Seni Merawat Sabar: 5 Pilar Menghadapi Ujian Hidup Menurut Ibnu Taimiyah

Ustadz Gemma Ilhamy, M.PD.I
Ustadz Gemma Ilhamy, M.PD.I

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Kehidupan dunia tidak pernah lepas dari dinamika suka dan duka yang datang silih berganti menghampiri setiap insan. Bagi seorang muslim, setiap ketetapan yang hadir—baik berupa limpahan nikmat maupun himpitan ujian—sejatinya merupakan instrumen rohani untuk menakar sejauh mana kedekatan seorang hamba kepada Sang Pencipta. Mengupas tuntas rahasia di balik badai kehidupan tersebut, Ustadz Gemma Ilhamy, M.PD.I. hadir menyampaikan kajian kitab Wasiyah Ash-Shughroh karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pada hari Jumat, 12 Juni 2026, bertempat di Masjid Syafi’i, Surabaya.

Dalam pemaparannya, Ustadz Gemma menekankan bahwa langkah awal untuk meraih kedamaian hati saat menghadapi petaka adalah dengan mengimani takdir secara utuh. Merujuk pada pesan Rasulullah SAW kepada Abdullah Ibnu Abbas, apa pun yang telah Allah gariskan untuk menimpa seorang hamba tidak akan pernah bisa dihindari oleh kekuatan mana pun di dunia. Sebaliknya, jika Allah telah menetapkan suatu keburukan tidak akan mengenainya, maka sekuat apa pun upaya manusia untuk mencelakakannya, hal tersebut pasti akan luput dan tidak akan pernah terjadi.

Pilar kedua yang tidak kalah penting untuk menumbuhkan jiwa sabar adalah kesadaran mutlak mengenai kedudukan kita sebagai makhluk di hadapan Al-Khaliq. Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai pemilik otoritas tertinggi semesta alam tidak akan pernah ditanya atau dimintai pertanggungjawaban atas apa yang Dia perbuat kepada hamba-Nya. Sebaliknya, manusialah yang memikul kewajiban penuh untuk mempertanggungjawabkan setiap helai amal dan respons yang mereka tunjukkan selama hidup di dunia pada hari kiamat kelak.

Lebih lanjut, Ustadz Gemma menjelaskan pilar ketiga, yaitu keyakinan bahwa tidak ada satu pun ujian yang diciptakan Allah secara sia-sia tanpa adanya hikmah mendalam. Beliau memberikan tamsil tentang penciptaan iblis yang sekilas tampak sebagai perkara buruk bagi makhluk, namun di balik itu terdapat hikmah luar biasa untuk menguji kadar keimanan manusia. Melalui godaan dan ujian tersebut, akan tersaring dengan jelas mana hamba yang imannya kokoh terbukti melalui pengamalan, dan mana yang imannya rapuh saat diterpa badai permasalahan.

Memasuki pilar keempat, setiap mukmin perlu merenungkan tiga esensi utama mengapa Allah mendatangkan cobaan dalam hidup mereka. Esensi yang pertama adalah sebagai bentuk kasih sayang Allah untuk membangunkan dan mengingatkan kembali hamba-Nya dari kelalaian urusan duniawi yang melenakan. Ketika kesibukan pekerjaan dan rutinitas harian mulai mengikis waktu luang untuk berzikir, Allah mengirimkan teguran-Nya agar manusia tidak sampai ditinggalkan dan dibiarkan berjalan tanpa arah dalam kesesatan.

Esensi kedua dari kehadiran ujian, yang juga menjadi tema sentral kajian ini, adalah sebagai sarana pembersihan dan penghapusan dosa-dosa masa lalu. Ustadz Gemma memberikan analogi yang sangat indah, di mana hubungan antara beratnya ujian dan ampunan dosa layaknya embusan angin kencang pada sebatang pohon. Semakin besar angin ujian yang menerpa seorang mukmin dengan penuh kesabaran, maka akan semakin banyak pula daun-daun kering berbentuk dosa dan kesalahan yang berguguran dari catatan amalnya.

Adapun esensi yang ketiga dari diturunkannya cobaan bagi orang-orang yang beriman adalah untuk mengangkat derajat mereka, baik di dunia maupun di akhirat. Kondisi ini tentu sangat berbeda dengan musibah yang menimpa orang-orang kafir, di mana penderitaan di dunia merupakan bentuk azab pembuka (appetizer) sebelum datangnya siksa yang jauh lebih dahsyat di hari pembalasan. Oleh karena itu, seorang mukmin sepatutnya bersyukur karena melalui jembatan ujian inilah Allah sedang menuntun mereka menuju kedudukan yang lebih mulia.

Menutup rangkaian pilar kesabaran, poin kelima mengajak umat untuk melihat keseimbangan hidup yang sengaja dirancang oleh Allah melalui perpaduan antara nikmat dan cobaan. Hidup seorang muslim sejatinya terbelah menjadi dua paruh utama yang saling melengkapi, yakni separuh diisi dengan sikap syukur dan separuh lainnya dijalani dengan jalan sabar. Berkeluh kesah atau merasa terhina saat Allah sedikit mengurangi nominal nikmat duniawi adalah tanda kegagalan hamba dalam membaca maksud baik dari skenario Rabb-nya.

Kajian kemudian mendalami definisi musibah berdasarkan pandangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yang mencakup segala sesuatu yang menyakitkan jiwa, harta, kehormatan, maupun jasad. Salah satu bentuk musibah batin yang kerap luput dari perhatian adalah hammin atau rasa khawatir yang berlebihan terhadap masa depan, seperti kecemasan terkait kondisi ekonomi. Selama kekhawatiran tersebut disikapi dengan ikhtiar yang syar’i serta tidak mematikan rasa tawakal kepada Allah, maka gejolak rasa takut itu akan dihitung sebagai ladang penggugur dosa.

Bentuk musibah berikutnya yang sering menghampiri manusia adalah huzn atau rasa sedih yang mendalam akibat peristiwa yang tidak menyenangkan, seperti hilangnya usaha atau wafatnya anggota keluarga. Menangis dan bersedih adalah hal yang manusiawi, bahkan Rasulullah SAW pun pernah meneteskan air mata saat ditinggalkan oleh orang-orang tercinta dan ketika menyaksikan penderitaan para sahabatnya. Kendati demikian, kesedihan tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut hingga menyeret seorang hamba pada sikap tidak menerima takdir dan berburuk sangka kepada Allah.

Selain itu, rasa letih yang dinamakan nasab juga dikategorikan sebagai bagian dari ujian yang mendatangkan ampunan besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bagi para pejuang nafkah yang setiap hari harus menempuh perjalanan jauh dan menghadapi kejenuhan total dalam bekerja, keletihan fisik mereka adalah ibadah yang sangat bernilai. Dengan mengubah pola pikir dan meniatkan seluruh rasa lelah tersebut semata-mata karena Allah (lillah), waktu yang dihabiskan untuk mencari nafkah halal tidak akan menguap sia-sia melainkan menjelma menjadi penebus dosa.

Akhir kata, jenis ujian fisik yang menetap atau penyakit akut yang tak kunjung sembuh dalam istilah agama disebut dengan wasab. Mengidap penyakit menahun seperti gagal ginjal atau diabetes tentu bukan perkara mudah, namun tingkat penyakit yang diberikan dipastikan telah terukur sesuai dengan batas kesabaran masing-masing hamba. Ketika seorang muslim mampu melatih dirinya untuk rida dan bersabar menghadapi penyakit tersebut hingga akhir hayatnya, ia akan membubung tinggi menemui Rabb-nya di hari kiamat tanpa membawa sekerat pun dosa yang

Sumber: Kajian kitab Wasiyah Ash-Shughroh bersama Ustadz Gemma Ilhamy, M.PD.I. di Masjid Syafi’i Surabaya, pada Kamis 11 Juni 2026.

E-Buletin