Sehat Fisik, Kuat Ibadah: Rahasia Paru Sehat agar Sujud Lebih Khusyuk

dr. Agus Hidayat, Sp.P(K), seorang spesialis paru konsultan dari RSUD Dr. Soetomo.
dr. Agus Hidayat, Sp.P(K), seorang spesialis paru konsultan dari RSUD Dr. Soetomo.

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Kesehatan sering kali menjadi nikmat yang baru disadari urgensinya ketika ia mulai memudar. Dalam menjalankan ketaatan kepada Sang Pencipta, kekuatan fisik merupakan fondasi utama agar setiap rukun dan sujud dapat ditunaikan dengan sempurna tanpa kendala sesak maupun nyeri. Kesadaran inilah yang melatarbelakangi penyelenggaraan acara “Ngaji Sehat” episode ke-22 yang berlangsung pada hari Kamis, 23 April 2026, bertempat di ruang utama Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, dengan menghadirkan narasumber ahli dr. Agus Hidayat, Sp.P(K), seorang spesialis paru konsultan dari RSUD Dr. Soetomo.

Dalam pemaparannya, Dokter Agus menekankan bahwa ibadah yang optimal memerlukan keselarasan antara kondisi fisik dan rohani. Paru-paru yang sehat menjadi motor penggerak bagi seorang mukmin untuk bisa istiqamah, terutama dalam aktivitas yang membutuhkan ketahanan fisik seperti salat malam yang panjang, tadarus Al-Qur’an, hingga pelaksanaan ibadah haji dan umrah. Tanpa fungsi pernapasan yang baik, kekhusyukan sering kali terganggu oleh gangguan teknis tubuh seperti batuk yang terus-menerus atau rasa sesak saat bersujud.

Dunia medis mengenal dua kategori besar penyakit paru yang patut diwaspadai, yakni penyakit menular dan tidak menular. Penyakit menular seperti TBC dan pneumonia masih menjadi tantangan besar di Indonesia, di mana infeksi bakteri atau virus dapat merusak jaringan paru secara permanen jika tidak ditangani sejak dini. Di sisi lain, penyakit tidak menular seperti asma dan PPOK sering kali berkaitan erat dengan faktor genetik serta paparan polusi yang terus-menerus di lingkungan sekitar.

Menariknya, Dokter Agus menyoroti polusi udara yang tidak hanya berasal dari asap kendaraan di jalan raya, tetapi juga dari aktivitas sehari-hari yang dianggap remeh. Penggunaan obat nyamuk bakar, paparan asap rokok, hingga asap dari pembakaran kayu untuk memasak di pedesaan merupakan polutan berbahaya. Bahkan, profesi tertentu seperti pedagang sate yang terpapar asap arang setiap hari memiliki risiko tinggi mengalami kerusakan paru-paru akibat iritasi kronis pada saluran pernapasan.

Gejala gangguan paru sebenarnya bisa dideteksi secara mandiri sebelum kondisinya memburuk. Batuk yang tidak kunjung sembuh lebih dari dua minggu atau sering kumat-kumatan merupakan alarm pertama yang diberikan oleh tubuh. Selain itu, munculnya keringat dingin di malam hari tanpa aktivitas fisik serta penurunan berat badan yang drastis tanpa sebab yang jelas sering kali menjadi indikator adanya infeksi serius seperti tuberkulosis yang membutuhkan pengobatan intensif.

Salah satu indikator kesehatan paru yang jarang disadari adalah aroma napas atau bau mulut. dr. Agus menjelaskan bahwa bakteri atau kuman di saluran napas mengeluarkan aroma khas yang dapat mencerminkan kondisi kesehatan internal seseorang. Oleh karena itu, anjuran Rasulullah SAW untuk bersiwak dan menjaga kebersihan mulut bukan sekadar ritual, melainkan langkah preventif medis agar sisa makanan tidak menjadi sarang kuman yang nantinya bisa terhirup masuk ke dalam paru-paru.

Puasa yang baru saja dijalani umat Muslim di bulan Ramadan ternyata memiliki korelasi medis yang sangat positif terhadap kesehatan pernapasan. Saat berpuasa, tubuh mengalami proses detoksifikasi dan pembakaran lemak yang signifikan. Penurunan massa lemak ini memberikan ruang lebih bagi paru-paru dan jantung untuk mengembang secara elastis, sehingga sirkulasi oksigen dalam darah menjadi lebih lancar dan tubuh terasa lebih ringan untuk beraktivitas.

Stres emosional juga diidentifikasi sebagai pemicu berbagai penyakit sistemik yang memengaruhi fungsi organ. Melalui ibadah puasa dan salat, regulasi hormon dalam tubuh menjadi lebih stabil, yang secara tidak langsung menjaga daya tahan tubuh dari serangan infeksi. Pola hidup yang teratur selama bulan ibadah menjadi standar ideal yang seharusnya dipertahankan untuk menjaga homeostasis atau keseimbangan fungsi biologis manusia dalam jangka panjang.

Bagi kelompok lanjut usia (lansia), menjaga kebugaran memerlukan pendekatan yang berbeda dan lebih hati-hati. Menginjak usia di atas 60 tahun, fungsi sendi dan kepadatan tulang mulai menurun, sehingga olahraga berat tidak lagi disarankan. Olahraga low impact seperti jalan kaki santai di pagi hari atau senam pernapasan yang lembut jauh lebih efektif untuk menjaga elastisitas paru tanpa merisikokan cedera pada persendian tulang.

Dokter Agus membagikan resep praktis bernama “DOKTER” sebagai pedoman gaya hidup sehat. Dimulai dengan Diet optimal yang mengedepankan prinsip halalan thayyiban (halal dan bergizi), diikuti dengan Olahraga teratur meski hanya 30 menit. Komponen lainnya adalah Kontrol kesehatan secara rutin ke fasilitas medis, Tawakal dan sabar dalam menghadapi proses penuaan, serta Eliminasi segala bentuk racun seperti rokok dan miras yang merusak organ vital.

Langkah terakhir dalam rumus tersebut adalah Rajin silaturahim, yang secara psikologis mampu meningkatkan kebahagiaan dan menurunkan tingkat stres. Seorang mukmin yang kuat secara fisik akan lebih dicintai oleh Allah karena ia mampu memberikan manfaat lebih luas bagi sesama. Ibadah haji yang membutuhkan fisik prima untuk tawaf dan sai menjadi bukti nyata bahwa kesehatan adalah modal utama untuk meraih kesempurnaan dalam beragama.

Kajian ini diakhiri dengan pesan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dengan menjaga paru-paru tetap sehat, kita tidak hanya menjaga diri sendiri, tetapi juga memastikan bahwa kita tetap memiliki energi untuk menebar kebaikan dan beribadah secara istiqamah hingga akhir hayat. Kesehatan adalah amanah yang harus dijaga agar setiap napas yang kita hirup dapat bernilai ibadah di hadapan-Nya.

Sumber: Ngaji Sehat episode ke-22 di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya pada, Kamis, 23 April 2026. Bersama dr. Agus Hidayat, Sp.P(K), seorang spesialis paru dari RSUD Dr. Soetomo, yang membawakan tema “Paru Sehat Ibadah Istiqamah”.

E-Buletin