Seni Menikmati Proses: Belajar Tenang di Tengah Hiruk-Pikuk Dunia

Ustadz Carlos Abu Hamzah, M.Pd.I
Ustadz Carlos Abu Hamzah, M.Pd.I

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Di tengah hiruk-pikuk gaya hidup modern yang menuntut segalanya serba instan, kesehatan mental dan ketenangan batin sering kali menjadi harga yang harus dibayar. Banyak orang terjebak dalam perlombaan tanpa akhir, merasa tertinggal hanya karena melihat pencapaian orang lain di media sosial. Kajian kali ini mengajak kita untuk sejenak menarik napas dalam dan menyadari bahwa berjalan pelan menuju kebaikan bukanlah sebuah kegagalan.

Kajian bertajuk “Pelan-pelan Gak Apa-apa: Belajar Tenang di Dunia yang Serba Cepat” ini diselenggarakan pada Minggu, 25 Januari 2026, bertempat di Masjid Al Falah, Surabaya. Menghadirkan Ustadz Carlos Abu Hamzah, M.Pd.I sebagai narasumber, sesi ini mengupas tuntas fenomena kecepatan ekstrem zaman sekarang dari kacamata syariat dan psikologi Islam. Beliau menekankan bahwa setiap langkah kecil yang konsisten jauh lebih berharga daripada kecepatan yang menghancurkan jiwa.

Dalam pemaparannya, Ustadz Carlos menyoroti bagaimana peradaban hari ini memaksa narasi bahwa “lambat berarti gagal”. Fenomena ini melahirkan apa yang disebut sebagai quarter life crisis atau kecemasan luar biasa pada usia dewasa muda. Banyak individu merasa tertekan karena memaksa jiwa (irhaun nafs) untuk mencapai target duniawi yang tidak realistis, yang pada akhirnya justru menjauhkan mereka dari esensi ketenangan ibadah.

Secara teologis, beliau menjelaskan bahwa percepatan waktu dan gaya hidup yang terburu-buru merupakan salah satu tanda akhir zaman (taqorubuz zaman). Allah telah mengingatkan bahwa manusia cenderung bersifat tergesa-gesa. Namun, Islam hadir bukan untuk memperparah kegelisahan tersebut, melainkan untuk memberikan rem dan kendali melalui konsep tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa agar tidak hancur oleh ambisi.

Ustadz Carlos menegaskan bahwa dalam Islam, hidup tidak didefinisikan sebagai lomba lari cepat atau sprint, melainkan sebagai safar ilallah atau perjalanan panjang menuju Allah. Perbedaan antara keduanya sangat mendasar: dalam lomba, fokusnya adalah mengalahkan orang lain dan menjadi yang tercepat. Sementara dalam safar, fokus utamanya adalah kesetiaan di jalan yang benar dan keselamatan sampai ke tujuan akhir.

Lebih lanjut, beliau mengajak jamaah untuk menghargai “proses yang matang dalam diam”. Tidak semua orang harus bersinar dalam waktu yang sama. Ada yang sukses di usia muda, ada pula yang baru menemukan kematangannya di usia senja. Semua itu adalah bagian dari takdir unik yang telah ditetapkan Allah, dan membandingkan proses diri sendiri dengan orang lain disebut sebagai perbuatan zalim terhadap diri sendiri.

Salah satu poin penting yang diangkat adalah keterkaitan antara menjaga kewarasan jiwa dengan Maqasid al-Shari’ah. Menjaga jiwa (hifzun nafs) adalah satu dari lima pokok penjagaan syariat. Oleh karena itu, memaksakan diri hingga mengalami burnout atau kelelahan mental yang ekstrem sebenarnya bertentangan dengan tujuan agama. Menjadi pelan untuk menjaga kesehatan mental adalah bagian dari ibadah.

Ustadz Carlos juga merujuk pada Sirah Nabawiyah sebagai bukti bahwa kejayaan tidak diraih secara instan. Rasulullah SAW membutuhkan waktu 23 tahun untuk menyempurnakan dakwahnya melalui berbagai ujian dan kegagalan sementara. Peradaban besar Islam seperti Andalusia dan Utsmaniyah pun dibangun dalam durasi ratusan tahun, menunjukkan bahwa fondasi yang kuat membutuhkan waktu dan kesabaran untuk tumbuh.

Beliau juga mengingatkan pentingnya membedakan antara “berjalan pelan” dengan “menyerah”. Berjalan pelan berarti tetap bergerak meski langkahnya kecil, tetap salat meski jatuh bangun, dan tetap belajar meski sering salah. Sementara menyerah adalah berhenti berharap pada rahmat Allah. Selama seseorang masih memiliki keinginan untuk memperbaiki diri, maka ia sedang berproses, bukan sedang gagal.

Dalam menjaga konsistensi, Ustadz Carlos mengutip hadis tentang amalan yang paling dicintai Allah, yakni yang rutin dilakukan meskipun sedikit. Fokuslah pada langkah kecil harian yang bisa dipertahankan seumur hidup, daripada ledakan semangat yang hanya bertahan sepekan lalu padam. Ketenangan lahir dari rutinitas kecil yang berkualitas dan penuh kesadaran akan kehadiran-Nya.

Sebagai penutup, terdapat empat strategi untuk bertahan di dunia yang serba cepat ini: mengubah pola pikir dari lomba menjadi perjalanan, fokus pada pencapaian harian, berhenti membandingkan diri, dan senantiasa menjaga harapan. Strategi ini diharapkan mampu menjadi benteng bagi umat agar tidak mudah goyah oleh standar kesuksesan duniawi yang semu

Sumber: Majelis Teladan Islami Masjid Al Falah Surabaya dengan narasumber Ustadz Carlos Prawiro Sastro, M.Pd.I.  yang bertajuk “Pelan-pelan Gak Apa-apa: Belajar Tenang di Dunia yang Serba Cepat.”

E-Buletin