Kabarmasjid.id, Surabaya – Suasana khusyuk menyelimuti pelaksanaan ibadah salat Jumat di Masjid Taqwa Surabaya pada Jumat 14 Agustus 2026, yang bertepatan dengan 1 Rabi’ul Awwal 1448 H. Bertindak sebagai khatib, Ustadz Faiq Martak, M.H., menyampaikan khutbah yang menyentuh realitas kehidupan masyarakat modern saat ini. Dalam uraiannya, beliau menekankan pentingnya membangun kesadaran spiritual di tengah gelombang ketidakpastian ekonomi dan dinamika sosial yang kian dinamis.
Perkembangan zaman dan tekanan ekonomi yang fluktuatif tak dipungkiri sering kali melahirkan kecemasan tersendiri di dalam diri manusia. Banyak orang yang terjebak dalam rasa takut berlebihan terkait urusan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Mulai dari kekhawatiran akan kelangsungan pekerjaan, ancaman kebangkrutan usaha, hingga ketakutan akan masa depan anggota keluarga yang belum terjamin secara finansial.
Ustadz Faiq Martak menyampaikan bahwa rasa takut tersebut sejatinya merupakan fitrah manusiawi dan ujian kehidupan yang sengaja diberikan oleh Allah SWT. Sebagaimana yang ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 155, setiap manusia memang akan diuji dengan sedikit ketakutan, kelaparan, serta kekurangan harta dan jiwa. Namun, kabar gembira dan keberkahan selalu dijanjikan bagi mereka yang mampu menyikapi setiap ujian tersebut dengan kesabaran.
Kendati demikian, khatib mengingatkan bahaya laten dari kecemasan duniawi yang tak terkendali. Tidak sedikit orang yang akhirnya nekat menempuh jalan yang dilarang oleh syariat demi mengamankan kepentingan finansialnya. Praktik-praktik tidak terpuji seperti berbohong, menipu, mengambil riba, hingga menerima suap kerap kali dijadikan jalan pintas hanya karena dorongan ketakutan akan kemiskinan dan kehilangan jabatan.
Di tengah kesibukan mengejar ketenangan materi, khatib mengajak seluruh jemaah untuk berfokus pada ketakutan yang jauh lebih hakiki, yaitu akhir dari kehidupan (khatimah). Sering kali porsi pikiran manusia dihabiskan untuk memikirkan urusan duniawi yang sifatnya sementara, sementara kesiapan menghadapi kematian justru dikesampingkan. Padahal, penentu keselamatan seorang hamba di akhirat sangat bergantung pada bagaimana kondisi akhirnya saat meninggalkan dunia ini.
Guna meraih kematian yang baik atau husnul khatimah, Ustadz Faiq Martak memaparkan empat langkah penting yang perlu dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Langkah pertama adalah menjaga keseimbangan antara amal lahir dan batin. Seorang muslim diimbau untuk menghindari sifat nifak khafi (kemunafikan yang tersembunyi), yaitu bersikap sangat taat dan cerdas menjaga citra di hadapan manusia, namun justru meremehkan dosa dan maksiat ketika berada dalam kesendirian.
Langkah kedua adalah dengan memperbanyak perbuatan baik kepada sesama manusia serta menjauhi segala bentuk kezaliman. Berbagai amalan kebaikan—baik melalui harta, ilmu, maupun tenaga—dapat menjadi benteng pelindung yang menghindarkan seseorang dari kematian yang buruk (su’ul khatimah). Sebaliknya, menyimpan permusuhan dan menganiaya sesama akan menjadi bekal paling buruk yang amat memberatkan manusia saat berhadapan dengan Sang Pencipta.
Langkah ketiga yang tidak kalah krusial adalah konsistensi dalam menuntut ilmu agama dan menghadiri majelis-majelis ilmu. Kehadiran di majelis ilmu berfungsi sebagai sarana untuk mengisi kembali daya keimanan (charge iman) yang kerap kali meluntur akibat tergerus kesibukan duniawi. Keterikatan yang kuat dengan ajaran agama dan bimbingan para ulama akan menjaga hati tetap hidup dan senantiasa berada dalam petunjuk-Nya.
Selanjutnya, langkah keempat adalah merutinkan doa kepada Allah SWT agar senantiasa diberikan keteguhan hati dalam memeluk Islam. Khatib mengajak jemaah untuk memperbanyak doa meminta ketetapan iman, seperti doa Ya Muqallibal qulub thabbit qulubana ‘ala dinik. Upaya lahiriah yang maksimal harus senantiasa diimbangi dengan kepasrahan dan permohonan doa agar Allah mematikan kita dalam keadaan terbaik dan terampuni segala dosanya.
Untuk memperkuat pesan tersebut, khatib membagikan sebuah kisah inspiratif yang dipetik dari catatan Dr. Khalid bin Abdul Aziz Al-Jubair, seorang dokter spesialis bedah jantung di Riyadh. Dalam kisahnya, terdapat seorang pemuda berusia 17 tahun yang menderita luka tembak parah di dadanya. Jelang wewenang medis dilakukan, pemuda tersebut justru dengan tenang meminta dihadapkan kepada kedua orang tuanya untuk menyampaikan permohonan maaf dan salam perpisahan, sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir sambil menguncapkan kalimat syahadat dengan sangat lancar.
Ketika dokter menanyakan amalan istimewa sang pemuda, sang ibu mengungkapkan bahwa anaknya memiliki kebiasaan konsisten sejak baligh yang sangat terjaga. Pemuda tersebut selalu menjadi yang terdepan dalam membangunkan keluarganya untuk salat berjemaah, rajin membaca Al-Qur’an, aktif mendirikan salat malam, serta bergegas menuju masjid begitu azan berkumandang. Kisah ini menegaskan pandangan ulama besar Ibnu Katsir bahwa pola kematian seseorang pada umumnya merupakan cerminan dari kebiasaan hidup yang dilakoni sehari-hari.

Mengakhiri khutbahnya, Ustadz Faiq Martak mengajak seluruh jemaah untuk menjadikan momentum Jumat sebagai ajang perbaikan diri dan peningkatan selawat kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan membiasakan diri berada dalam jalur ketaatan dan kepedulian sosial, setiap individu diharapkan mampu menghadapi dinamika kehidupan dunia dengan tenang sekaligus memiliki kesiapan terbaik saat panggilan pulang ke pangkuan-Nya itu tiba.
Sumber: Khutbah Jumat Ustadz Faiq Martak, M.H. di Masjid Taqwa Surabaya pada 14 Agustus 2026.