Kabarmasjid.id, Surabaya – Di tengah gempuran arus modernisasi yang menawarkan kemudahan dan kesenangan material, tantangan menjaga kemurnian akidah menjadi semakin kompleks bagi umat Islam. Penting bagi kita untuk sejenak berhenti dari hiruk pikuk dunia guna merenungkan kembali esensi syahadat yang setiap hari kita lisankan. Kajian mendalam mengenai hal ini disampaikan oleh Ustadz Drs. H. Nadjih Ihsan dalam khutbah Jumat di Masjid Al Falah Surabaya pada tanggal 15 Mei 2026, yang menyoroti tentang bentuk-bentuk kesyirikan yang sering kali tidak disadari di era modern.
Kesyirikan di zaman sekarang tidak lagi melulu tentang penyembahan berhala secara fisik atau benda-benda keramat yang kasat mata. Sebaliknya, bentuk penyimpangan akidah ini telah bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih halus, masuk ke dalam relung hati dan pola pikir manusia melalui kecintaan yang berlebihan. Ustadz Nadjih menekankan bahwa memberi makna terhadap dua kalimat syahadat adalah kewajiban yang harus didahulukan di atas rukun Islam lainnya, karena di sanalah letak kejujuran seorang hamba kepada Sang Pencipta.
Pilar pertama yang disoroti adalah fenomena syirik fil mahabbah atau syirik dalam percintaan, di mana seseorang menempatkan cinta makhluk di atas cinta kepada Allah. Secara alamiah, manusia memang memiliki kecenderungan untuk mencintai dunia, namun masalah muncul ketika cinta tersebut tidak dikelola dengan benar sesuai koridor syariat. Cinta merupakan motor penggerak utama setiap tindakan manusia, sehingga jika orientasi cinta tersebut salah sasaran, maka seluruh amal perbuatannya pun akan melenceng dari nilai-nilai ketauhidan.
Dalam khutbahnya, Ustadz Nadjih merujuk pada Surat At-Taubah ayat 24 yang memberikan peringatan keras mengenai delapan perkara duniawi yang berpotensi menjadi “tuhan” baru. Delapan perkara tersebut meliputi hubungan dengan manusia seperti orang tua, anak, saudara, pasangan, dan keluarga besar, serta unsur kebendaan seperti harta simpanan, bisnis yang ditakuti kerugiannya, hingga rumah tinggal yang megah. Jika semua ini lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, maka kehancuran spiritual hanya tinggal menunggu waktu.
Beliau juga memberikan perumpamaan yang sangat menyentuh mengenai hubungan seorang mukmin dengan dunia melalui tamsil sebuah perahu. Sebuah perahu yang berada di atas air adalah hal yang lumrah dan aman, namun akan menjadi bencana besar jika air mulai masuk ke dalam perahu tersebut hingga menenggelamkannya. Demikian pula keberadaan orang beriman di dunia; adalah normal bagi mereka untuk hidup di dunia, namun menjadi sangat berbahaya jika dunia masuk dan menguasai hati mereka hingga melupakan akhirat.
Beranjak ke poin kedua, khatib menjelaskan mengenai syirik fit tho’ah atau kesyirikan dalam ketaatan yang sering kali menimpa masyarakat dalam struktur sosial dan politik. Hal ini terjadi ketika seorang Muslim memberikan ketaatan mutlak kepada pemimpin, baik pemimpin agama (ulama) maupun pemimpin pemerintahan (umara), secara membabi buta. Ketaatan yang melampaui batas ini bahkan tetap dilakukan meskipun pemimpin tersebut memerintahkan hal-hal yang jelas-jelas bertentangan dengan hukum Allah.
Ustadz Nadjih mengingatkan bahwa dalam Islam tidak ada ketaatan yang bersifat absolut kepada makhluk, karena ketaatan mutlak hanya milik Allah dan Rasul-Nya. Beliau mengisahkan protes Adi bin Hatim kepada Rasulullah terkait ayat yang menyebut orang Yahudi menjadikan pemimpin mereka sebagai tuhan. Penjelasan Rasulullah saat itu sangat relevan hingga kini: jika pemimpin menghalalkan yang haram dan kita mengikutinya, itulah bentuk nyata dari penyembahan kepada manusia.
Fenomena ketaatan buta ini sering kali dibungkus dengan alasan loyalitas atau instruksi atasan yang tidak boleh dibantah demi stabilitas. Namun, di mata tauhid, tindakan menabrak hukum syariat demi menyenangkan pemimpin adalah jebakan kesyirikan modern yang sangat fatal. Hal ini sering kali berujung pada kehancuran martabat pemimpin itu sendiri dan kesengsaraan bagi masyarakat luas karena hilangnya kontrol moral yang berdasarkan nilai-nilai ketuhanan.

Sebagai solusi dan teladan, khatib mengangkat kembali pidato legendaris Abu Bakar Ash-Shiddiq saat pertama kali dilantik sebagai pemimpin umat Islam setelah wafatnya Rasulullah. Abu Bakar dengan rendah hati menyatakan bahwa dirinya bukanlah orang yang terbaik di antara kaumnya, meski mengemban amanah yang sangat berat. Beliau meminta bantuan rakyatnya jika ia berbuat baik, namun dengan tegas meminta agar mereka meluruskannya jika ia melenceng dari kebenaran.
Pesan kunci dari pidato Abu Bakar tersebut adalah tidak adanya kemutlakan dalam kepemimpinan manusia dalam Islam. Beliau memberikan batasan yang jelas: “Taatilah aku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya.” Pernyataan ini merupakan edukasi politik dan akidah yang luar biasa, di mana seorang pemimpin tetap menempatkan kedaulatan hukum Tuhan di atas segala instruksi pribadinya, sehingga rakyat memiliki landasan etis untuk bersikap kritis.
Kesyirikan modern, baik dalam bentuk cinta dunia yang berlebihan maupun ketaatan buta kepada pemimpin, merupakan penyakit kronis yang memerlukan kesadaran kolektif untuk disembuhkan. Ustadz Nadjih mengajak para jemaah untuk kembali merenungkan kejujuran syahadat mereka dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari. Dengan menjaga hati agar tidak terbelenggu oleh materi dan menjaga nalar agar tidak tunduk pada kezaliman, kemurnian tauhid dapat tetap terjaga di era yang penuh fitnah ini.
Menghadapi realitas ini, tantangan bagi generasi muda Muslim adalah bagaimana membangun benteng spiritual yang kokoh agar tidak tergilas oleh arus zaman. Transformasi kesyirikan yang semakin tidak kasat mata menuntut umat untuk terus mengasah kepekaan spiritual melalui pengkajian tauhid yang konsisten, bukan sekadar terjebak pada formalitas peribadatan ritual semata. Hanya dengan pemahaman akidah yang mendalam, integrasi antara nilai-nilai keagamaan, etika sosial, dan kepatuhan politik dapat berjalan beriringan tanpa harus mengorbankan kemurnian iman.
Sebagai penutup, khutbah ini mengingatkan bahwa musibah dan kehinaan akan menimpa suatu kaum jika kemaksiatan telah tersebar luas dan jihad di jalan Allah ditinggalkan. Kita diajak untuk senantiasa memohon perlindungan kepada Allah agar dijauhkan dari segala bentuk kesyirikan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Semoga melalui renungan ini, umat Islam di era modern tetap mampu berdiri tegak di atas prinsip kebenaran dan kejujuran syahadat yang sejati.
Sumber: Khutbah Jum’at berjudul “Kesyirikan Yang Tidak Disadari di Era Modern” yang disampaikan oleh Ustadz Drs. H. Nadjih Ihsan di Masjid Al Falah Surabaya pada 15 Mei 2026