Belajar Menjaga Kehormatan Sesama dari Kisah Rasulullah dan Sahabat Jabir bin Abdillah

Habib Mustofa Jamal bin Ridho Alaydrus
Habib Mustofa Jamal bin Ridho Alaydrus

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Di tengah dinamika modernitas dan pergeseran nilai sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat saat ini, persoalan degradasi moral menjadi perhatian yang sangat serius. Nilai-nilai kesantunan, kesabaran, dan keluhuran etika yang dahulu menjadi fondasi utama dalam kehidupan bermasyarakat kini perlahan mulai terkikis oleh egoisme dan pragmatisme zaman. Menghadapi tantangan tersebut, mimbar keagamaan kembali hadir sebagai benteng spiritual sekaligus kompas moral untuk mengingatkan umat akan pentingnya merawat kembali tatanan perilaku yang mulia demi terwujudnya kehidupan yang harmonis.

Sebagai upaya nyata untuk membangkitkan kesadaran kolektif tersebut, pesan spiritual mengenai keluhuran budi pekerti ini disampaikan secara mendalam dalam ibadah salat Jum’at. Tepat pada tanggal 17 Muharram 1448 H atau yang bertepatan dengan 3 Juli 2026, Masjid As Sakinah yang berlokasi di kawasan Pantai Mentari, Surabaya, menyelenggarakan ibadah Jum’at dengan khidmat. Dalam kesempatan mulia tersebut, bertindak sebagai khatib yang menyampaikan khutbah adalah Habib Mustofa Jamal bin Ridho Alaydrus yang mengajak seluruh jemaah untuk merenungkan kembali esensi dan keutamaan akhlak yang terpuji (akhlakul karimah) sebagai kunci kebahagiaan sejati.

Habib Mustofa mengawali khutbahnya dengan menegaskan bahwa akhlak yang mulia merupakan jalan yang paling terang dan membahagiakan bagi seseorang untuk menggapai kehidupan yang lebih baik, termasuk dalam urusan kelapangan rezeki. Namun, sebuah keprihatinan mendalam disampaikan oleh khatib mengenai realitas sosial hari ini, di mana etika dan budi pekerti luhur sudah sangat sulit ditemukan. Nilai-nilai mulia tersebut seolah-olah hampir punah di tengah masyarakat yang sangat heterogen, bahkan penerapannya sudah jarang sekali didapatkan di lingkungan sekolah hingga di dalam rumah tangga kita sendiri.

Guna memberikan landasan teologis yang kuat, khutbah tersebut mengutip firman Allah subhanahu wa taala dalam Surah Al-Qalam (Nun) ayat 4, yaitu “Wa innaka la’ala khuluqin ‘adziim”. Melalui ayat ini, Allah secara langsung memuji Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam karena keluhuran budi pekertinya yang sangat agung. Khatib mengingatkan jemaah bahwa manusia yang paling dicintai dan dipuji oleh Sang Pencipta bukan semata-mata karena keluasan ilmu atau banyaknya amalan ibadah ritualnya, melainkan karena keagungan akhlaknya yang menawan hati.

Dalam catatan sejarah asbabun nuzul, keagungan akhlak Rasulullah tecermin dari bagaimana beliau memperlakukan sesama manusia dengan penuh kelembutan. Setiap kali ada seseorang yang memanggilnya, Nabi tidak pernah absen untuk menjawab dengan kalimat yang sangat halus, “Labaik”, yang berarti aku penuhi panggilanmu. Respons penuh penghormatan ini tidak hanya beliau berikan sekali, melainkan terus diulang dengan penuh kesabaran meskipun orang tersebut memanggil beliau berkali-kali tanpa henti.

Lebih lanjut, Habib Mustofa memaparkan beberapa contoh perilaku konkret Rasulullah saat berinteraksi dengan para sahabatnya yang patut dijadikan teladan hidup. Rasulullah tidak pernah terlihat menjulurkan kedua kakinya di hadapan orang lain apabila berada di tempat pertemuan yang sempit, kecuali jika ruangan tersebut benar-benar luas. Selain itu, karena rasa malu dan hormat yang tinggi, beliau tidak pernah menatap seseorang dengan pandangan yang tajam dan lama, sehingga siapa pun yang berada di dekat beliau akan merasa menjadi orang yang paling dicintai dan dimuliakan.

Keutamaan memiliki akhlak yang terpuji ini tidak hanya berdampak pada hubungan sosial di dunia, melainkan juga memiliki bobot yang sangat besar di akhirat kelak. Khatib menyitir sebuah hadis Nabi yang menyatakan bahwa tidak ada satu amalan pun yang timbangannya lebih berat pada hari kiamat daripada akhlak yang baik. Nilai dari budi pekerti yang luhur ini menjadi barometer penting di hadapan Allah subhanahu wa taala untuk mengukur kemuliaan seorang hamba.

Bahkan, bagi seorang muslim yang konsisten menjaga perangai baiknya, Allah menjanjikan kedudukan spiritual yang sangat tinggi dan istimewa. Melalui akhlak yang mulia, seorang hamba dapat mencapai derajat yang setara dengan orang-orang yang ahli berpuasa di siang hari dan konsisten menegakkan salat malam atau tahajud. Hal ini menjadi sebuah keutamaan yang luar biasa, mengingat betapa berat dan sulitnya konsistensi dalam menjalankan ibadah puasa dan salat malam secara terus-menerus.

Habib Mustofa juga menekankan salah satu ciri utama dari seorang mukmin sejati yang berakhlak mulia, yaitu kemampuan untuk menjaga lisannya dari perkataan buruk. Sesuai sabda Nabi, seorang mukmin bukanlah orang yang suka melaknat, mengutuk, mencela, ataupun berucap keji dan kotor. Alih-alih menunjukkan kemarahan, Rasulullah justru dikenal dengan wajahnya yang supel, mudah bergaul, serta murah senyum kepada siapa saja yang beliau temui di masyarakat.

Dalam kehidupan bermasyarakat dan bermuamalah, seperti saat bertransaksi bisnis, jual beli, hingga urusan utang-piutang, sikap objektif dan adil sangat diperlukan. Khatib mengingatkan agar umat Islam senantiasa bersikap adil terhadap diri sendiri dan berlapang dada memaafkan kesalahan orang lain tanpa menuntut mereka untuk selalu bersikap sempurna kepada kita. Apabila kita dibalas dengan kecurangan atau perbuatan tidak baik, kita dilarang keras membalasnya dengan kejahatan yang sama agar tidak ikut menanggung dosa yang serupa.

Untuk memperjelas keindahan akhlak dalam membantu sesama, khutbah tersebut mengisahkan keteladanan Nabi saat menolong sahabat Jabir bin Abdillah yang sedang mengalami kesulitan keuangan menjelang pernikahannya. Rasulullah tidak langsung memberikan santunan begitu saja demi menjaga harga diri dan kehormatan (karamah) sang sahabat, melainkan memilih untuk membeli unta milik Jabir dengan harga yang baik. Uniknya, setelah transaksi selesai dan uang diserahkan, Rasulullah justru mengembalikan unta tersebut sebagai hadiah pernikahan untuk Jabir.

Sebagai penutup, Habib Mustofa mengajak seluruh jemaah untuk senantiasa mencontoh figur Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam agar mampu mengarungi berbagai gelombang ujian kehidupan yang tidak pernah surut. Dengan menanamkan pola pikir yang bersumber pada firman Allah dan tuntunan rasul, umat Islam diharapkan dapat memetik hikmah bahwa di balik setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Semangat Muharram harus dijadikan momentum bagi setiap pribadi, keluarga, dan masyarakat untuk berhijrah menuju moralitas yang lebih baik dan menyelamatkan diri dari kelalaian dunia.

Sumber: Khutbah Jum’at oleh Habib Mustofa Jamal bin Ridho Alaydrus di Masjid As Sakinah Pantai Mentari Surabaya pada tanggal 3 Juli 2026.

E-Buletin