Seni Berbaik Sangka: Rahasia Ketenangan Hati Saat Menghadapi Ujian Hidup

Ustadz Drs. H. Nadjih Ihsan
Ustadz Drs. H. Nadjih Ihsan

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Dalam mengarungi kehidupan yang penuh dengan ketidakpastian, manusia seringkali terjebak dalam pusaran emosi saat menghadapi ujian. Salah satu penyakit hati yang paling berbahaya namun jarang disadari adalah munculnya rasa tidak puas terhadap ketetapan Tuhan. Kajian mendalam mengenai persoalan ini dikupas tuntas dalam sesi Kajian Ba’da Maghrib yang berlangsung di Masjid Al Falah, Surabaya, bersama Ustadz Drs. H. Nadjih Ihsan pada tanggal 10 Februari 2026.

Ustadz Nadjih membuka kajian dengan menekankan bahwa akar dari sikap suudzon atau berprasangka buruk kepada Allah SWT sebenarnya bermula dari kesalahpahaman dalam memahami Al-Asmaul Husna. Sejak kecil, umat Islam memang sudah diperkenalkan dengan nama-nama indah Allah, namun pendalaman maknanya seringkali terabaikan. Padahal, memahami nama-nama tersebut adalah fondasi utama agar seorang mukmin tetap memiliki pandangan yang positif terhadap segala takdir yang menimpa dirinya.

Dalam penjelasannya, beliau memaparkan bahwa pada diri Allah, antara nama, sifat, dan perbuatan adalah satu kesatuan yang sempurna. Hal ini berbeda dengan manusia yang terkadang memiliki nama yang bagus namun perilakunya tidak sejalan dengan nama tersebut. Jika seorang hamba meyakini bahwa semua nama Allah adalah baik, maka ia harus mengimani bahwa setiap perbuatan Allah, sekecil apa pun itu, juga mengandung kebaikan yang mutlak.

Logika keimanan ini menjadi tantangan saat manusia tertimpa musibah atau bencana. Ustadz Nadjih menjelaskan bahwa seringkali manusia merasa keputusan Allah “pahit” karena hanya melihat dari kacamata keinginan pribadi. Padahal, menyatakan bahwa keputusan Allah itu keliru secara tidak langsung berarti meragukan kesempurnaan sifat-sifat-Nya. Oleh karena itu, melatih diri untuk tidak suudzon kepada Allah adalah bagian dari upaya menjaga kemurnian tauhid.

Beliau kemudian mengajak jemaah untuk merenungkan Surah Al-Ahzab ayat 17, yang menegaskan bahwa tidak ada satu pun kekuatan yang dapat melindungi manusia jika Allah menghendaki bencana, dan tidak ada yang dapat menghalangi jika Allah menghendaki rahmat. Ayat ini menjadi pengingat bahwa segala sesuatu yang dirasakan manusia, baik itu nikmat maupun musibah, berada sepenuhnya dalam kendali Allah tanpa ada kesalahan sedikit pun dalam prosesnya.

Sejarah Islam pun mencatat bagaimana ujian berat dapat memunculkan karakter asli seseorang, sebagaimana yang terjadi pada Perang Uhud di tahun ke-3 Hijriah. Ustadz menceritakan kembali peristiwa tersebut di mana umat Islam mengalami kekalahan yang menyakitkan dengan gugurnya 70 sahabat. Kekalahan ini bukan terjadi tanpa sebab, melainkan akibat dari ketidakpatuhan sebagian pasukan terhadap instruksi Rasulullah demi mengejar harta duniawi atau ghanimah.

Pasca peristiwa Uhud, Allah membagi manusia ke dalam dua golongan besar melalui keadaan mental mereka. Golongan pertama adalah orang-orang mukmin yang meskipun sedih, mereka diberikan rasa aman berupa kantuk yang membuat mereka tenang dan mampu beristirahat. Ketenangan ini adalah bentuk rahmat Allah yang luar biasa agar hamba-Nya tidak terus-menerus dirundung kesedihan yang destruktif.

Namun, di sisi lain, muncul golongan orang munafik yang hatinya dipenuhi kegelisahan. Mereka mulai melontarkan kalimat-kalimat suudzon dengan mempertanyakan apakah Muhammad benar-benar seorang nabi dan mengapa Allah tidak memenangkan mereka. Sikap meragukan janji Allah inilah yang disebut sebagai prasangka jahiliyah, sebuah karakter buruk yang harus dijauhi oleh setiap muslim.

Ustadz Nadjih juga menyoroti fenomena sosial saat ini, di mana banyak orang merasa telah banyak beribadah namun hidupnya masih terasa sulit. Seringkali muncul ucapan, “Kenapa saya yang rajin salat justru hidupnya begini saja?” Beliau menegaskan bahwa model pemikiran seperti ini adalah bentuk penentangan terhadap takdir. Menghitung-hitung amal di hadapan Allah dengan tujuan “barter” demi kepentingan duniawi justru menjauhkan seseorang dari rida-Nya.

Sebagai solusi, beliau memberikan tiga resep praktis dari hadis Nabi untuk menghadapi dinamika hidup. Pertama, seorang muslim harus bersemangat melakukan hal-hal yang bermanfaat (ikhris ala ma yanfauka). Kedua, selalu memohon pertolongan kepada Allah dalam setiap langkah (wastain billah). Dan ketiga, jangan pernah menyerah atau merasa lemah dalam menghadapi rintangan yang ada.

Jika setelah ketiga ikhtiar tersebut dilakukan namun hasil yang didapat tetap tidak sesuai harapan, maka kalimat yang harus keluar adalah “Qaddarallah wa maa sya’a fa’ala” (Allah telah mentakdirkannya dan apa yang Dia kehendaki Dia perbuat). Beliau melarang keras penggunaan kata “seandainya” (seandainya tadi saya tidak begini, tentu tidak begitu), karena kata tersebut hanya akan membuka pintu bagi setan untuk menyulut penyesalan dan prasangka buruk.

Kajian ini ditutup dengan pengingat bahwa waktu dan cara kematian seseorang telah ditetapkan oleh Allah secara presisi. Tidak ada yang bisa melarikan diri dari takdir, baik mereka yang sedang berjuang di medan laga maupun mereka yang hanya berdiam diri di dalam rumah. Dengan memahami hakikat ini, diharapkan setiap muslim dapat menjalani hidup dengan lebih tenang, tawakal, dan senantiasa berbaik sangka kepada setiap skenario yang telah dituliskan oleh Sang Pencipta.

Sumber: Kajian Ba’da Maghrib di Masjid Al Falah Surabaya yang oleh Ustadz Drs. H. Nadjih Ihsan dengan Tema Larangan Berprasangka Buruk (Suudzon) kepada Allah SWT

E-Buletin