Kabarmasjid.id, Surabaya – Kualitas hidup seorang Muslim tidak hanya ditentukan oleh seberapa giat ia beribadah, tetapi juga dari apa yang ia konsumsi setiap harinya. Makanan bukan sekadar pemuas lapar, melainkan bahan bakar bagi fisik dan ruhani yang menentukan terkabulnya doa hingga kejernihan hati. Dalam sebuah sesi spiritual yang menyejukkan, urgensi memilih asupan yang tepat menjadi sorotan utama bagi jamaah yang hadir.
Kajian menjelang berbuka puasa ini dilaksanakan pada Minggu, 22 Februari 2026, bertempat di Masjid Al Falah Surabaya. Menghadirkan narasumber Ustadz H. Khoirul Faizin, Lc, M.Ag, beliau membedah tema mendalam bertajuk “Makananmu Sumber Segala Kehidupan”. Dalam paragraf pembukanya, beliau mengingatkan pentingnya syukur yang harus diwujudkan melalui hati, lisan, dan anggota tubuh untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Memasuki inti materi, Ustadz Khoirul Faizin merujuk pada Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 168. Ayat tersebut memerintahkan umat manusia untuk mengonsumsi makanan yang memenuhi dua kriteria utama, yakni halalan (halal) dan thayyiban (baik/sehat). Beliau menekankan bahwa konsep halal tidak hanya berhenti pada zat makanannya saja, tetapi juga pada cara atau proses bagaimana makanan tersebut didapatkan oleh seseorang.
Secara lebih rinci, beliau menjelaskan bahwa makanan yang secara zatnya halal, seperti air mineral atau nasi, bisa berubah menjadi haram jika diperoleh dengan cara yang batil, misalnya dari hasil mencuri atau korupsi. Oleh karena itu, kejujuran dalam mencari nafkah menjadi fondasi utama sebelum makanan tersebut masuk ke dalam tubuh. Hal ini merupakan peringatan keras bagi setiap kepala keluarga dalam menafkahi istri dan anak-anak mereka.
Kriteria kedua, yakni thayyib, dimaknai sebagai sesuatu yang tidak membahayakan bagi fisik maupun akal. Ustadz Khoirul Faizin memberikan ilustrasi yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari: gula adalah zat yang halal, namun ia tidak lagi thayyib bagi seorang penderita diabetes. Begitu pula dengan gorengan yang mungkin halal secara syariat, namun bisa menjadi tidak thayyib bagi mereka yang berisiko kolesterol tinggi.
Dampak dari mengabaikan prinsip halal dan thayyib ini ternyata sangat fatal bagi kehidupan keluarga. Ustadz Khoirul Faizin menyebutkan bahwa makanan yang haram dapat mempengaruhi perilaku anggota keluarga. Jika seorang istri sering membangkang atau anak-anak sulit menerima pelajaran meski sudah diberikan fasilitas terbaik, maka orang tua perlu bermuhasabah apakah rezeki yang dibawa pulang sudah benar-benar bersih dari jalur yang haram.
Lebih jauh lagi, asupan yang tidak halal menjadi penghalang utama terkabulnya doa-doa yang dipanjatkan. Beliau menceritakan sebuah hadis tentang seseorang yang menengadahkan tangan ke langit sambil berseru “Ya Rabb, Ya Rabb”, namun Rasulullah SAW menyatakan bagaimana mungkin doanya dikabulkan jika pakaian dan makanannya berasal dari sumber yang haram. Ini menjadi pelajaran penting agar kita tidak hanya menuntut pengabulan doa tanpa memperbaiki sumber nafkah.
Kesehatan Rasulullah SAW pun menjadi teladan yang diangkat dalam kajian ini. Ustadz menjelaskan bahwa Nabi hampir tidak pernah sakit kronis sepanjang hayatnya karena disiplin dalam menjaga perut. Salah satu rahasia utamanya adalah membagi kapasitas lambung menjadi tiga bagian yang seimbang: sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air, dan sepertiga sisanya untuk ruang napas.
Pola makan yang terkendali ini juga dipraktikkan oleh para sahabat dan penduduk Madinah di masa lalu. Mereka memegang prinsip “tidak makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang”. Pola hidup minimalis dalam mengonsumsi makanan ini terbukti mampu menciptakan masyarakat yang kuat secara fisik dan bugar, sehingga energi mereka bisa dialokasikan sepenuhnya untuk produktivitas dan ibadah.
Selain masalah fisik, makanan haram juga berisiko membuat hati seseorang menjadi keras. Ustadz mengutip kisah Imam Syafi’i yang mengadu kepada gurunya, Imam Waki’, tentang lemahnya daya ingat. Sang guru berpesan bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan masuk ke dalam hati yang kotor akibat maksiat, termasuk maksiat dalam urusan perut dan cara meraih rezeki.
Di penghujung kajian, Ustadz Khoirul Faizin mengajak jamaah untuk memanfaatkan momentum Ramadan sebagai ajang pendidikan atau syahrut tarwiyah. Ramadan harus menjadi madrasah bagi setiap Muslim untuk melatih disiplin dalam memilah dan memilih apa yang masuk ke dalam tubuh, serta memastikan setiap rupiah yang didapat berasal dari cara-cara yang diridhai oleh Allah SWT.
Kajian ini ditutup dengan untaian doa yang khusyuk, memohon agar Allah memberikan bimbingan bagi setiap hamba untuk selalu istiqamah di jalur yang halal. Dengan menjaga kualitas makanan, diharapkan setiap Muslim dapat merasakan manisnya iman dan ketenangan dalam beribadah, sehingga kehidupan yang dijalani menjadi sumber kebaikan bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar.
Sumber: Kajian menjelang berbuka puasa di Masjid Al Falah Surabaya yang disampaikan oleh Ustadz H. Khoirul Faizin, Lc, M.Ag dengan tema “Makananmu Sumber Segala Kehidupan”.