Kabarmasjid.id, Surabaya – Meneladani kehidupan dan keagungan Nabi Muhammad SAW merupakan agenda yang tiada pernah usai bagi umat Islam. Setiap majelis ilmu dan mimbar ibadah terus berupaya mengupas pelbagai sudut pandang mengenai akhlak mulia serta kedudukan istimewa yang dimiliki oleh Rasulullah SAW. Pemahaman mendalam mengenai aspek-aspek keutamaan ini menjadi fondasi penting untuk memperkuat rasa cinta (mahabbah) serta meningkatkan ketakwaan seorang hamba di tengah dinamika kehidupan modern saat ini.
Pesan-pesan keimanan tersebut mengemuka dalam pelaksanaan ibadah Salat Jumat yang berlangsung pada tanggal 4 September 2026 bertepatan dengan 22 Rabiul Awal 1448 Hijriah di Masjid Manarul Ilmi Kompleks Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Pada kesempatan tersebut, KH. Ahmad Dzulhilmi Ghozali Al-Hafidz, yang merupakan Imam Masjid Agung Ampel Surabaya, bertindak selaku khatib sekaligus imam. Dalam khutbahnya, beliau memaparkan secara rinci mengenai keagungan serta keutamaan istimewa yang dianugerahkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.
Mengawali khutbahnya, KH. Ahmad Dzulhilmi Ghozali mengingatkan seluruh jemaah yang hadir akan pentingnya senantiasa meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Allah SWT. Peningkatan takwa ini diwujudkan melalui kesungguhan dalam menjalankan seluruh perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya. Upaya taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah SWT inilah yang menjadi jalan utama bagi seorang muslim untuk meraih keridaan-Nya (mardhatillah) di dunia maupun di akhirat.
Khatib kemudian menyampaikan bahwa meskipun telah banyak dai, mubaligh, dan literatur yang mengulas keagungan pribadi Rasulullah SAW, sosok Beliau sebagai manusia sempurna tidak akan pernah habis untuk digali. Salah satu puncak pujian atas kepribadian Rasulullah SAW tertuang langsung dalam Al-Qur’an, di mana Allah SWT menegaskan bahwa Beliau berdiri di atas landasan akhlak yang sangat agung (Wa innaka la’ala khuluqin ‘adzim). Keluhuran budi pekerti inilah yang menjadi bekal utama dalam mengemban risalah kenabian.
Lebih lanjut, khatib menjelaskan bahwa keluhuran akhlak bukanlah satu-satunya sisi keutamaan yang dimiliki oleh Rasulullah SAW. Terdapat banyak keistimewaan lain yang menempatkan kedudukan Beliau melampaui para nabi dan rasul terdahulu. Keutamaan pertama yang disoroti adalah penciptaan Rasulullah SAW yang mendahului seluruh makhluk lainnya, sebagaimana disebutkan dalam riwayat bahwa Beliau adalah nabi pertama yang diciptakan dan yang terakhir diutus ke muka bumi.
Penciptaan awal tersebut berwujud Nur atau Cahaya yang senantiasa bertasbih dan menyucikan Allah SWT jauh sebelum Nabi Adam AS diciptakan. Cahaya kenabian ini berada di sisi Allah SWT dan disaksikan oleh para malaikat yang turut mengumandangkan tasbih mengikutinya. Keberadaan Nur Muhammad ini menegaskan bahwa sejak sebelum panggung sejarah manusia dimulai, kedudukan dan keberkahan Rasulullah SAW telah ditetapkan di tempat yang paling mulia.
Keutamaan kedua yang dipaparkan dalam khutbah tersebut adalah kedudukan Rasulullah SAW sebagai Mithaq atau perjanjian yang diambil oleh Allah SWT dari para nabi terdahulu. Allah SWT telah mengambil janji setia dari seluruh nabi dan rasul agar mereka beriman serta bersedia menolong Rasulullah SAW manakala Beliau diutus. Hal ini menegaskan bahwa seluruh risalah kenabian terdahulu berada dalam satu benang merah yang mengarah dan membenarkan kenabian Muhammad SAW.
Sesuai dengan konsekuensi perjanjian tersebut, apabila ada nabi dari masa lalu yang hidup pada zaman Rasulullah SAW atau setelahnya, maka nabi tersebut wajib tunduk dan menjalankan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Khatib mencontohkan Nabi Isa AS yang kelak diturunkan kembali menjelang hari kiamat akan beribadah dan memimpin umat berdasarkan syariat Islam. Begitu pula riwayat penegasan bahwa seandainya Nabi Musa AS masih hidup, tidak ada pilihan lain baginya kecuali menjadi pengikut Rasulullah SAW.
Poin keutamaan ketiga yang dibahas secara mendalam oleh khatib berkaitan dengan tata cara Allah SWT menyapa dan memanggil para nabi di dalam Al-Qur’an. Jika nabi-nabi terdahulu dipanggil secara langsung menggunakan nama pribadi mereka seperti “Ya Adam”, “Ya Nuh”, “Ya Ibrahim”, maupun “Ya Musa”, maka hal berbeda berlaku bagi Nabi Muhammad SAW. Allah SWT tidak pernah memanggil Beliau secara langsung hanya dengan nama diri di dalam kalam-Nya.
Dalam Al-Qur’an, panggilan Allah SWT kepada Rasulullah SAW senantiasa menggunakan sebutan kehormatan atau jabatannya, seperti “Ya ayyuhar-Rasul” atau “Ya ayyuhan-Nabi”. Bahkan ketika nama “Muhammad” tercantum di dalam ayat-ayat Al-Qur’an, konteksnya selalu disampaikan dalam bentuk kalimat berita yang diiringi dengan gelar kerasulannya. Penggunaan tata bahasa dan pemanggilan khusus ini menjadi bukti tekstual betapa tingginya penghormatan Sang Pencipta terhadap kedudukan Beliau.
Berlandaskan pada keistimewaan tersebut, Islam melarang keras umatnya untuk memanggil atau menyebut nama Nabi Muhammad SAW secara sembarangan layaknya memanggil sesama manusia biasa. Syariat mengajarkan agar setiap muslim senantiasa menyertakan rasa hormat dan pemuliaan saat menyebut nama Beliau, yaitu dengan menggunakan sapaan kehormatan seperti “Ya Rasulullah” atau “Ya Nabiyallah”, serta mengiringinya dengan bacaan shalawat dan salam.

Sebagai penutup khutbah, KH. Ahmad Dzulhilmi Ghozali mengajak seluruh jemaah untuk tidak sekadar mengagumi keutamaan Rasulullah SAW secara lisan, melainkan meneladaninya dalam tindakan nyata sehari-hari. Melalui pemahaman akan kedudukan mulia Nabi Muhammad SAW, diharapkan umat Islam dapat memperkuat ikatan spiritual, menjaga persatuan, serta senantiasa memohon taufik dan hidayah dari Allah SWT agar dapat istikamah berjalan di atas sunah Rasul-Nya hingga akhir hayat.
Sumber: Khutbah Jumat yang disampaikan oleh KH. Ahmad Dzulhilmi Ghozali Al-Hafidz di Masjid Manarul Ilmi ITS Surabaya pada tanggal 4 September 2026