Kabarmasjid.id, Surabaya – Di tengah dinamika zaman yang sering kali mengukur segala sesuatu berdasarkan kalkulasi untung-rugi material, esensi berbuat baik terkadang bergeser sekadar menjadi opsi opsional. Padahal, dalam Islam, kebaikan (ihsan) bukanlah sebuah pilihan yang dilakukan hanya saat sempat, melainkan perintah fundamental yang wajib melekat pada setiap helai napas seorang Muslim. Kesadaran mendalam mengenai pentingnya menghidupkan kebaikan dalam setiap dimensi kehidupan ini mengemuka dalam kajian rutin yang disampaikan oleh Ustadz Azhari Arga, Lc, MA, pada Jumat, 24 Juli 2026, bertempat di Masjid Arroyan. Mengangkat tema dari pembahasan Kitab Arba’in An-Nawawi, beliau membedah secara tuntas bagaimana syariat Islam memosisikan berbuat baik (ihsan) bukan sekadar imbuhan moral, melainkan perintah langsung dari Allah SWT yang mengikat setiap pribadi tanpa terkecuali.
Mengawali kajiannya, Ustadz Azhari Arga menggarisbawahi tradisi mulia Rasulullah SAW yang membiasakan diri untuk berdiam di tempat salatnya seusai salat Subuh hingga matahari terbit. Kebiasaan ini bukan sekadar aktivitas mengisi waktu, melainkan bentuk penguasaan terhadap “kepala hari” agar seluruh rangkaian kegiatan hingga petang dipenuhi keberkahan. Waktu pagi adalah saat tersuci yang secara khusus didoakan oleh Nabi SAW agar memberikan keberkahan melimpah bagi umatnya yang mau memanfaatkannya untuk hal-hal positif.
Keutamaan berdiam diri di pagi hari ini diperkuat dengan keteladanan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yang menjadikan zikir, doa, dan tadarus Al-Qur’an seusai Subuh sebagai “asupan jiwa” atau sarapan utamanya. Bagi Ibnu Taimiyah, tanpa asupan ruhani di awal hari tersebut, jiwa seorang insan tidak akan memiliki daya tahan untuk menopang rutinitas kehidupan harian yang berat. Hal ini menegaskan bahwa kebiasaan berzikir di waktu pagi adalah pilar kekuatan batiniah yang mengawasi seluruh perilaku manusia sepanjang hari.
Kendati demikian, syariat Islam yang bijaksana juga memberikan jalan keluar berkeadilan bagi mereka yang dihinggapi uzur syar’i, seperti kesibukan mengurus keluarga atau tuntutan pekerjaan di pagi hari. Ustadz Azhari Arga menjelaskan bahwa mereka yang terbiasa mengamalkan zikir Subuh namun terhalang oleh uzur, atau mereka yang memiliki niat tulus (cita-cita kebaikan) untuk beramal tetapi terbatas kemampuan, akan tetap dicatat pahalanya oleh Allah SWT. Hal ini membuktikan betapa indahnya Rahmat Allah yang mengaruniakan pahala atas keistiqamahan niat insan-Nya.
Memasuki inti bahasan hadis ke-17 dari Kitab Arba’in An-Nawawiyah, beliau membawakan sabda Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa Allah telah mewajibkan berlaku ihsan pada segala sesuatu. Ihsan sendiri pada hakikatnya terbagi menjadi dua ranah utama, yakni ihsan dalam beribadah kepada Allah (ihsan fi ibadatillah) serta ihsan dalam berinteraksi dengan sesama makhluk (ihsan ila ibadillah). Keduanya harus berjalan beriringan tanpa ada salah satu yang dikorbankan demi terciptanya keseimbangan ruhaniah dan sosial.
Bentuk ihsan yang paling utama kepada sesama hamba dialamatkan kepada Rasulullah SAW dengan cara menegakkan sunnah-sunnah beliau serta menjaga adab tatkala menyebut nama beliau. Setelah itu, prioritas ihsan yang paling mendesak adalah berbakti kepada kedua orang tua (birrul walidain). Sesuai dengan arahan Al-Qur’an surah Al-Isra ayat 23-24, ihsan kepada orang tua diwujudkan melalui ucapan yang santun, sikap tawaduk yang rendah hati, serta untaian doa tulus yang tiada henti memohonkan kasih sayang Allah bagi mereka.
Tidak berhenti pada sesama manusia, ajaran ihsan dalam Islam merengkuh seluruh alam semesta, termasuk hewan, tumbuhan, hingga benda-benda mati yang menjadi milik kita. Beliau mencontohkan kisah seorang wanita pezina yang diampuni dosanya lantaran memberi minum seekor anjing yang kehausan, serta sebaliknya, seorang wanita yang masuk neraka akibat mengurung seekor kucing hingga mati. Bahkan merawat kendaraan, rumah, serta alat kerja harian pun bernilai ibadah pahala apabila diniatkan sebagai wujud ihsan atas amanah yang Allah titipkan.
Guna memperjelas konsep ihsan secara konkret, Nabi SAW memberikan contoh dalam urusan mencabut nyawa hewan, dengan membedakan secara tegas antara membunuh (qatl) dan menyembelih (dzabh). Membunuh dilakukan terhadap hewan berpenyakit atau membahayakan seperti kalajengking dan tikus, sedangkan menyembelih ditujukan khusus bagi hewan halal yang hendak dikonsumsi. Penegasan ini memperlihatkan betapa Islam mengatur tata cara perlakuan terhadap hewan secara sangat teratur dan adil.
Bahkan tatkala menyembelih hewan halal sekalipun, pilar-pilar ihsan wajib dijunjung tinggi dengan cara menajamkan pisau dan membuat nyaman hewan sembelihan tersebut. Di antara bentuk empati serta kasih sayang yang diajarkan adalah tidak mengasah pisau di hadapan hewan yang akan disembelih agar tidak membuatnya cemas dan ketakutan. Jika terhadap hewan yang hendak disembelih saja seorang Muslim diperintahkan untuk bertenggang rasa, maka sudah sepatutnya kasih sayang dan kebaikan itu terpancar jauh lebih besar kepada sesama manusia.
Perbedaan mendasar antara orang yang mendalami ilmu agama dengan yang tidak terletak pada sudut pandang mereka dalam memandang aktivitas kebaikan sehari-hari. Orang awam mungkin menganggap kegiatan merawat barang atau bersikap baik sekadar tuntutan rutinitas duniawi belaka, sementara orang yang berilmu memandangnya sebagai ladang ibadah yang diperintahkan oleh Allah. Pergeseran niat inilah yang mengubah hal-hal biasa menjadi panen pahala yang berlimpah di sisi Allah SWT.
Oleh karena itu, setiap insan hendaknya senantiasa meluruskan niat dan menghadirkan kesadaran ketuhanan dalam setiap jengkal tindakan yang dilakukannya. Setiap kebaikan kecil yang ditanam dengan keikhlasan akan berbuah manis, tidak hanya bagi kebaikan hidup di dunia, tetapi juga sebagai tabungan amal yang kekal di akhirat kelak.

Sebagai penutup, pesan utama dari kajian hadis ini mengetuk kesadaran kita bahwa berbuat baik bukanlah pilihan bebas yang tergantung pada suasana hati atau kenyamanan pribadi. Setiap detik kesempatan hidup harus diisi dengan pilar ihsan, baik dalam kesendirian tatkala beribadah kepada Allah, maupun dalam keriuhan interaksi sosial dengan sesama makhluk. Dengan menjadikan ihsan sebagai standar hidup, seorang Muslim akan senantiasa memancarkan rahmat dan kedamaian bagi lingkungan di mana pun ia berada.
Sumber: Kajian berjudul “Berbuat Baik Itu Perintah Allah, Bukan Pilihan” berdasaran Kitab Arba’in An-Nawawi yang disampaikan oleh Ustadz Azhari Arga, Lc, MA di Masjid Arroyan Surabaya pada Jum’at 24 Juli 2026.