KabarMasjid.id, Solo – Mengenal lebih dekat sosok teladan agung, Nabi Muhammad SAW, merupakan kerinduan bagi setiap Muslim. Melalui kajian kitab Syamail Rasulullah, kita diajak untuk menyelami tidak hanya aspek fisik, tetapi juga kedalaman akhlak dan keteraturan hidup beliau yang luar biasa. Kajian ini memberikan gambaran nyata bagaimana sang pembawa risalah mengelola waktu dan interaksi sosialnya dengan sangat seimbang.
Kajian rutin Halaqoh Maghrib ini dilaksanakan pada hari Senin, 12 Januari 2026, bertempat di Masjid Jami’ Assagaf, Solo. Menghadirkan Ustadz Abdullah Al Kaff, pembahasan kali ini membedah riwayat-riwayat penting mengenai kepribadian Nabi Muhammad SAW yang bersumber dari orang-orang terdekat di lingkungan rumah tangga beliau.
Dalam pembukaannya, Ustadz Abdullah menekankan bahwa informasi paling detail mengenai sifat Nabi justru banyak datang dari para sahabat yang masih berusia anak-anak saat itu, seperti Sayyidina Hasan dan Husein. Hal ini dikarenakan anak-anak memiliki ingatan yang sangat tajam dan belum memiliki batasan rasa sungkan yang berlebihan seperti orang dewasa, sehingga mereka bisa memperhatikan setiap gerak-gerik Nabi dengan sangat jeli.
Salah satu sumber utama yang dibahas adalah riwayat dari Hindun bin Abi Halah, paman dari Sayyidina Hasan. Hindun digambarkan sebagai sosok yang sangat pandai mensifatkan sosok Nabi (wasofan) karena beliau tumbuh besar di dalam asuhan Nabi dan Siti Khadijah. Dari kesaksiannya, kita mengetahui bahwa Nabi Muhammad adalah sosok yang “Fakhman Mufakman”, yaitu pribadi yang secara zatnya memancarkan keagungan luar biasa.
Keagungan Nabi Muhammad SAW bukan karena jabatan atau harta, melainkan murni dari kewibawaan spiritual yang Allah berikan. Ustadz menjelaskan bahwa siapapun yang melihat beliau, bahkan musuh sekalipun, akan merasakan rasa hormat yang mendalam. Wajah beliau digambarkan selalu bersinar, bahkan kilauannya diibaratkan melebihi indahnya sinar bulan purnama di malam yang paling gelap.
Menariknya, kajian ini mengungkap bagaimana Nabi Muhammad SAW sangat disiplin dalam mengelola waktunya saat berada di dalam rumah. Sayyidina Ali bin Abi Thalib meriwayatkan bahwa Nabi membagi waktu rumah tangganya menjadi tiga bagian yang sangat teratur. Pembagian ini menunjukkan keseimbangan antara kewajiban kepada Tuhan, keluarga, dan peran sosial beliau sebagai pemimpin umat.
Bagian pertama adalah waktu yang dikhususkan hanya untuk Allah SWT. Dalam sepertiga waktu ini, Nabi menghabiskannya untuk beribadah secara total, bermunajat, dan bertafakur. Ini menunjukkan bahwa meskipun beliau adalah seorang rasul yang dijamin surga, hubungan spiritual dengan Sang Pencipta tetap menjadi prioritas utama yang tidak bisa diganggu gugat.
Sepertiga waktu kedua diberikan sepenuhnya untuk keluarga. Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai kepala keluarga yang paling lembut dan menyenangkan. Beliau menggunakan waktu ini untuk bercengkrama, mendengarkan cerita istri-istri beliau, dan bermain dengan anak cucunya. Beliau memberikan hak keluarga secara utuh sebagai bentuk kasih sayang dan pendidikan dalam rumah tangga.
Adapun sepertiga waktu terakhir digunakan untuk keperluan pribadinya, yang uniknya, tetap beliau bagi lagi untuk melayani kepentingan umat. Di waktu pribadi inilah, Nabi menerima para sahabat terpilih yang datang untuk menanyakan berbagai permasalahan agama maupun dunia. Beliau tidak pernah menyimpan ilmu untuk diri sendiri, melainkan menyalurkannya melalui para sahabat tersebut.
Ustadz Abdullah menjelaskan bahwa Nabi sengaja memilih beberapa sahabat utama untuk masuk ke rumahnya agar mereka bisa menyampaikan ajaran tersebut kepada masyarakat luas. Nabi berpesan agar mereka yang hadir menyampaikan informasi kepada mereka yang tidak hadir. Hal ini dilakukan karena keterbatasan ruang di rumah Nabi yang tidak mungkin menampung seluruh penduduk Madinah sekaligus.
Salah satu pesan mendalam dalam kajian ini adalah anjuran Nabi untuk membantu sesama dalam urusan birokrasi atau keperluan kepada pemimpin. Nabi menjanjikan bahwa siapa saja yang bersedia menjadi perantara untuk menyampaikan hajat orang lain yang kesulitan, maka Allah akan mengokohkan kaki orang tersebut saat melewati jembatan sirat di hari kiamat kelak.
Sebagai penutup, kajian ini menggambarkan betapa nikmatnya suasana saat duduk bersama Nabi. Para sahabat yang hadir di rumah beliau tidak pernah pulang dengan tangan hampa; mereka selalu membawa pulang ilmu yang bermanfaat dan ketenangan jiwa. Melalui tulisan ini, diharapkan pembaca dapat meneladani cara Nabi membagi waktu dan menebar manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.
Sumber: Halaqoh Maghrib di Masjid Jami’ Assagaf oleh Ustadz Abdullah Al Kaff dengan tema pembahasan mengenai Syamail Rasulullah