KabarMasjid.id, Surabaya -Kepemimpinan bukanlah sekadar takhta atau jabatan yang patut diperebutkan dengan segala cara, melainkan sebuah amanah berat yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Khalik. Dalam pandangan Islam, setiap kebijakan yang diambil oleh seorang pemimpin memiliki dampak yang luas, baik bagi kesejahteraan rakyat di dunia maupun keselamatan sang pemimpin di akhirat kelak.
Kajian mendalam mengenai persoalan ini disampaikan oleh Ustadz K.H. Muhammad Shaddam, Lc., M.Ag. dalam program Kajian Rabu Malam yang berlangsung pada 7 Januari 2026 bertempat di Masjid Al Akbar Surabaya. Dalam kesempatan tersebut, beliau membedah Bab ke-78 Kitab Riyadhus Shalihin yang membahas tentang kewajiban pemimpin untuk berlaku lemah lembut, memberikan nasihat bagi rakyatnya, serta larangan keras terhadap tindakan curang maupun diktator.
Ustadz Shaddam membuka kajian dengan menegaskan bahwa kepemimpinan adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tanpa pemimpin yang jelas, aturan tidak akan berjalan dan kehidupan masyarakat akan menjadi kacau. Oleh karena itu, Islam mewajibkan umatnya untuk taat kepada pemimpin (ulil amri) selama kebijakan yang diambil tidak melanggar aturan Allah dan tetap menjaga nilai-nilai kemanusiaan serta kemaslahatan umum.
Mengutip hadis populer dari Abdullah bin Umar, narasumber menjelaskan bahwa hakikat kepemimpinan bersifat universal. Setiap orang adalah pemimpin, minimal bagi dirinya sendiri atau keluarganya. Seorang suami memimpin istri dan anak-anaknya, sementara seorang istri memimpin urusan rumah tangga suaminya. Semua tingkatan kepemimpinan ini, tanpa terkecuali, akan dimintai pertanggungjawabannya secara detail oleh Allah SWT.
Salah satu poin paling menggugah dalam kajian ini adalah tentang besarnya pahala bagi pemimpin yang adil. Ustadz Shaddam menyebutkan bahwa satu hari yang dilalui seorang pemimpin dengan penuh kejujuran, tanggung jawab, dan rasa takut kepada Allah, nilainya setara dengan beribadah selama 1.000 tahun. Hal ini menunjukkan betapa Islam sangat mengapresiasi mereka yang mengabdikan hidupnya demi mengurus kepentingan rakyat dengan tulus.
Namun, di sisi lain, ancaman bagi pemimpin yang lalai dan curang sangatlah mengerikan. Berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad SAW memperingatkan bahwa siapa pun yang diberikan amanah memimpin rakyat namun ia mati dalam keadaan curang (ghasysy), maka Allah mengharamkan surga baginya. Kecurangan ini bisa berupa korupsi, mementingkan kelompok sendiri, hingga kebijakan yang sengaja mengorbankan rakyat demi kepentingan pribadi.
Lebih lanjut, Ustadz Shaddam menekankan pentingnya sifat rifq atau lemah lembut dalam menjalankan roda pemerintahan. Seorang pemimpin harus memiliki ketawaduan dan memposisikan dirinya sebagai pelayan umat, bukan penguasa yang minta dilayani. Ia harus mampu menunjukkan kasih sayang dalam setiap tutur kata dan keputusan yang diambil, sehingga rakyat merasa diayomi dan diperhatikan kebutuhannya.
Narasumber juga menyoroti fenomena media sosial saat ini yang penuh dengan provokasi dan pesimisme terhadap masa depan bangsa. Beliau mengajak jemaah untuk tetap memiliki sifat husnuzan (prasangka baik) kepada Allah dan mendoakan para pemimpin. Jika merasa dizalimi, umat diajak untuk memanfaatkan momentum tersebut dengan berdoa agar hati para pemimpin dibukakan dan kebijakan mereka diluruskan demi kemaslahatan bersama.
Kajian ini juga menyentuh aspek kepemimpinan dalam skala terkecil di rumah tangga, termasuk adab terhadap asisten rumah tangga atau pembantu. Pemimpin rumah tangga diingatkan untuk memenuhi hak-hak pekerja mereka tepat waktu dan memperlakukan mereka secara manusiawi. “Beri mereka makan apa yang kita makan, dan beri mereka pakaian seperti apa yang kita pakai,” pesan beliau mengutip tuntunan Rasulullah SAW.
Seorang pemimpin yang sukses adalah mereka yang mampu mendapatkan penasihat yang saleh dan jujur. Ustaz Shaddam mencontohkan Khalifah Umar bin Khattab yang dikelilingi oleh para penghafal Al-Qur’an dan ahli ilmu seperti Abdullah bin Abbas sebagai pendamping dalam mengambil keputusan. Penasihat yang baik akan menjaga pemimpin agar tetap berada di jalur yang benar dan tidak terjebak dalam kepentingan syahwat politik semata.
Di bagian akhir kajian, beliau mengingatkan para pemegang kebijakan agar tidak asal dalam menandatangani peraturan. Setiap tanda tangan yang melegalkan kemaksiatan atau merusak tatanan moral masyarakat akan menjadi beban berat di akhirat. Pemimpin harus memiliki kapasitas yang mumpuni dan kesungguhan dalam bekerja, bukan sekadar hasil rekayasa citra di media sosial yang tidak memiliki isi.
Kajian ini ditutup dengan untaian doa di bulan Rajab agar bangsa Indonesia senantiasa dijaga oleh Allah SWT dan para pemimpinnya diberi kekuatan untuk menjalankan amanah dengan penuh keikhlasan. Pesan utama yang ditinggalkan adalah bahwa jabatan hanyalah sementara, namun jejak keadilan yang ditinggalkan akan menjadi saksi yang menyelamatkan atau justru menjerumuskan di hadapan pengadilan ilahi.
Sumber: Kajian Rabu Malam Masjid Al Akbar Surabaya oleh Ustaz K.H. Muhammad Shaddam, Lc., M.Ag membahas Kitab Riyadhus Shalihin, tepatnya Bab ke-78