Antara Tren dan Ketulusan: Menguji Kualitas Iman Pasca-Ramadhan

Ustadz Isa Saleh Kuddeh, M.Pd.I
Ustadz Isa Saleh Kuddeh, M.Pd.I

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Menjaga konsistensi ibadah pasca-Ramadhan sering kali menjadi tantangan besar bagi setiap Muslim. Fenomena menurunnya semangat beribadah setelah bulan suci berlalu menjadi refleksi penting apakah penghambaan kita bersifat tulus atau hanya musiman. Tulisan ini merangkum pesan mendalam tentang hakikat menjadi hamba Allah yang sejati sebagaimana disampaikan dalam khutbah Jumat baru-baru ini.

Khutbah Jumat ini dilaksanakan pada tanggal 27 Maret 2026 di Masjid Al-Irsyad Surabaya. Bertindak sebagai khatib adalah Ustadz Isa Saleh Kuddeh, M.Pd.I, sementara imam salat Jumat dipimpin oleh Ustaz Fahmi bin Abdillah Mahri. Dalam kesempatan tersebut, khatib menekankan pentingnya mempertahankan kualitas takwa yang telah ditempa selama satu bulan penuh di bulan suci.

Mengawali khutbahnya, Ustadz Isa menyampaikan sebuah kisah inspiratif tentang seorang hamba sahaya di masa lalu. Budak tersebut terbiasa hidup di lingkungan keluarga yang sangat menjaga ibadah malam atau qiyamulail. Namun, keadaan berubah ketika ia dijual dan berpindah ke majikan baru yang gaya hidupnya sangat berbeda dalam urusan ibadah.

Di rumah barunya, hamba sahaya tersebut tetap bangun di tengah malam dan berseru mengajak penghuni rumah untuk melaksanakan salat malam. Namun, keluarga barunya justru terheran-heran dan bertanya apakah waktu subuh sudah tiba. Ketika dijawab belum, mereka menyatakan bahwa mereka tidak terbiasa melaksanakan salat malam dan hanya menunggu waktu fajar saja.

Mendengar jawaban itu, sang hamba sahaya merasa sangat sedih dan terasing. Ia kemudian meminta agar dirinya dikembalikan saja kepada keluarga majikannya yang pertama. Baginya, lingkungan yang tidak menghidupkan malam dengan sujud kepada Allah adalah lingkungan yang kering, meskipun kebutuhan fisiknya sebagai budak mungkin terpenuhi.

Kisah ini dihadirkan sebagai sindiran halus bagi kondisi umat Islam saat ini yang sering kali berubah drastis setelah Ramadhan berakhir. Khatib menyoroti bahwa banyak orang yang sebelumnya rajin ke masjid, kini mulai longgar. Mereka yang sebelumnya tidak pernah melewatkan salat witir atau tahajud, kini justru mulai meninggalkan kebiasaan mulia tersebut.

Beliau mempertanyakan apakah semangat ibadah kita di bulan Ramadhan hanya karena terbawa oleh situasi ramai dan tren lingkungan semata. Jika hati belum benar-benar tulus dan tunduk, maka ibadah akan terasa berat saat suasana Ramadhan hilang. Padahal, Allah yang kita sembah di bulan suci adalah Allah yang sama yang kita sembah di bulan-bulan lainnya.

Merujuk pada Al-Qur’an Surat Al-Hijr ayat 99, khatib mengingatkan perintah untuk menyembah Tuhan sampai datangnya keyakinan, yakni kematian. Ibadah tidak memiliki batas waktu operasional seperti kontrak kerja. Seorang Muslim sejati adalah mereka yang berkomitmen untuk terus menghamba tanpa terikat oleh pergantian bulan atau perubahan tempat.

Ramadan seharusnya tidak dipandang sebagai tujuan akhir dari perjalanan spiritual, melainkan sebagai wasilah atau sarana. Bulan tersebut adalah masa penggemblengan untuk meningkatkan kualitas iman dan karakter. Hasil dari pendidikan Ramadhan tersebut seharusnya tercermin pada istikamahnya seseorang dalam beribadah di luar bulan suci.

Khatib juga menekankan bahwa ketaatan tidak hanya terbatas pada ibadah ritual atau mahdlah saja. Ketaatan sosial yang telah dipraktikkan selama Ramadhan, seperti gemar bersedekah dan menjaga silaturahmi, juga harus dipertahankan. Hubungan baik dengan sesama manusia merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas seorang hamba Allah yang bertaubat.

Bagi mereka yang mampu menjaga keistiqamahan, Allah menjanjikan balasan yang luar biasa. Dalam Surat Fussilat, dijelaskan bahwa malaikat akan turun memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang istikamah di saat maut menjemput. Mereka akan ditenangkan dari rasa takut dan sedih, serta dijanjikan surga sebagai tempat kembali yang abadi.

Sebagai penutup, khutbah tersebut mengajak jemaah untuk memeriksa kembali hati masing-masing. Harapannya, setiap Muslim dapat bertransformasi menjadi hamba Allah yang sejati yang tidak terpengaruh oleh situasi dan kondisi. Semoga semangat Ramadhan tetap bersemi dalam sujud-sujud kita hingga ajal memanggil.

Sumber: Khutbah Jum’at Masjid Al Irsyad Surabaya 27 Maret 2026 bersama Ustadz Isa Saleh Kuddeh, M.Pd.I

E-Buletin