Sering Merasa Doa Tak Dikabulkan? Simak Penjelasan Tiga Skema Allah dalam Mengabulkan Hajat

Ustadz Sholeh bin Muhammad Aljufri
Ustadz Sholeh bin Muhammad Aljufri

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Solo – Kehidupan spiritual di bulan suci Ramadhan selalu menyajikan momen refleksi yang mendalam bagi umat Muslim. Salah satu cara untuk memperkaya batin adalah dengan menyimak kajian kitab-kitab klasik yang dibawakan oleh para ulama yang mumpuni. Melalui pemahaman yang benar terhadap hadis-hadis Nabi, seorang mukmin dapat menata kembali niat, ucapan, dan harapannya kepada Sang Pencipta agar selaras dengan tuntunan syariat.

Kajian kitab Riyadhus Sholihin ini disampaikan oleh Ustadz Sholeh bin Muhammad Aljufri dalam acara Rauha Sore bertajuk “Semarak Ramadhan 1447”. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 15 Maret 2026, bertempat di Majelis Jami’atul Amroni (MJA) Solo. Dalam sesi tersebut, narasumber membedah beberapa bab krusial, mulai dari adab berdoa hingga fenomena karamah para wali Allah yang termaktub dalam kitab karya Imam Nawawi tersebut.

Pelajaran pertama yang ditekankan adalah larangan mendoakan keburukan bagi diri sendiri, anak-anak, maupun harta benda. Sering kali dalam kondisi emosional atau saat melihat anak sakit, seseorang secara tidak sadar mengucapkan kalimat yang bersifat mencelakakan. Ustadz Sholeh mengingatkan bahwa lisan seorang mukmin harus dijaga agar hanya mengeluarkan doa-doa yang baik, karena setiap ucapan memiliki potensi untuk dikabulkan oleh Allah SWT.

Beliau memberikan contoh nyata mengenai kesalahan dalam berdoa, seperti saat orang tua berkata, “Biarlah saya saja yang sakit, jangan anak saya.” Meskipun kalimat ini tampak seperti pengorbanan, secara syariat ini adalah doa keburukan untuk diri sendiri. Seharusnya, seorang hamba cukup meminta kesembuhan bagi anaknya tanpa harus meminta penyakit tersebut dipindahkan kepada dirinya, sebab Allah Maha Kuasa untuk menyembuhkan tanpa syarat penderitaan pihak lain.

Lebih lanjut, kajian ini membahas tentang keyakinan bahwa setiap doa pasti dikabulkan oleh Allah SWT sesuai janji-Nya. Namun, hambatan terbesar terkabulnya doa sering kali datang dari sikap tergesa-gesa (isti’jal). Manusia sering merasa doanya tidak didengar hanya karena tidak melihat hasilnya secara instan, padahal Allah lebih mengetahui waktu yang paling tepat untuk memberikan apa yang dibutuhkan oleh hamba-Nya.

Ustadz Sholeh kemudian menjelaskan tiga skema Allah dalam mengabulkan doa. Pertama, doa dikabulkan secara kontan di dunia sesuai dengan permintaan sang hamba. Kedua, doa tersebut dijadikan sebagai perisai yang menyelamatkan seseorang dari musibah yang seharusnya menimpa. Dalam kondisi ini, Allah mengganti permintaan duniawi dengan perlindungan dari marabahaya yang jauh lebih berharga bagi keselamatan hamba tersebut.

Skema ketiga dalam pengabulan doa adalah dengan menyimpannya sebagai pahala di akhirat. Di hari kiamat nanti, seseorang akan terkejut melihat limpahan pahala dan kemuliaan yang berasal dari doa-doanya yang tampak “tidak terkabul” selama di dunia. Bahkan, muncul keinginan dalam hati manusia saat itu agar seandainya semua doa mereka disimpan saja di akhirat karena balasannya yang jauh lebih kekal dan luar biasa.

Selain masalah doa, kajian ini juga menyentuh bab Karamatul Auliya atau kemuliaan para wali. Karamah didefinisikan sebagai kejadian luar biasa yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang saleh sebagai bentuk penghormatan. Salah satu contoh yang diangkat adalah kisah Siti Maryam yang selalu mendapatkan buah-buahan surga di mihrabnya, meskipun buah tersebut sedang tidak musim, yang menjadi bukti kekuasaan Allah yang mutlak.

Kisah Ashabul Kahfi juga menjadi sorotan sebagai bukti nyata karamah dalam Al-Qur’an. Para pemuda yang beriman ini ditidurkan oleh Allah selama 309 tahun di dalam gua untuk melindungi mereka dari penguasa yang zalim. Mereka tetap hidup tanpa makan dan minum dalam waktu berabad-abad, sebuah fenomena yang melampaui logika manusia namun sangat mudah bagi Allah untuk mewujudkannya.

Kisah sahabat Nabi, Khubaib bin Adi, turut diceritakan untuk menggambarkan bagaimana karamah menyertai para pejuang iman. Saat menjadi tawanan dan menjelang eksekusi, Khubaib terlihat memakan buah anggur yang segar, padahal saat itu Makkah sedang tidak musim anggur dan ia berada dalam penjara yang ketat. Khubaib juga menjadi pelopor sunah salat dua rakaat sebelum dihukum mati, sebuah amalan yang pahalanya terus mengalir hingga hari ini.

Ustadz Sholeh juga mengisahkan ketajaman doa sahabat Saad bin Abi Waqqas yang difitnah oleh seseorang di Kufah. Karena difitnah tidak adil dalam memimpin dan tidak benar dalam salat, Saad berdoa agar pemfitnah tersebut dipanjangkan umurnya namun dalam kondisi fakir dan penuh fitnah. Doa itu terkabul; orang tersebut hidup hingga usia sangat tua dengan penderitaan yang memilukan, menjadi pelajaran bagi semua agar tidak sembarangan melayangkan fitnah kepada orang saleh.

Sebagai penutup, Ustadz Sholeh mengajak jamaah untuk senantiasa menjaga lisan dan memperbanyak zikir serta doa, terutama di bulan Ramadhan. Menjaga lisan bukan hanya tentang menghindari ghibah, tetapi juga tentang memastikan setiap kata yang keluar adalah benih kebaikan. Dengan memahami adab berdoa dan meyakini kemuliaan para kekasih Allah, diharapkan kualitas spiritual umat dapat meningkat dan membawa keberkahan dalam kehidupan sehari-hari.

Sumber: Kajian Rauha Sore di Masjid Jami’ Assagaf yang membahas kitab Riyadhus Sholihin bersama Ustadz Sholeh bin Muhammad Aljufri

E-Buletin