Agar Tak Jauh dari Cahaya Ilahi, Kenali 3 Sifat Al-Qur’an Ini

Ustadz H. M. Ikrom Rijal, Lc., MA
Ustadz H. M. Ikrom Rijal, Lc., MA

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Mengenal Al-Qur’an bukan sekadar mampu mengeja huruf-huruf hijaiyah atau mengkhatamkan bacaannya berkali-kali. Lebih dari itu, membangun hubungan emosional dan spiritual dengan kitab suci memerlukan pemahaman mendalam atas karakter yang dimilikinya agar ia tidak sekadar menjadi hiasan rak buku, melainkan menjadi kompas hidup yang hidup dalam sanubari.

Kajian “Mimbar Zuhur” yang berlangsung pada Selasa, 7 April 2026 di Masjid Al Falah Surabaya menghadirkan Ustadz H. M. Ikrom Rijal, Lc., MA. sebagai narasumber utama. Dalam tausiyahnya, beliau menekankan pentingnya motivasi Al-Qur’an agar setiap Muslim tidak hanya sekadar membaca, tetapi juga mengenal karakter khas kitabullah agar tidak merasa jauh dari keberkahannya.

Ustadz Ikrom mengawali kajian dengan mengajak jamaah melakukan refleksi diri mengenai sejauh mana interaksi yang telah dibangun dengan Al-Qur’an selama puluhan tahun hidup di dunia. Beliau mengibaratkan hubungan tersebut seperti suami istri yang seharusnya sudah saling memahami karakter masing-masing setelah sekian lama hidup bersama dalam satu atap.

Karakter pertama yang harus dipahami adalah Al-Qur’an memiliki sifat yang “cepat menjauh” jika tidak dijaga dengan keseriusan. Mengutip pesan Rasulullah SAW, Ustadz Ikrom menjelaskan bahwa Al-Qur’an ibarat unta liar yang sedang diikat, yang mana jika ikatannya dilepaskan sedikit saja, ia akan lari menjauh dengan sangat cepat.

Sifat ini menjadi pengingat bahwa niat untuk belajar tafsir, memperlancar bacaan, atau menghafal tidak akan pernah tercapai jika hanya menjadi angan-angan tanpa tindakan nyata. Al-Qur’an tidak bisa “ditunggu”, melainkan harus dikejar dan diseriusi dengan dedikasi waktu yang konsisten agar ia tetap melekat dalam ingatan dan hati.

Keseriusan dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an mutlak memerlukan pengorbanan, baik itu pengorbanan waktu istirahat maupun kenyamanan diri. Seseorang yang mengaku ingin dekat dengan Al-Qur’an namun tidak mau bersusah payah mengalokasikan waktunya, pada hakikatnya belum memahami betapa cepatnya Al-Qur’an bisa terlepas dari seorang hamba.

Berlanjut ke poin kedua, narasumber menjelaskan bahwa Al-Qur’an memiliki kedudukan yang sangat tinggi (ya’lu wala yu’la alaih). Sebagai Kalamullah, tidak ada satu pun perkataan manusia atau teori dunia yang mampu melebihi kemuliaan dan kebenaran yang terkandung di dalam setiap ayatnya.

Dalam menyikapi ketinggian Al-Qur’an, seorang Muslim harus menempatkan dirinya “di bawah” Al-Qur’an dengan penuh kerendahan hati. Kesalahan besar terjadi ketika manusia merasa lebih pintar dan mencoba menghukumi Al-Qur’an dengan dalih kontekstualisasi yang justru merendahkan otoritas wahyu tersebut.

Ustadz Ikrom menegaskan bahwa Al-Qur’an-lah yang seharusnya menghukumi manusia, bukan manusia yang menghukumi Al-Qur’an. Ketika seseorang membaca Al-Qur’an dengan hati yang tunduk dan tawaduk, maka ia akan merasakan manisnya iman serta kesegaran jiwa yang tidak bisa ditemukan dalam bacaan lain mana pun.

Karakter ketiga yang dibahas adalah bahwa segala sesuatu yang tersambung atau tersentuh oleh Al-Qur’an pasti akan mendapatkan keberkahan. Hal ini terbukti dari malam Lailatul Qadar yang menjadi mulia karena turunnya Al-Qur’an, hingga rumah tangga yang menjadi tenang karena senantiasa dibacakan ayat-ayat suci di dalamnya.

Sebaliknya, hati yang kosong dari Al-Qur’an diibaratkan seperti rumah gelap yang akan menjadi sarang “binatang buas” berupa penyakit hati. Kegelapan batin akibat jauh dari Al-Qur’an sering kali menjadi akar dari munculnya sifat buruk seperti rasa dendam, buruk sangka, hingga stres yang berkepanjangan.

Sebagai solusi atas problematika jiwa, Al-Qur’an hadir sebagai obat (syifa) yang mampu menenangkan depresi dan memberikan cahaya di tengah kebingungan. Ustadz Ikrom mengingatkan bahwa tidak ada orang yang benar-benar akrab dengan Al-Qur’an akan merasa putus asa dalam menjalani ujian kehidupan di dunia.

Menutup kajiannya, beliau mengingatkan bahwa Al-Qur’an adalah teman sejati yang tidak akan meninggalkan pembacanya, terutama saat memasuki alam kubur yang masanya jauh lebih lama dari dunia. Dengan rutin membaca surah-surah tertentu seperti Al-Mulk, seorang hamba sejatinya sedang menyiapkan pembela yang akan menemani dan melindunginya dari azab kubur kelak.

Sumber: Mimbar Zuhur”di Masjid Al Falah Surabaya pada Selasa, 7 April 2026 oleh Ustadz H. M. Ikrom Rijal, Lc., MA dengan tajuk “Motivasi Al-Qur’an: Mengenal Karakter Al-Qur’an”

E-Buletin