Wasiat Nabi dalam Al Adabul Mufrad: Dari Larangan Syirik hingga Rahasia Keberkahan Nafkah

Ustadz Sholeh Al Jufri
Ustadz Sholeh Al Jufri

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Solo – Di tengah dinamika kehidupan modern yang penuh tantangan, kebutuhan akan bimbingan spiritual menjadi sangat krusial. Nilai-nilai agama hadir sebagai kompas untuk menjaga integritas moral dan keharmonisan dalam keluarga serta bermasyarakat. Salah satu kajian mendalam mengenai adab dan tuntunan hidup telah disampaikan dengan sangat menyejukkan.

Kajian Pagi yang inspiratif ini menghadirkan Ustadz Sholeh Al Jufri sebagai narasumber utama dengan membahas kitab Al Adabul Mufrad karya Imam Bukhari. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 23 Desember 2025, bertempat di Masjid Jami’ Assagaf, Surakarta. Dalam ceramahnya, beliau menekankan pentingnya menjaga hubungan baik kepada Sang Pencipta dan sesama manusia sebagai fondasi kebahagiaan dunia serta akhirat.

Poin pertama yang ditekankan oleh Ustadz Sholeh Al Jufri adalah pentingnya menjaga ketauhidan. Beliau mengingatkan bahwa syirik merupakan dosa besar yang dapat menutup pintu ampunan Allah jika pelakunya meninggal tanpa bertaubat. Selain syirik besar, umat juga diminta waspada terhadap syirik kecil seperti riya atau pamer, yang secara halus dapat menghapuskan pahala amal kebaikan yang telah dilakukan dengan susah payah.

Selanjutnya, beliau membahas tentang urgensi ibadah salat sebagai tiang agama. Salat bukan sekadar rutinitas, melainkan perlindungan langsung dari Allah SWT bagi hamba-Nya. Dengan menjaga salat lima waktu, seseorang tidak hanya menggugurkan kewajiban, tetapi juga secara otomatis menghapus dosa-dosa kecil yang mungkin dilakukan di antara waktu-waktu salat tersebut, sehingga kesucian jiwa tetap terjaga.

Dalam aspek sosial, Ustadz Sholeh memberikan peringatan keras terhadap bahaya khamar dan zat memabukkan lainnya, termasuk narkoba. Beliau menyebut hal-hal tersebut sebagai kunci dari segala pintu keburukan. Ketika kesadaran seseorang hilang akibat pengaruh zat tersebut, maka potensi untuk melakukan berbagai kemaksiatan lain akan terbuka lebar, yang pada akhirnya merugikan diri sendiri maupun lingkungan sekitar.

Topik bakti kepada orang tua juga menjadi sorotan utama dalam kajian ini. Ust. Sholeh menjelaskan bahwa kepatuhan kepada orang tua adalah kewajiban mutlak bagi setiap anak, selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan syariat Allah. Namun, jika orang tua mengajak pada kemaksiatan yang nyata, seorang anak harus menolak dengan cara yang tetap santun tanpa menghilangkan rasa hormat kepada mereka.

Selain hubungan keluarga, kajian ini menyentuh aspek kenegaraan mengenai ketaatan kepada pemimpin atau pemerintah yang sah. Beliau menjelaskan bahwa menjaga stabilitas negara sangat penting demi keamanan nyawa manusia dan ketenangan hidup. Menghindari konflik atau pemberontakan terhadap pemerintah yang sah adalah bentuk kearifan untuk mencegah pertumpahan darah yang jauh lebih merusak bagi tatanan masyarakat.

Dalam konteks perjuangan atau jihad, Ustadz Sholeh mengingatkan umat agar memiliki mentalitas yang kuat dan tidak mudah menyerah. Keteguhan hati dalam membela kebenaran adalah sifat mulia, meskipun dalam situasi sulit sekalipun. Namun, beliau juga menjelaskan bahwa dalam strategi militer Islam, mundur untuk mengatur siasat kembali atau menghadapi kekuatan yang sangat tidak berimbang diperbolehkan demi kemaslahatan yang lebih besar.

Beralih ke tanggung jawab dalam rumah tangga, narasumber menekankan peran suami sebagai kepala keluarga dalam memberikan nafkah. Seorang suami diminta untuk royal atau dermawan kepada anak dan istrinya sesuai dengan kemampuan finansial yang dimiliki. Memberikan nafkah dengan ikhlas tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik keluarga, tetapi juga mendatangkan keberkahan yang luar biasa dalam harta yang dikelola.

Pembahasan yang cukup mendalam juga mengenai cara mendidik istri dan anak. Ustadz Sholeh menjelaskan makna hadis tentang “tongkat” dalam rumah tangga bukan sebagai anjuran kekerasan fisik. Sebaliknya, itu adalah simbol kewibawaan dan bimbingan yang harus dimiliki suami agar keluarga tetap disiplin dalam menjalankan agama. Suami harus menjadi sosok yang disegani karena kebijaksanaannya, bukan ditakuti karena kekejamannya.

Beliau juga menegaskan bahwa kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang menyakiti fisik hingga meninggalkan bekas adalah perbuatan yang diharamkan dalam Islam. Mencontoh Nabi Muhammad SAW yang tidak pernah memukul keluarganya, pendidikan dalam rumah tangga seharusnya mengedepankan nasihat yang lembut. Jika pun diperlukan tindakan tegas, hal itu harus dilakukan tanpa menghina mental atau menyakiti fisik anggota keluarga.

Sebagai penutup, Ustadz Sholeh Al Jufri mengajak para kepala keluarga untuk menanamkan rasa takut kepada Allah di hati anggota keluarga mereka. Dengan menceritakan konsekuensi amal di akhirat, diharapkan istri dan anak-anak memiliki kesadaran mandiri untuk beribadah. Harapan besarnya adalah agar kebersamaan di dunia ini dapat berlanjut hingga ke surga-Nya kelak dalam keadaan selamat dan bahagia.

Sumber: Kajian Pagi Masjid Jami’ Assagaf Surakarta  oleh Ustadz Sholeh Al Jufri membahas kitab Al Adabul Mufrad karya Imam Bukhari

E-Buletin