Waspada Sikap ‘Affakin Atsim’: Ancaman bagi Mereka yang Sombong Terhadap Ayat Allah

Ustadz Umar Husein Assegaf
Ustadz Umar Husein Assegaf

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surakarta – Al-Qur’an bukan sekadar teks sejarah, melainkan petunjuk hidup yang menawarkan solusi konkret bagi ketenangan batin manusia. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang sering kali membuat kita abai, merenungi setiap ayat menjadi keharusan agar kita tidak terjebak dalam kesombongan yang membinasakan. Kajian rutin Tafsir Al-Qur’an yang diadakan di Masjid Jami’ Assagaf, Surakarta, pada Sabtu pagi, 11 April 2026, menjadi momen penting bagi jemaah untuk memperdalam pemahaman ini bersama narasumber Ustadz Umar Husein Assegaf.

Pada awal pemaparannya, Ustadz Umar menekankan pentingnya momen pasca-Ramadhan sebagai ajang istiqamah dalam ibadah. Beliau mengajak jemaah untuk saling memaafkan agar hati kembali bersih dan siap menerima cahaya kebenaran dari ayat-ayat Allah. Fokus utama kajian kali ini adalah membedah Surah Al-Jatsiyah, dimulai dari ayat ketujuh yang memberikan peringatan keras kepada mereka yang gemar berdusta dan bergelimang dosa.

Al-Qur’an menggunakan istilah affakin atsim untuk menggambarkan sosok pendusta yang melampaui batas. Ustadz Umar menjelaskan bahwa kecelakaan besar menanti orang-orang yang ketika dibacakan ayat Allah, mereka mendengarnya dengan jelas namun tetap bersikap sombong. Kesombongan ini didefinisikan secara tegas sebagai penolakan terhadap kebenaran yang datang, seolah-olah telinga mereka tertutup dari petunjuk Ilahi.

Sikap abai terhadap ayat-ayat Allah ini sering kali berujung pada tindakan meremehkan atau menjadikan agama sebagai bahan olok-olok. Ustadz Umar mengingatkan bahwa bagi mereka yang menghina ayat Allah, telah disiapkan azab yang menghinakan. Tidak ada harta benda, jabatan, maupun anak keturunan yang mampu menjadi penebus di hari kiamat kelak, karena segalanya menjadi tidak bernilai di hadapan keadilan Allah.

Kajian ini juga menyoroti sejarah turunnya ayat ini yang berkaitan dengan tokoh bernama An-Nadr bin al-Harits. Ia dikenal sering membeli dongeng-dongeng asing untuk menjauhkan masyarakat Quraisy dari mendengarkan Al-Qur’an. Pola ini masih relevan hingga sekarang, di mana banyak narasi duniawi sengaja diciptakan untuk membuat manusia sibuk dan lalai dari mempedulikan pesan-pesan suci yang menuntun pada keselamatan.

Ustadz Umar kemudian memberikan perspektif menarik mengenai kebahagiaan. Beliau menegaskan bahwa kebahagiaan batin tidak selalu berbanding lurus dengan kekayaan zahir. Dicontohkan bagaimana Bilal bin Rabah merasakan nikmatnya iman justru saat disiksa di bawah terik matahari. Hal ini mengajarkan bahwa orientasi seorang mukmin seharusnya adalah ketenangan jiwa yang didapat melalui ketaatan, bukan sekadar mengejar posisi sebagai konglomerat.

Selanjutnya, pembahasan beralih pada kuasa Allah yang menundukkan alam semesta demi kepentingan manusia. Allah menundukkan lautan agar kapal dapat berlayar dan manusia bisa mencari nafkah melalui perdagangan maupun sumber daya laut. Semua fasilitas alam ini, mulai dari bintang di langit hingga gunung di bumi, merupakan pemberian istimewa dari Allah agar manusia senantiasa bersyukur.

Salah satu poin mendalam dalam kajian ini adalah tentang konsep ni’mah (kenikmatan) versus niqmah (siksaan/bencana). Pemberian Allah bisa menjadi karunia yang membawa pahala jika disyukuri, namun bisa pula menjadi istidraj atau jebakan jika membuat seseorang makin jauh dari-Nya. Ustadz Umar mengajak jemaah untuk selalu berdoa agar setiap pemberian Allah menjadi wasilah untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Pentingnya menjaga kesucian diri dari perkara haram juga menjadi sorotan utama. Beliau menceritakan keistimewaan Syekh Abu Yazid Al-Bustami yang memiliki sensitivitas luar biasa terhadap hal syubhat. Tubuhnya akan bereaksi secara fisik melalui getaran urat sebagai sinyal peringatan jika ada sesuatu yang tidak halal akan masuk ke dalam tubuhnya, sebuah tingkat kewaspadaan yang lahir dari ketakwaan tingkat tinggi.

Ustadz Umar juga meluruskan pemahaman mengenai karamah atau kemuliaan. Beliau menceritakan kisah Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq yang memuntahkan susu karena ternyata berasal dari upah yang tidak halal. Perbedaan reaksi antara Abu Bakar dan Abu Yazid menunjukkan bahwa setiap kekasih Allah memiliki jalan kemuliaannya masing-masing, namun semuanya berpijak pada satu prinsip: keteguhan dalam menjalankan syariat.

Eksistensi karamah di tengah umat Muhammad SAW adalah bukti kasih sayang Allah. Ustadz Umar menekankan bahwa kita tidak boleh alergi terhadap hal-hal luar biasa yang dialami para kekasih Allah. Keajaiban tersebut ada untuk menguatkan iman umat dan menunjukkan bahwa istiqamah dalam ketaatan akan membuahkan hasil yang melampaui nalar manusia biasa.

Sebagai penutup, kajian diakhiri dengan doa bersama untuk kesembuhan kerabat jemaah yang sedang sakit dan harapan agar seluruh jemaah dikumpulkan bersama orang-orang saleh di akhirat. Pesan utama yang dibawa pulang adalah bahwa Al-Qur’an adalah hidayah yang nyata. Siapa pun yang ingin hidupnya tenang, nyaman, dan selamat, maka tidak ada jalan lain kecuali kembali merujuk pada tuntunan Al-Qur’an dalam setiap aspek kehidupan.

Sumber: Kajian Tafsir Al-Qur’an yang disampaikan oleh Ustadz Umar Husein Assegaf di Masjid Jami’ Assagaf, Surakarta, pada tanggal 11 April 2026.

E-Buletin