Sering Merasa Kurang? Inilah Rahasia Hidup Tenang dengan Sifat Qanaah Menurut Kalam Salaf

Ustadz Muhammad bin Husin Alhabsyi.
Ustadz Muhammad bin Husin Alhabsyi.

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Solo – Majelis Salaf Rouhah yang berlangsung pada Kamis sore di Masjid Riyadh, Solo, kembali menghadirkan kesejukan spiritual bagi para jamaah. Dalam kajian yang berlangsung khidmat pada Kamis 11 Desember 2025 tersebut, hadir sebagai narasumber utama adalah Ustadz Muhammad bin Husin Alhabsyi. Beliau menyampaikan untaian hikmah dari Kalam Salaf yang sangat relevan dengan tantangan kehidupan modern saat ini, di mana kebahagiaan sejati ditekankan tidak terletak pada tumpukan harta, melainkan pada kebersihan hati dan ketepatan kita dalam memilih lingkungan pergaulan.

Ustadz Muhammad bin Husin Alhabsyi mengawali pembahasan dengan menekankan pentingnya sifat qanaah dalam diri seorang mukmin. Qanaah didefinisikan sebagai sikap mental yang menghargai dan mensyukuri sekecil apa pun pemberian dari Allah SWT tanpa ada keinginan untuk mengeluh. Dengan memiliki sifat ini, seseorang tidak akan mudah merasa kurang, karena fokus utamanya adalah pada keberkahan yang diterima, bukan sekadar pada jumlah nominal yang didapatkan.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa lingkungan pergaulan memiliki dampak besar terhadap kualitas iman seseorang. Jika kita sering duduk dan berkumpul dengan orang-orang yang memiliki sifat qanaah, maka kita akan lebih mudah mendapatkan taufik atau petunjuk dari Allah untuk berbuat ketaatan. Hal ini terjadi karena “lisanul hal” atau bahasa tubuh serta aura orang yang bersyukur secara tidak langsung akan menularkan energi positif kepada orang-orang di sekitarnya.

Sebaliknya, kajian ini memberikan peringatan keras mengenai bahaya bergaul dengan orang yang memiliki ambisi duniawi berlebihan. Orang yang setiap bangun tidurnya hanya memikirkan harta, pangkat, dan popularitas cenderung akan menyeret teman duduknya ke dalam lubang kegelisahan yang sama. Ambisi yang tidak terkendali ini sering kali menjadi tanda bahwa iman seseorang sedang melemah terhadap jaminan rezeki yang telah ditetapkan oleh Allah.

Ustadz Muhammad bin Husin Alhabsyi mengingatkan bahwa Allah SWT telah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya di muka bumi, sebagaimana ditegaskan dalam banyak ayat Al-Qur’an. Oleh karena itu, sikap terlalu ambisius hingga mengabaikan ketaatan adalah bentuk ketidakpercayaan kepada Sang Pencipta. Orang yang terjebak dalam ambisi duniawi ini sering kali mengalami “khidlan”, yaitu kondisi di mana ia kehilangan taufik dan justru dijauhkan dari kemudahan melakukan kebaikan.

Dalam sesi berikutnya, kajian masuk ke dalam pembahasan mengenai sejarah perjuangan para ulama, salah satunya adalah Imam Ahmad bin Hambal. Beliau menjadi teladan tentang bagaimana seorang alim harus teguh memegang prinsip kebenaran meskipun harus menghadapi tekanan dan ujian yang berat di zamannya. Keteguhan beliau dalam menyatakan kebenaran agama menjadi pelajaran penting tentang integritas seorang pemimpin umat.

Hal ini membawa pada poin penting mengenai tanggung jawab seorang orang alim di mata masyarakat. Ustadz Muhammad mengibaratkan orang alim seperti pakaian putih yang bersih; jika ada sedikit saja noda atau kesalahan, maka noda tersebut akan sangat jelas terlihat. Oleh karena itu, seorang pemuka agama atau ustadz dituntut untuk memiliki kehati-hatian yang lebih tinggi karena setiap langkahnya akan menjadi rujukan bagi para pengikutnya.

Menariknya, kajian ini juga menyentuh sisi kemanusiaan dari para guru. Beliau menegaskan bahwa setiap manusia, termasuk ustadz atau orang alim, tidak luput dari kesalahan. Namun, yang menjadi pembeda adalah bagaimana kesalahan tersebut disikapi. Seorang guru yang baik adalah mereka yang mau mengakui kekhilafannya sebagai manusia, bukan justru membungkus kesalahan tersebut dengan dalih pembenaran yang bisa menyesatkan umat.

Kajian ini juga memberikan kritik reflektif bagi para murid dalam menempatkan sosok guru. Jamaah diingatkan agar tidak “menguduskan” guru secara berlebihan hingga menganggap mereka mustahil berbuat salah. Jika seorang murid melihat gurunya melakukan kesalahan nyata namun tetap membelanya secara buta, maka kesalahan tersebut sebenarnya berpindah kepada sang murid yang kehilangan objektivitas dalam beragama.

Di tengah gempuran tren viral dan pencarian popularitas di media sosial, nasihat dari Masjid Riyadh ini menjadi pengingat yang sangat tajam bagi kita semua. Ustadz Muhammad mengajak jamaah untuk kembali menata niat dalam setiap aktivitas agar tidak terjebak dalam keinginan untuk sekadar dipuji manusia atau mengejar viralitas. Duduk di majelis ilmu diharapkan mampu menyucikan hati dari kotoran ambisi yang merusak ketenangan batin.

Pada bagian akhir kajian, suasana berubah menjadi semakin syahdu dengan pembacaan doa dan selawat bersama. Seluruh jamaah diajak untuk memohon kepada Allah agar diberikan ketetapan iman dan dipertemukan dengan guru-guru saleh yang mampu membimbing menuju keselamatan dunia dan akhirat. Doa-doa yang dilantunkan menjadi penutup yang menguatkan tekad jamaah untuk mengamalkan ilmu yang telah didengar.

Sebagai kesimpulan, kajian bersama Ustadz Muhammad bin Husin Alhabsyi ini memberikan peta jalan bagi umat untuk meraih kebahagiaan melalui pintu syukur dan etika berguru yang benar. Dengan menjaga hati dari ambisi dunia yang berlebihan dan tetap teguh pada prinsip kebenaran, seorang mukmin akan mampu menjalani hidup dengan lebih tenang dan terarah.

Sumber: Majelis Salaf Rouhah Kamis Sore Kajian Kalam Salaf Masjid Riyadh Solo oleh Ustadz Muhammad bin Husin Alhabsyi

E-Buletin