Kabarmasjid.id, Surabaya – Kehidupan manusia tak pernah lepas dari dua muara utama: kelapangan yang membawa kebahagiaan dan ujian yang menghadirkan tantangan. Dalam pandangan Islam, kedua kondisi ini bukanlah ukuran kecintaan atau kebencian Tuhan, melainkan sarana pengujian kualitas iman seorang hamba. Untuk memahami bagaimana seharusnya seorang muslim menata sikap dalam menghadapi dinamika tersebut, ikhtiar reflektif senantiasa dibutuhkan melalui pesan-pesan keagamaan yang disampaikan dalam ibadah mingguan.
Pesan mendalam mengenai tata cara menyikapi dinamika kehidupan ini disampaikan oleh Dr. H. Husnul Khuluq, M.Si. saat bertindak sebagai khatib dalam ibadah shalat Jumat pada 7 Agustus 2026 di ruang utama Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya. Dalam khutbahnya, beliau menegaskan pentingnya menjadikan ketakwaan sebagai panduan hidup yang konsisten, baik dalam situasi penuh kemudahan maupun di tengah himpitan ujian yang berat.
Mengawali uraian materi, khatib memaparkan bahwa berdasarkan petunjuk Al-Qur’an, terdapat empat tipe atau golongan manusia dalam merespons kenikmatan dan cobaan yang datang menyapa. Golongan pertama adalah kelompok yang tekun beribadah dan merasa dekat dengan Allah SWT sewaktu berada dalam kondisi sejahtera, namun mendadak berpaling dan menjauh tatkala diterpa kesulitan hidup.
Menjelaskan tipe pertama tersebut, beliau merujuk pada Surah Al-Hajj ayat 11 yang menggambarkan perilaku manusia berpikiran sempit. Tipe ini cenderung berprasangka buruk kepada Allah ketika rezekinya disempitkan, merasa disia-siakan, dan menganggap ujian sebagai tanda bahwa Tuhan tak lagi menyayangi dirinya.
Sementara itu, golongan kedua merupakan kebalikan dari kelompok pertama. Kelompok ini memperlihatkan kesungguhan ibadah yang luar biasa saat ditimpa kesusahan—rajin menunaikan salat malam, berpuasa, dan berdoa—tetapi berubah menjadi lalai dan melupakan nikmat Tuhan tatkala masalah hidupnya telah terangkat dan diselamatkan.
Merujuk pada paparan dalam Al-Qur’an, khatib mengingatkan bahwa kelalaian golongan kedua setelah terbebas dari masa sulit berpotensi mendatangkan dampak sosial yang destruktif. Sikap tidak bersyukur ini dapat memicu perselisihan, perpecahan, hingga timbulnya rasa saling membenci antar sesama elemen masyarakat.
Selanjutnya, khatib membeberkan tipe ketiga yang dinilai sebagai sikap paling buruk di antara lainnya. Kelompok ini ditandai dengan sikap sombong dan berpaling dari ajaran agama ketika mendapatkan limpahan nikmat, lalu secara drastis berubah menjadi sangat berputus asa sewaktu ditimpa cobaan hidup, sebagaimana dilukiskan dalam Surah Al-Isra ayat 83.
Di antara ketiga gambaran sikap tersebut, khatib menggarisbawahi bahwa pilihan yang paling ideal dan dianjurkan oleh agama adalah golongan keempat. Kelompok ini diisi oleh pribadi-pribadi yang senantiasa pandai bersyukur tatkala memperoleh kenikmatan, serta teguh bersabar ketika harus berhadapan dengan berbagai bentuk ujian.
Khatib menegaskan bahwa karakter berimbang—senantiasa bersyukur dan bersabar—merupakan ciri utama dari seorang mukmin sejati (syakuron shobur). Kehadiran kedua sifat ini menjadi benteng spiritual agar seorang hamba tidak mudah jumawa saat berada di atas, sekaligus tidak rentan patah arang ketika berada di bawah.
Namun demikian, beliau mengakui bahwa mempraktikkan syukur dan sabar secara konsisten dalam realitas kehidupan sehari-hari bukanlah perkara yang mudah. Hal tersebut membutuhkan perjuangan batin yang kuat serta pencerahan hidayah dari Allah SWT, yang diawali dengan menanamkan keridaan terhadap seluruh takdir-Nya.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa kesabaran yang lahir dari keridaan hati akan membuahkan ganjaran yang sangat istimewa. Mengutip Surah Az-Zumar ayat 10, khatib menyampaikan bahwa balasan pahala bagi orang-orang yang bersabar diberikan langsung oleh Allah SWT tanpa batas (bighairi hisab).
Sebagai penutup khutbah, beliau mengajak seluruh jemaah untuk terus melatih diri agar dapat mencapai derajat kemuliaan tersebut. Perpaduan antara rasa syukur dan kesabaran tidak hanya menjadi bekal terbaik dalam menghadap Sang Pencipta, melainkan juga menjadi jalan utama untuk mengantarkan seorang hamba menuju tingkatan spiritual tertinggi, yakni Maqam Ihsan.
Sumber: Khutbah Jumat yang disampaikan oleh Dr. H. Husnul Khuluq, M.Si. di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya pada 7 Agustus 2026,