Seni Menjaga Hati: Memahami Konsep Mengasingkan Diri Tanpa Meninggalkan Komunitas

Ustadz Dr. H. Nurul Yaqin, M.Pdi.
Ustadz Dr. H. Nurul Yaqin, M.Pdi.

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Malang – Menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks dan penuh dengan fitnah, menjaga kemurnian ibadah menjadi tantangan tersendiri bagi setiap Muslim. Salah satu konsep klasik yang kembali relevan untuk didiskusikan adalah uzlah atau upaya mengasingkan diri demi menjaga kualitas iman. Konsep ini menjadi inti pembahasan dalam kajian kitab Minhajul Abidin karya Imam Al-Ghazali yang diselenggarakan secara rutin.

Kajian rutin Jumat bada Maghrib ini dilaksanakan pada tanggal 3 April 2026, bertempat di Masjid Agung Jami Malang. Sesi ilmu yang khidmat ini dipandu oleh Ustadz Dr. H. Nurul Yaqin, M.Pdi. Beliau memaparkan materi dengan menitikberatkan pada bagaimana seorang mukmin harus bersikap di tengah masyarakat yang mulai kehilangan arah moral.

Dalam pembukaan kajian, Ustadz Nurul Yaqin menjelaskan bahwa Rasulullah SAW pernah memberikan dua arahan yang sekilas tampak bertentangan. Di satu sisi, umat Islam diperintahkan untuk selalu berjamaah (alaikum bil jamaah), namun di sisi lain ada anjuran untuk tetap berada di rumah (ilzam baitaka) ketika fitnah merajalela. Hal ini sering kali menimbulkan pertanyaan bagi para pencari ilmu tentang mana yang harus diprioritaskan.

Menanggapi hal tersebut, beliau menjelaskan metode Al-Jam’u wat Taufiq atau upaya mengompromikan dua dalil yang tampak kontradiktif. Para ulama Sunni berpendapat bahwa perintah berjamaah adalah hukum yang bersifat umum, seperti kewajiban berorganisasi atau bersosialisasi dalam komunitas Muslim. Sementara itu, anjuran uzlah adalah bersifat khusus bagi individu yang ingin menjaga hatinya dari pengaruh negatif lingkungan sekitar.

Ustadz Nurul Yaqin menekankan bahwa uzlah bukan berarti seseorang harus keluar dari organisasi atau komunitas sosialnya. Seseorang bisa tetap menjadi bagian dari Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah, namun secara personal ia memilih untuk membatasi pergaulan yang tidak bermanfaat. Dengan demikian, identitas jemaah tetap terjaga, namun benteng pertahanan iman secara pribadi juga diperkuat.

Pentingnya berjamaah kemudian diilustrasikan dengan tamsil yang sangat kuat, yakni ibarat sekawan domba. Seekor serigala akan sangat mudah menerkam domba yang menyendiri dan memisahkan diri dari kawanannya. Begitu pula dengan manusia; setan akan jauh lebih mudah menggoda dan menjerumuskan seseorang yang tidak memiliki lingkungan sosial yang religius.

Lebih lanjut, beliau memaparkan bahwa kondisi akhir zaman sering kali ditandai dengan perilaku manusia yang mulai menyerupai binatang. Ketika norma-norma agama mulai ditinggalkan secara terang-terangan dan kemaksiatan dianggap sebagai hal biasa, maka uzlah atau menarik diri menjadi pilihan yang paling tepat. Hal ini bertujuan agar seorang Muslim tidak ikut terhanyut dalam arus kerusakan zaman tersebut.

Dalam kajian ini, Ustadz Nurul Yaqin juga memberikan peringatan keras mengenai bahaya perilaku korupsi yang marak terjadi. Beliau menegaskan bahwa hasil dari korupsi adalah harta yang haram, yang jika dimakan akan menjadi bahan bakar api neraka bagi pelakunya. Hal ini menjadi pengingat bahwa integritas moral adalah bagian tak terpisahkan dari kesalehan seorang hamba.

Seseorang yang memakan harta haram tidak hanya merugikan dirinya sendiri secara spiritual, tetapi juga secara sosial. Di akhirat kelak, pelaku korupsi akan menghadapi tuntutan dari seluruh rakyat yang haknya telah ia ambil. Beban pertanggungjawaban ini sangat berat, mengingat korban dari tindakan tersebut bisa mencakup jutaan orang dalam satu wilayah atau negara.

Kajian ini mengajak para jemaah untuk merefleksikan kembali setiap suapan makanan yang diberikan kepada keluarga. Integritas dalam bekerja dan menjauhi praktik-praktik yang merugikan publik adalah bentuk nyata dari pengamalan ajaran agama. Tanpa kejujuran, ibadah ritual seperti salat dan puasa yang dilakukan berkali-kali bisa menjadi sia-sia jika dibarengi dengan memakan hak orang lain.

Sebagai penutup materi, dipaparkan bahwa menjaga lisan dan mengikuti bimbingan para ulama adalah kunci keselamatan. Di tengah banjir informasi dan pergaulan yang serba bebas, merujuk pada pemikiran ulama-ulama besar seperti Imam Al-Ghazali memberikan panduan praktis agar tetap berada di jalan yang lurus. Kesalehan individu harus selaras dengan tanggung jawab sosial yang jujur.

Kajian pun diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Ustadz Nurul Yaqin. Suasana Masjid Agung Jami Malang terasa teduh saat para jemaah mengaminkan permohonan agar senantiasa diberikan kekuatan iman dan kesehatan untuk istikamah dalam beribadah. Semoga ilmu yang disampaikan dapat menjadi lentera bagi masyarakat Malang dalam menghadapi tantangan hidup sehari-hari.

Sumber: Kajian Rutin Jumat Bada Maghrib di Masjid Agung Jami Malang bersama  Ustadz Dr. H. Nurul Yaqin, M.Pdi.

E-Buletin