KabarMasjid.id, Surabaya – Mengapa di era digital ini banyak pelaku usaha mengeluh dagangan sepi, sementara beberapa merek baru justru laris manis hingga antre? Jawabannya, menurut H. Ismail Nachu, SAG, adalah ilmu dan ide bisnis. Pertanyaan mendasar seputar bagaimana cara umat Islam menjadi pebisnis yang sukses, inovatif, namun tetap berkah menjadi fokus utama dalam kajian Ngaji Entrepreneur ke-11. Kajian inspiratif yang diselenggarakan di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya pada Jumat, 10 Oktober 2025, ini membongkar rahasia menemukan ide bisnis yang tidak hanya mengejar profit, tetapi juga kemaslahatan, sesuai teladan Rasulullah SAW.
H. Ismail Nachu menekankan bahwa entrepreneurship adalah sesuatu yang secara historis pernah menjadi kekuatan umat Islam, sebab Nabi Muhammad SAW sendiri adalah seorang pengusaha. Oleh karena itu, sudah selayaknya umat Islam menjadi pebisnis yang sukses dan unggul. Beliau bahkan menyatakan bahwa semangat bisnis seharusnya kembali menjadi bagian tak terpisahkan dari masjid, seperti yang terjadi pada masa sahabat.
Dalam penyampaiannya, beliau membedakan secara tegas antara pekerja (pegawai) dan pebisnis. Jika pegawai hanya bertugas melayani perusahaan atau bos, maka tugas seorang pebisnis jauh lebih mulia, yaitu melayani kehidupan (melayani kehidupan). Konsep ini menyiratkan bahwa peluang bisnis tidak akan pernah habis, karena kebutuhan hidup manusia yang selalu bergerak dan dinamis hingga hari kiamat.
Kunci utama untuk memulai atau mengembangkan bisnis adalah ilmu dan ide. Segala sesuatu yang berwujud, dari sebuah meja hingga perusahaan raksasa, bermula dari gagasan atau ide di dalam pikiran. Oleh karena itu, seorang pebisnis wajib memperbarui diri (update) dan terus belajar agar ide-ide yang dihasilkan mampu mengikuti perkembangan zaman dan memenuhi kebutuhan pasar.
Untuk menemukan ide bisnis yang tepat (tepak), H. Ismail Nachu menawarkan dua cara utama. Cara pertama adalah dengan melakukan inovasi melalui pendekatan kontras, atau “dilawan-lawankan.” Jika produk atau layanan sudah umum, cobalah melakukan hal yang sebaliknya. Contohnya, jika bakso umumnya berbentuk bulat, cobalah buat bakso kotak, atau cari konsep rumah makan yang berani melarang pengunjung membawa ponsel.
Inovasi tersebut bertujuan untuk menciptakan keunikan dan kesan mendalam bagi pelanggan. Contoh yang diberikan adalah warung bakso yang memberikan bonus pijat, atau toko sepatu yang menjanjikan garansi servis hingga sepatu itu benar-benar rusak (sak matine). Dengan keunggulan yang unik, bisnis akan dikenang dan memiliki daya tarik tersendiri di tengah persaingan pasar.
Cara kedua yang sangat praktis dan umum dilakukan adalah menerapkan teori ATM: Amati, Tiru, dan Modifikasi. Teori ini mengharuskan pebisnis untuk berani keluar dan melihat pasar. Pengusaha harus sering bepergian (melampa-melampah) ke berbagai daerah atau negara untuk mengamati model-model bisnis yang sukses.
Proses Amati dan Tiru adalah langkah awal yang sah. Namun, langkah krusialnya terletak pada Modifikasi. Setelah meniru, ide tersebut harus diolah dan disesuaikan dengan selera atau kebutuhan pasar lokal. Misalnya, menyesuaikan tingkat kepedasan makanan agar cocok dengan lidah masyarakat setempat, sehingga produk hasil tiruan tersebut memiliki nilai jual dan daya tahan yang lebih baik.
Namun, sebagai seorang Muslim, menemukan ide bisnis harus memiliki pagar. Bisnis yang dilakukan tidak boleh hanya sekadar menguntungkan, tetapi juga harus Islami. Beliau merumuskan tiga pilar penting yang wajib dipenuhi oleh setiap pebisnis Muslim, yang disebut dengan Trilogi Bisnis Islami.
Pilar pertama adalah Profit, di mana bisnis harus mencari keuntungan (untung), dan ini sesuai dengan ajaran Islam. Pilar kedua adalah Benefit, yang berarti bisnis harus menciptakan kemaslahatan (kebaikan) dan menghindari kemudaratan, seperti bisnis narkoba atau hal lain yang merusak akal dan moral.
Pilar ketiga adalah Barokah, yaitu keuntungan yang mendatangkan berkah dalam kehidupan. Beliau juga mengingatkan prinsip Alyadul Ulya khairul yadus sufla, bahwa “tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah.” Prinsip ini mendidik umat agar menjadi Muzaki (pemberi zakat) dan menjauhi sifat meminta-minta yang merendahkan martabat.
Sebagai penutup, H. Ismail Nachu berpesan agar umat Islam tidak meniatkan pekerjaan hanya untuk mencari makan, karena mencari makan adalah tugas hewan. Manusia diciptakan sebagai khalifah dan hamba Allah. Oleh karena itu, niat bekerja harus lebih tinggi, yaitu untuk mencapai kemuliaan, keberkahan, dan mewujudkan kemajuan ekonomi yang sesuai dengan sunah Rasulullah SAW.
Sumber: Kajian “Kiat Menemukan Ide Bisnis Islami” oleh H. Ismail Nachu Channel Youtube Masjid Al Akbar TV