KabarMasjid.id, Malang – Perjalanan spiritual menuju makrifat atau mengenal Allah SWT secara mendalam, ternyata tidak terletak pada banyaknya ritual fisik semata, melainkan pada pemantapan niat dan pengendalian batin. Hal ini diungkapkan oleh KH. Achmad Mudjayyid dalam Kajian Rutin Jumat Ba’da Shubuh yang dilaksanakan di Masjid Agung Jami Malang pada Jum’at 17 Oktober 2025.
Dalam ceramahnya, Kyai Achmad Mudjayyid membuka tabir mengapa terkadang koneksi kita dengan Tuhan terasa begitu sulit, bahkan saat kita sedang salat. Kita mungkin secara fisik menirukan gerakan imam, tetapi batin kita justru ngelencer—melayang memikirkan urusan duniawi, menunjukkan bahwa jalur batin kita belum terhubung dengan sempurna.
Oleh karena itu, setiap ibadah, mulai dari salat, puasa, zakat, hingga pekerjaan mencari rezeki, harus diawali dengan niat. Niat, jelas Kiai Achmad, adalah energi yang bertugas menyambungkan batin kepada Allah, sebab hanya energi batin itulah yang bisa wushul atau tersambung langsung.
Menyadari sulitnya konsentrasi batin ini, Allah SWT memberikan petunjuk agung: “Ista’inu bish-shabri was-salaat” (Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat). Sabar bukanlah sekadar menahan diri, melainkan tindakan aktif untuk ngengkrek nafsu, yakni mengendalikan dan mengikat hawa nafsu.
Lantas, mengapa sabar menjadi penentu utama? Sebab, nafsu adalah markas utama iblis dalam diri manusia. Selama markas ini—yang diisi oleh iri hati, dengki, hasud, riya, takabur, ujub, sum’ah, dan dendam—masih ada, maka iblis akan leluasa masuk dan mengalir dalam darah kita.
Untuk membuang “markas iblis” tersebut, kita dianjurkan untuk berlatih sabar melalui praktik harian. Pelatihannya cukup unik, yaitu dengan melatih diri untuk menghentikan hal-hal baik yang sedang nikmat-nikmatnya. Misalnya, berhenti makan saat sedang enak-enak, atau bangun untuk berwudhu dan salat saat sedang mengantuk dan ingin tidur nyenyak. Jika mampu mengendalikan hal baik, otomatis kita akan mahir mengendalikan hal buruk.
Kyai Achmad Mudjayyid juga memberikan contoh kisah Nabi Ya’qub dan Nabi Yusuf sebagai pelajaran, bahwa bahkan seorang Nabi pun bisa tergelincir dalam krentek hati yang dihembuskan iblis. Kecintaan yang berlebihan pada Nabi Yusuf karena dinilai akan mengangkat derajat keluarga, memicu iri hati pada saudara-saudaranya, yang kemudian berujung pada penderitaan. Ini menunjukkan bagaimana iblis pandai mencari celah.
Ketika seseorang telah berhasil melatih kesabaran, Allah akan memberikan bonus tak ternilai: Innallaha ma’ash shabirin (Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar). Kebersamaan ini berarti kedekatan (Qorib), sebab orang yang bersama pasti dekat.
Dalam keadaan Qorib, komunikasi spiritual menjadi sangat intens, bahkan Allah lebih dekat daripada urat nadi tenggorokan (hablil warid). Di titik inilah zikir zat menyatu dengan Allah, dan kita tidak perlu susah-susah berdoa.
Keajaiban terjadi saat seorang hamba sudah mencapai level ini: hanya dengan krentek hati (bisikan atau keinginan hati), Allah sudah mengijabahinya. Kiai Achmad mencontohkan Sayidina Ali yang saking konsentrasinya dalam salat, beliau tidak menyadari ujung tombak yang patah menancap di kakinya.
Puncak dari latihan batin dan kesabaran ini adalah mencapai derajat Auliya Allah (Wali Allah). Sebagaimana firman-Nya: “Alaa inna auliyaa Allahi laa khaufun ‘alaihim wa laa hum yahzanuun,” yang berarti bagi mereka tidak ada kekhawatiran dan tidak ada pula kesedihan, karena urusan mereka sepenuhnya sudah diserahkan kepada Allah.
Sumber: Kajian Ba’da Shubuh oleh KH. Achmad Mudjayyid di Channel Youtube Masjid Jami’ Malang