Bisnis Online Bukan Cuma Soal Cuan, Ini Rahasia Berkah Dunia Akhirat

Ustadz Wafi Marzuqi Ammar, Lc., MA., Ph.D.
Ustadz Wafi Marzuqi Ammar, Lc., MA., Ph.D.

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Perkembangan teknologi informasi saat ini tidak hanya mengubah cara manusia berkomunikasi, melainkan juga merevolusi sektor ekonomi secara masif melalui kehadiran platform digital. Perdagangan konvensional kini perlahan bergeser ke arah e-commerce, menciptakan pasar tanpa batas yang menawarkan kecepatan, kepraktisan, serta perputaran modal yang luar biasa cepat bagi siapa saja. Esensi dari transformasi digital ini dibahas secara mendalam dalam khutbah Jumat yang disampaikan oleh Ustadz Wafi Marzuqi Ammar, Lc., MA., Ph.D. pada tanggal 5 Juni 2026 di Masjid Al Falah Surabaya, yang mengangkat tema krusial mengenai urgensi melahirkan pedagang jujur yang dirindukan surga di era modern.

Dalam pemaparannya di hadapan para jemaah, khatib menekankan bahwa dinamika dunia digital kerap kali membuat para pelaku usaha terjebak dalam ambisi materi dan melupakan esensi keberkahan. Mobilitas pasar yang tinggi mendorong setiap orang berlomba-lomba meraup keuntungan finansial sebesar-besarnya tanpa mempedulikan rambu-rambu syariat Islam. Padahal, dalam perspektif Islam, aktivitas niaga bukanlah sekadar urusan memutar modal demi keuntungan duniawi belaka, melainkan sebuah sarana ibadah yang menjadi salah satu jalan pintas paling nyata menuju surga Allah SWT.

Islam memandang profesi pedagang sebagai pekerjaan yang sangat mulia apabila dijalankan di atas koridor hukum yang benar. Khatib menyitir sebuah hadis yang mengingatkan bahwa barang siapa mengambil harta dengan cara yang hak dan benar, maka Allah SWT akan senantiasa mengalirkan keberkahan pada harta tersebut sepanjang hidupnya. Sebaliknya, siapapun yang menghalalkan segala cara demi menumpuk kekayaan, maka perumpamaannya bagaikan orang yang makan secara terus-menerus namun tidak pernah merasakan kenyang karena hilangnya rasa syukur.

Ustadz Wafi juga memberikan peringatan keras mengenai bahaya mengendapkan atau menahan harta yang diperoleh dari sumber yang tidak halal bagi kehidupan seorang muslim. Berdasarkan hadis nabi, harta yang haram tidak akan pernah mendatangkan berkah, bahkan jika diinfakkan atau disedekahkan sekalipun, Allah SWT sama sekali tidak akan menerima amalan tersebut. Lebih menakutkan lagi, apabila seorang hamba meninggal dunia dalam keadaan masih menyimpan atau memiliki harta haram, maka kekayaan tersebut secara otomatis akan menjadi bekal buruk yang menyeretnya ke neraka jahanam.

Untuk mengantisipasi kehancuran spiritual tersebut, Islam telah meletakkan pilar utama dalam berniaga yang wajib dijunjung tinggi, yakni kejujuran dan amanah di atas segala ambisi. Sejarah mencatat bahwa Rasulullah SAW dan para sahabat telah memberikan teladan paling ideal tentang bagaimana membangun bisnis yang sukses besar di dunia sekaligus megah di akhirat. Ketika seorang pedagang mampu mengutamakan integritas dan kejujuran di atas godaan keuntungan materi yang semu, maka Allah SWT akan menaikkan derajat mulianya di hari akhir nanti.

Janji Allah bagi para pelaku usaha yang memegang teguh kejujuran sangatlah istimewa, yakni kedudukan tertinggi di hari kiamat bersama golongan manusia pilihan. Khatib menjelaskan bahwa pedagang yang jujur dan tepercaya kelak akan dikumpulkan langsung bersama para nabi, orang-orang siddiqin, serta para syuhada pembela agama. Namun di sisi lain, nabi juga memperingatkan bahwa mayoritas pedagang akan dibangkitkan sebagai kaum pendosa atau pelaku kefasikan, kecuali mereka yang benar-benar takut kepada Allah, berbuat kebajikan, dan konsisten berlaku jujur.

Sebelum diangkat menjadi utusan Allah, Nabi Muhammad SAW sendiri merupakan seorang entrepreneur ulung yang rekam jejak dagangnya diakui secara luas oleh masyarakat Quraisy hingga beliau dijuluki Al-Amin. Beliau tidak pernah menyembunyikan cacat pada barang komoditasnya, tidak pernah mengurangi timbangan sekecil apa pun, serta selalu menepati janji kepada pembeli. Begitu pula dengan para sahabat seperti Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan yang merupakan konglomerat kaya raya, namun hati mereka sama sekali tidak pernah diperbudak oleh pasar karena menganggap harta hanyalah alat menolong agama Allah.

Fenomena yang terjadi di era modern saat ini justru memperlihatkan kondisi sebaliknya, di mana kejujuran kerap kali dianggap sebagai penghambat untuk meraih keuntungan materi. Banyak oknum pedagang online yang melakukan praktik tadlis, seperti memanipulasi foto produk agar terlihat jauh lebih indah dari aslinya, memberikan ulasan atau testimoni palsu, hingga menyembunyikan kecacatan sistem demi keuntungan pribadi. Padahal, keuntungan finansial yang didapatkan dari cara-cara tidak jujur seperti itu secara mutlak akan menghapus seluruh keberkahan dari harta yang diperoleh.

Memasuki khutbah kedua, khatib merumuskan tiga karakteristik konkret yang harus dimiliki oleh setiap pelaku usaha jika ingin menjadi golongan pedagang yang dirindukan surga di zaman modern. Karakteristik pertama yang paling krusial adalah transparansi yang jelas, baik dalam transaksi tatap muka secara offline maupun melalui lapak-lapak digital di dunia maya. Seorang pedagang wajib menjelaskan spesifikasi barang apa adanya tanpa rekayasa deskripsi produk atau menutup-nutupi adanya kerusakan kecil pada barang yang dijual.

Karakteristik kedua adalah memiliki sifat yang memudahkan, ramah, serta penuh toleransi dalam melayani para pelanggan setianya. Islam sangat menyukai pedagang yang tidak kaku, serta bersedia memberikan kemudahan dalam urusan klaim, garansi, maupun proses retur barang jika memang terdapat kesalahan pengiriman atau cacat produksi. Berdasarkan hadis riwayat Imam Bukhari, Allah SWT secara khusus memberikan rahmat yang luas bagi seseorang yang menunjukkan sikap toleran saat menjual, membeli, maupun saat menagih haknya.

Karakteristik ketiga yang tidak boleh diabaikan adalah menjauhkan diri secara total dari penggunaan sumpah palsu dalam mempromosikan barang dagangan. Di era digital, jangan pernah membawa-bawa nama Allah SWT atau bersumpah secara berlebihan hanya demi meyakinkan calon pembeli agar produk kita laris manis, padahal kualitas aslinya tidak sesuai. Setiap pelaku usaha harus sadar bahwa sekecil apa pun bentuk kecurangan yang dilakukan, baik di pasar nyata maupun ekosistem digital, semuanya tidak akan lolos dari pengawasan ketat malaikat dan akan dimintai pertanggungjawaban.

Sebagai penutup khutbahnya, Ustadz Wafi mengingatkan jemaah melalui ayat Al-Qur’an dalam Surat Al-Kahfi mengenai hari di mana kitab catatan amal manusia akan diletakkan di hadapan Allah SWT. Pada momen tersebut, orang-orang yang gemar berbuat dosa akan gemetar ketakutan melihat catatan yang sangat detail, yang tidak meninggalkan perkara kecil maupun besar melainkan semuanya terhitung dengan akurat. Tulisan ini menjadi refleksi bersama bahwa kesuksesan finansial di era digital barulah bermakna sejati jika diraih dengan cara yang halal, transparan, dan mampu menuntun jiwa menuju rida serta surga-Nya.

Sumber: Khutbah Jumat yang disampaikan oleh Ustadz Wafi Marzuqi Ammar, Lc., MA., Ph.D. di Masjid Al Falah Surabaya pada tanggal 5 Juni 2026,

E-Buletin