Kabarmasjid.id, Surabaya – Kehidupan Rasulullah Muhammad ﷺ merupakan teladan abadi yang mencakup seluruh aspek kehidupan, tidak terkecuali dalam membina hubungan kekeluargaan. Banyak pelajaran berharga tentang bagaimana beliau memperlakukan sanak kerabat dengan penuh kasih sayang, keadilan, dan kepedulian. Suasana penuh kehangatan dan ilmu tersebut mengemuka dalam kajian rutin yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Fadlan Fahamsyah, Lc., M.H.I. pada Sabtu, 25 Juli 2026, bertempat di Masjid Al-Amin. Mengangkat tema “Seni Interaksi Rasulullah”, kajian ini mengupas pemikiran dan riwayat yang terangkum dalam kitab Kaifa ‘Āmalahum karya Syekh Muhammad Saleh Al-Munajjid.
Dalam pembukaan ceramahnya, Ustadz Fadlan menekankan bahwa Rasulullah ﷺ adalah sosok yang sangat menaruh perhatian pada kemaslahatan sanak kerabatnya (abarru an-nas li-aqaribihi). Perhatian beliau tidak hanya terbatas pada urusan spiritual, tetapi juga menyentuh kebutuhan sosial, ekonomi, hingga urusan rumah tangga para anggota keluarganya.
Salah satu potret keindahan akhlak Nabi ﷺ terlihat dari kepedulian beliau terhadap pemuda di lingkaran keluarganya yang telah memasuki usia nikah namun belum memiliki kemapanan finansial. Hal ini tecermin dalam riwayat tentang dua pemuda, yakni Abdul Muthalib bin Rabiah dan Al-Fadl bin Abbas, yang berniat meminta pekerjaan sebagai pemungut zakat agar memiliki penghasilan untuk menikah.
Ketika kedua pemuda tersebut menghadap Nabi ﷺ, beliau mendengarkan permohonan mereka dengan penuh bijaksana. Namun, demi menjaga keagungan syariat, beliau menjelaskan bahwa harta zakat atau sedekah tidak halal bagi Muhammad dan keluarganya (Ahlul Bait), karena harta tersebut pada hakekatnya adalah pembersihan harta manusia.
Meskipun menolak permohonan jabatan tersebut demi menjaga prinsip syariat, Rasulullah ﷺ tidak melepaskan tanggung jawabnya begitu saja. Beliau memberikan solusi yang jauh lebih menenangkan dengan membantu mencarikan jodoh bagi kedua pemuda tersebut serta membiayai mahar pernikahan mereka dari bagian harta khumus.
Kisah tersebut memberikan pelajaran penting mengenai prinsip kepemimpinan dan nilai-nilai kekeluargaan. Di satu sisi, Nabi ﷺ menegaskan larangan nepotisme dan larangan memberikan jabatan kepada orang yang memintanya. Di sisi lain, beliau tetap menunjukkan kedermawanan luar biasa dengan menyelesaikan masalah ekonomi kerabatnya secara elegan tanpa melanggar syariat.
Selain kepedulian pada generasi muda, kebaikan Rasulullah ﷺ juga dirasakan oleh paman beliau, Al-Abbas bin Abdul Muthalib. Pada peristiwa Perang Badar, ketika Al-Abbas tertawan dan tidak memiliki pakaian yang layak, Nabi ﷺ secara khusus mengupayakan baju untuk pamannya sebagai bentuk penghormatan dan rasa kasih sayang.
Begitu pula ketika harta dari wilayah Bahrain tiba di Madinah dalam jumlah yang sangat banyak. Rasulullah ﷺ membagikan harta tersebut kepada masyarakat di masjid, dan beliau tidak lupa memberikan bagian yang melimpah kepada Al-Abbas untuk membantu memulihkan kondisi finansial sang paman pasca-peristiwa tebusan Perang Badar.
Dalam kajian tersebut, Ustadz Fadlan juga mengulas bagaimana Nabi ﷺ sangat memperhatikan ibadah sanak kerabatnya, seperti yang dialami oleh sepupu beliau, Duba’ah binti Az-Zubair. Ketika Duba’ah hendak menunaikan ibadah haji namun terhalang oleh kondisi fisik yang sakit-sakitan, Nabi ﷺ mengajarinya untuk berhaji dengan membaca syarat (isytirat).
Bimbingan Nabi ﷺ kepada Duba’ah ini menjadi kemudahan (ruchsah) bagi umat Islam hingga hari ini. Dengan mengikrarkan syarat saat berihram, seorang jemaah haji yang mengalami halangan darurat seperti sakit parah di tengah jalan diperbolehkan untuk bertahallul tanpa menanggung denda (fidyah) yang memberatkan.
Tidak berhenti pada urusan ibadah dan ekonomi, Rasulullah ﷺ juga senantiasa memperhatikan kondisi kesehatan fisik kerabatnya. Ketika melihat anak-anak dari mendiang Jafar bin Abi Thalib tampak kurus dan lemah, beliau segera menanyakan penyebabnya kepada Asma binti Umais untuk memastikan kesehatan sang keponakan.

Setelah mengetahui bahwa anak-anak tersebut terkena gangguan pandangan mata (‘ain), Nabi ﷺ langsung memerintahkan agar mereka dibacakan ruqyah syar’iyah. Langkah ini menunjukkan betapa komprehensifnya perhatian Rasulullah ﷺ dalam menjaga kesejahteraan spiritual, mental, dan fisik seluruh anggota keluarganya.
Melalui paparan kajian ini, jamaah diimbau untuk meneladani seni interaksi Rasulullah ﷺ dalam kehidupan sehari-hari. Menjaga tali silaturahmi, membantu kerabat yang membutuhkan, serta membimbing keluarga dalam kebaikan merupakan sunnah agung yang hendaknya terus dihidupkan di tengah masyarakat.
Sumber: Kajian bertema “Seni Interaksi Rasulullah” ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Fadlan Fahamsyah, Lc., M.H.I. pada Sabtu 25 Juli 2026 di Masjid Al-Amin berdasarkan kitab Kaifa ‘Āmalahum karya Syekh Muhammad Saleh Al-Munajjid.