KabarMajid.id, Surabaya – Pentingnya menadaburi Al-Qur’an dan Sunnah seringkali mengungkap rahasia-rahasia kehidupan yang melampaui logika duniawi kita. Hal ini menjadi inti dalam kajian yang diselenggarakan oleh Masjid Diponegoro Surabaya dengan judul “Tadabbur Qur’an: Dahan Pohon di Surga Terbuat dari Emas.” Pada Rabu 3 Desember 2025. Kajian ini disampaikan oleh Ustadz HM. Amrulloh Muzayyin yang mengupas tuntas perbandingan antara kenikmatan abadi di Surga dan azab pedih di Neraka, serta bagaimana kita menyikapi ujian hidup sehari-hari.
Salah satu poin menakjubkan yang disorot adalah gambaran pohon-pohon di Surga. Berbeda dengan pohon-pohon di dunia yang terbuat dari kayu, kajian ini menyebutkan bahwa di Surga, dahan-dahan pohon terbuat dari emas.
Konsep ini secara langsung menunjukkan betapa kecilnya nilai emas dan kekayaan dunia di mata Allah SWT. Jika dahan pohon yang tak terhitung jumlahnya saja terbuat dari emas, lantas seberapa bernilainya harta yang kita perebutkan di dunia ini? Nilainya menjadi sangat kecil, bahkan tak berarti, dibandingkan dengan apa yang Allah sediakan bagi hamba-Nya yang beriman.
Lebih dari sekadar materi, pohon di Surga melambangkan iman. Sebagaimana pohon di dunia memberikan manfaat dengan mengeluarkan oksigen di siang hari, orang beriman (yang mendapat cahaya hidayah) juga harus mengeluarkan manfaat bagi lingkungan, yang diibaratkan sebagai akhlak yang baik.
Di sisi kontras, kajian ini membawa kita pada pohon Neraka, yaitu pohon Zaqqum. Pohon ini menjadi makanan bagi orang-orang yang banyak berdosa, yaitu orang-orang kafir yang ingkar terhadap keesaan Allah.
Deskripsi Zaqqum sangatlah mengerikan, seperti yang dijelaskan dalam Surah Ad-Dukhan (44) ayat 43-46. Buahnya seperti kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, dan di ayat lain digambarkan sebagai pohon yang sangat berduri hingga menyangkut di tenggorokan.
Narasumber menekankan dahsyatnya pohon Zaqqum ini dengan mengutip sabda Rasulullah SAW. Beliau bersabda bahwa seandainya setetes saja buah Zaqqum menetes ke dunia, niscaya akan merusak seluruh kehidupan penduduk bumi. Ini memberi perbandingan jelas, bahwa azab neraka berada di tingkat penderitaan yang tak terbayangkan oleh akal manusia.
Lantas, bagaimana kita menyikapi penderitaan dan masalah di dunia? Kajian ini menegaskan bahwa penderitaan dunia dibandingkan dengan siksa akhirat adalah “tidak ada apa-apanya”. Seringkali, masalah yang kita hadapi sesungguhnya hanyalah anggapan (cara pandang) negatif kita sendiri, bukan masalah hakiki.
Allah SWT sendiri berfirman dalam Surah Al-Baqarah (2) ayat 155 bahwa Dia hanya menguji kita dengan “sedikit” (seperti sedikit ketakutan, kekurangan harta, dan buah-buahan). Jika manusia menganggap ujian kecil ini sebagai beban yang besar, ia secara tidak langsung meremehkan rahmat Allah yang jauh lebih besar.
Dalam hidup, kita sering merasa bisa memilih segalanya, namun hakikatnya, hidup ini dipilihkan oleh Allah, bukan “pilihan” mutlak kita sendiri. Allah memilihkan yang terbaik, termasuk sakit, tua, dan kesempitan rezeki, demi kebaikan kita.
Mengapa hidup dipilihkan? Salah satu hikmah terbesar adalah agar kita memiliki kesempatan untuk mempraktikkan kesabaran. Seandainya segala sesuatu adalah pilihan dan selalu berjalan lancar, tidak akan ada lagi ajaran tentang kesabaran dalam hidup.
Solusinya ada pada doa Nabi Musa AS dalam Surah Taha (20) ayat 25-26: “Rabbisyrahlii shadri wa yassirlii amrii” (Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku).
Ayat ini mengajarkan urutan penting: Lapang Dada DULU, baru Urusan Menjadi Mudah. Jika hati sempit dan menolak takdir, yang muncul adalah kesulitan. Untuk mencapai kelapangan hati, seseorang harus senantiasa mensyukuri nikmat dan berbaik sangka (husnudzon) kepada Allah.
Sebagai penutup, kajian ini mengangkat pelajaran dari pohon Pinus (cemara) yang hijau namun menjadi sumber api karena kandungan getahnya. Ini bisa menjadi perumpamaan: secara lahiriah terlihat baik (hijau), namun di dalamnya tersimpan sesuatu yang mudah terbakar (api). Hal ini dihubungkan dengan sifat kesombongan yang merupakan salah satu akar masalah manusia.
Seseorang yang sombong, merasa dirinya besar, akan direndahkan oleh Allah sekecil semut di hari kiamat. Oleh karena itu, kunci untuk hidup lapang dan selamat dari siksa neraka bukanlah dengan mengikuti hawa nafsu duniawi, melainkan dengan membesarkan iman, menerima takdir, serta selalu berhati-hati agar tidak terjerumus pada sifat ingkar dan sombong yang menghancurkan.
Sumber: Kajian Masjid Diponegoro “Tadabbur Qur’an: Dahan Pohon di Surga Terbuat dari Emas” oleh Ustadz HM. Amrulloh Muzayyin