Ujian Terberat Anak: Mengapa Orang Tua Kembali Seperti Anak Kecil? Ini Rahasia Berbakti Menurut Islam

KH. DR. Faris Khoirul Anam, Lc, M.Hi.
KH. DR. Faris Khoirul Anam, Lc, M.Hi.

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Setiap manusia diciptakan dalam ruang lingkup perjuangan dan kesulitan, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an. Namun, bagaimana seharusnya kita menyikapi tantangan ini agar tidak terjerumus pada kesalahan fatal yang pernah dilakukan oleh umat terdahulu? Inilah yang menjadi inti pembahasan dalam Kajian Rutin Sabtu Bada Maghrib 17 November 2025 yang disampaikan oleh KH. DR. Faris Khoirul Anam, Lc, M.Hi., bertempat di Masjid Agung Jami Malang. Kajian ini mengupas tuntas perintah Allah SWT kepada Bani Isra’il yang relevan untuk seluruh umat manusia.

KH. Faris mengawali kajiannya dengan menyoroti delapan perjanjian yang diambil oleh Allah SWT dari Bani Isra’il, yang terangkum dalam Al-Qur’an. Perjanjian ini menekankan pentingnya menjaga hubungan vertikal dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan horizontal dengan sesama manusia (hablum minannas).

Perintah pertama dan utama adalah tauhid, yakni larangan keras untuk menyekutukan Allah (La Ta’buduna Illallah). Pondasi keimanan ini adalah kunci keselamatan, yang mendasari semua perintah dan larangan lainnya dalam kehidupan.

Setelah itu, disusul dengan perintah untuk berbuat baik kepada orang tua (Wabil Walidaini Ihsana), yang merupakan perintah hablum minannas paling mendasar. Saking pentingnya, perintah berbakti kepada orang tua disebutkan tepat setelah perintah bertauhid.

Tak hanya itu, perintah kebaikan tersebut dilanjutkan dengan kewajiban berbuat baik kepada kerabat, serta anak-anak yatim. Mereka adalah golongan yang memiliki hak khusus atas perhatian dan santunan dari orang-orang beriman.

Rangkaian perjanjian dilanjutkan dengan berbuat baik terhadap orang-orang miskin. Puncak dari perjanjian Bani Isra’il tersebut, yang juga disyariatkan bagi umat Islam, adalah melaksanakan salat dan menunaikan zakat sebagai manifestasi ibadah vertikal dan sosial.

Ironisnya, KH. Faris menjelaskan, Bani Isra’il berpaling dari kedelapan perjanjian tersebut, bahkan mengingkarinya, kecuali sebagian kecil saja. Pelanggaran ini menjadi pelajaran berharga: agar umat Nabi Muhammad ﷺ tidak melakukan pembangkangan serupa.

Kajian kemudian beralih ke hakikat penciptaan manusia dalam kesulitan, mengutip firman Allah, “Laqod khalaqnal insana fi kabad,” yang berarti manusia diciptakan dalam kondisi kesusahan. Kondisi ini menegaskan bahwa hidup di dunia adalah perjuangan.

Dalam konteks tafsir, kesulitan ini dimaknai sebagai ‘masalah’ atau kesenjangan antara ‘seharusnya’ (idealisme) dan ‘kenyataan’ (realita). Sebagai contoh, idealnya seseorang sehat, namun kenyataannya ia sakit. Itulah yang disebut masalah.

Beliau mengklasifikasikan masalah menjadi dua jenis. Pertama, masalah duniawi yang akan selesai di dunia, misalnya penyakit fisik. Masalah ini tidak akan dibawa hingga meninggal dunia, sehingga tidak memengaruhi nasib di Akhirat.

Jenis masalah kedua yang paling krusial adalah masalah yang dibawa hingga Akhirat, yaitu masalah yang menimpa agama, seperti meninggalkan salat atau menahan zakat. Masalah pada agama tidak akan ditutupi atau diganti pahalanya kecuali dengan taubatan nasuha yang diterima.

Lebih lanjut tentang Birrul Walidain, KH. Faris menekankan bahwa baktinya seorang anak tidak berhenti saat orang tua wafat. Bakti itu berlanjut dengan menunaikan janji-janji orang tua, memuliakan teman-teman mereka, dan yang paling utama, adalah mendoakan dan memohonkan ampunan (Istighfar) untuk keduanya.

Berbakti kepada orang tua dan membangun karakter mulia adalah soft skill yang sangat penting. Jika hard skill (keterampilan) dapat membantu seseorang mendapatkan pekerjaan, maka soft skill (kejujuran, tanggung jawab) akan membuatnya bertahan dan berhasil dalam pekerjaannya, bahkan menjadikannya bernilai Akhirat.

Ujian terberat dalam Birrul Walidain datang saat orang tua memasuki masa tua renta (Waman Nu’ammirhu Nunqishu fil Khalqi), di mana kondisi fisik dan akal mereka kembali seperti anak kecil. Kesabaran dalam merawat orang tua yang kembali “mengompol” atau sering mengulang pertanyaan adalah puncak bakti seorang anak.

Sebagai penutup, KH. Faris mendoakan agar umat Islam dapat menjalankan seluruh syariat, termasuk delapan perjanjian tersebut. Semoga kita semua, keluarga, dan keturunan kita menjadi generasi yang Qurrata A’yun (penyenang hati) serta wafat dalam keadaan Husnul Khatimah.

Sumber : Kajian Kitab Tafsir Alqur’an Rowailul Bayan oleh KH. DR. Faris Khoirul Anam, Lc, M.Hi., di Channel Youtube Masjid Jami’ Malang

E-Buletin