.” Kesatuan ini kemudian diperkuat dengan ikatan ukhuwah imaniyah (persaudaraan keimanan), di mana semua mukmin sesungguhnya adalah bersaudara (Innamal mukminuna ikhwah).

Untuk memelihara nikmat iman dan Islam ini, umat diwajibkan untuk meningkatkan ketakwaan (Taqwa). Takwa digambarkan sebagai sikap hati-hati dan waspada, layaknya orang yang berjalan di jalanan penuh duri, agar tidak terjerumus melanggar larangan-larangan Allah SWT. Sikap ini menjadi landasan moral dan spiritual yang melindungi diri dari potensi perpecahan.

Gambaran ideal persaudaraan itu telah dicontohkan secara nyata oleh Rasulullah ﷺ, terutama saat peristiwa hijrah. Persatuan antara kaum Muhajirin (pendatang) dan Ansar (penolong) di Madinah begitu luar biasa, di mana kaum Ansar rela berbagi harta mereka. Demikian pula halnya dengan dua kabilah yang sebelumnya bermusuhan, Aus dan Khajraj, yang berhasil dipersatukan di bawah panji Islam.

Akan tetapi, semangat persatuan ini selalu menghadapi ancaman dari pihak yang tidak suka melihat umat Islam bersatu. Ustadz Ainul Yaqin mengingatkan bahwa setan adalah pihak yang paling tidak menyukai persatuan dan senantiasa menghembuskan permusuhan. Oleh karena itu, umat diingatkan untuk senantiasa berpegang teguh pada tali (agama) Allah dan menghindari perpecahan, sesuai perintah “Wa’tasimu bihablillahi jami’an wa la tafarraqu.”

Dalam rangka menjaga keutuhan tersebut, umat Islam didorong untuk membangun sikap empati dan peduli. Empati diukur dengan kesempurnaan iman seseorang, di mana ia harus mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri (La yukminu ahadukum hatta yuhibba liakhihi ma yuhibbu linafsih). Sementara itu, kepedulian adalah sikap yang mempertanyakan keimanan seseorang jika bangun pagi namun tidak memedulikan urusan kaum Muslimin.

Selain itu, Nabi Muhammad ﷺ juga menekankan pentingnya saling memperkokoh satu sama lain (yasuddu ba’duhu ba’d). Umat harus menjauhi perdebatan yang tiada guna, karena hal itu justru dapat melemahkan dan menghilangkan kekuatan kaum Muslimin (Wa la tanaza’u fa tafsyalu wa tadzhabu rihukum). Perbantahan yang tidak produktif hanya akan menguras energi umat.

Tantangan terbesar saat ini muncul di era digital, di mana permusuhan tidak lagi terbatas pada ucapan lisan, namun telah merambah pada jemari tangan. Jari jemari pada gawai dapat melakukan namimah (adu domba) dan menciptakan permusuhan yang jangkauannya jauh lebih luas—bahkan di seluruh dunia—dibandingkan yang bisa dilakukan dengan mulut di masa lampau.

Oleh karena itu, kewaspadaan adalah kunci. Umat harus membangun sikap husnudzon (prasangka baik) kepada sesama muslim. Namun, yang paling krusial adalah membangun budaya tabayyun atau klarifikasi.

Budaya tabayyun ini merupakan etika baku, sebagaimana perintah Allah: “In ja’akum fasiqum binabain fatabayyanu” (Jika datang kepada kalian orang fasik membawa berita, maka telitilah). Dengan bertabayyun, umat tidak mudah menelan berita mentah-mentah, tidak gegabah menyebarkan, dan mampu mencegah kesalahpahaman yang berujung pada perpecahan.

Terakhir, persatuan juga harus mencakup sikap menghargai perbedaan. Ustadz Ainul Yaqin membedakan antara perbedaan yang lahir dari ijtihad (penetapan hukum yang berbeda) yang wajib dihormati, dengan penyimpangan yang tidak bisa ditoleransi. Penyimpangan harus disikapi melalui dakwah dan nasihat, mengajak kembali pada kebenasan (ar-ruju’ ilal haqqi wal nasihat).

Kesimpulannya, dalam menghadapi gelombang digital yang berpotensi memecah belah, umat Islam dituntut untuk memegang teguh prinsip: “Kita saling tolong-menolong dalam hal yang kita sepakati, dan kita saling menghargai dalam hal yang kita berbeda pendapat.” Dengan sikap takwa, tabayyun, dan toleransi yang kokoh, umat Islam dapat tetap menjadi satu kesatuan dan menjadi teladan bagi yang lain.

Sumber: Khutbah Jum’at Ustadz Ainul Yaqin, S.Si., M.Si., Apt dengan  tema “Menjaga Persatuan di Era Digital” di Channel Youtube Masjid Al Falah Surabaya  

E-Buletin