Kabarmasjid.id, Surabaya – Gema takbir yang mengangkasa menandai berakhirnya bulan suci Ramadhan, membawa umat Muslim kembali kepada kesucian diri. Momentum Idul Fitri bukan sekadar perayaan kemenangan, melainkan titik awal bagi setiap individu untuk menguji konsistensi ibadah yang telah dilatih selama satu bulan penuh. Di tengah suasana khidmat tersebut, Masjid Al-Irsyad Surabaya menyelenggarakan Sholat Idul Fitri 1447 H pada Sabtu, 21 Maret 2026, yang berlokasi di halaman masjid dengan menghadirkan Ustadz Muhammad Sholeh Drehem, Lc sebagai khatib dan Syekh Dr. Muhammad Ramadan Al Imran sebagai imam.
Dalam pembukaan khutbahnya, Ustadz Muhammad Sholeh menyampaikan pesan mendalam mengenai proyek besar Allah selama Ramadhan yang bertujuan membentuk ketakwaan dan kesabaran. Beliau menekankan bahwa setiap Muslim yang telah berpuasa dan menghidupkan malamnya dengan ibadah kini berada dalam kondisi bersih dari dosa, layaknya manusia baru dengan iman dan akhlak yang segar. Namun, kesucian ini bukanlah akhir, melainkan modal utama untuk menghadapi realitas kehidupan yang seringkali semakin berat di masa mendatang.
Khatib mengingatkan jamaah agar tidak menghentikan kebiasaan baik yang telah terbentuk, seperti puasa sunnah, sholat malam, dan inteustaraksi dengan Al-Qur’an. Beliau menegaskan bahwa meskipun Ramadhan telah berlalu, Allah yang disembah tetap sama, sehingga konsistensi atau istiqamah menjadi kunci agar posisi seorang hamba tetap terpuji di mata Sang Pencipta maupun manusia. Hal ini menjadi penting karena dunia setelah Ramadhan akan menghadirkan tantangan yang tidak mudah.
Tantangan pertama yang disoroti adalah menghadapi kaum kafir, baik yang menyerang secara fisik maupun melalui pemikiran. Beliau memberikan contoh penderitaan saudara Muslim di Palestina, Sudan, hingga Filipina Selatan yang mengalami penindasan fisik. Di sisi lain, ada peperangan terhadap iman dan akhlak melalui dunia pendidikan dan birokrasi, yang menuntut umat Islam untuk tetap menunjukkan akhlak mulia sebagai bentuk dakwah yang menyejukkan.
Tantangan kedua berasal dari golongan munafik yang senantiasa menaruh kebencian di tengah masyarakat. Ustadz Muhammad Sholeh menjelaskan bahwa sifat kemunafikan ini seringkali berkaitan dengan urusan perut dan syahwat, yang dimanifestasikan melalui kebohongan, khianat terhadap amanah, dan pengingkaran janji. Golongan ini akan selalu ada hingga hari kiamat, sehingga umat harus waspada terhadap pengaruh dan sifat-sifat tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya, khatib memperingatkan tentang tantangan ketiga yang dianggap paling membahayakan, yaitu sifat hasad atau dengki di antara sesama mukmin. Hasad digambarkan sebagai penyakit yang bisa menyerang siapa saja, mulai dari pengusaha, politisi, hingga para ustadz dan kiai. Sifat ini sangat destruktif karena dapat menghapuskan seluruh pahala kebaikan, termasuk puasa dan zakat yang baru saja dilaksanakan, ibarat api yang memakan kayu bakar.
Beliau mengajak jamaah untuk menyadari bahwa rezeki, kedudukan, dan karunia telah ditetapkan oleh Allah sesuai takarannya masing-masing. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi seorang Muslim untuk merasa iri atas pencapaian saudaranya. Sebaliknya, setiap Muslim seharusnya mendoakan kebaikan bagi sesama agar keberkahan tersebut juga mengalir kepada lingkungan sekitarnya.
Tantangan keempat adalah godaan setan yang kini telah terbebas dari belenggunya setelah Ramadhan berakhir. Meskipun tipu daya setan disebut lemah, mereka sangat gigih dalam mencari celah untuk memutus tali persaudaraan antarumat Islam. Setan mungkin sudah putus asa melihat umat yang rajin bersujud, namun mereka tidak akan pernah berhenti menghasut agar terjadi gesekan hati dan permusuhan di antara kaum beriman.
Khatib menekankan pentingnya menutup celah bagi setan dengan tidak memberikan ruang bagi kebencian. Beliau berpesan agar setiap tindakan, baik dalam mencintai maupun menasihati, didasari semata-mata karena Allah tanpa kepentingan pribadi. Dengan demikian, persatuan umat akan tetap kokoh dan tidak mudah diadu domba oleh pihak mana pun.
Tantangan kelima yang tidak kalah berat adalah hawa nafsu yang ada dalam diri setiap manusia. Nafsu bukanlah sesuatu yang harus dibuang, karena ia adalah karunia untuk memakmurkan dunia, namun ia harus ditundukkan di bawah aturan Allah. Perjuangan melawan nafsu yang selalu mengajak pada keburukan (nafsul ammarah bissu’) merupakan medan jihad yang berkelanjutan bagi setiap mukmin.

Sebagai penutup, Ustadz Muhammad Sholeh menegaskan kembali bahwa solusi atas segala tantangan tersebut adalah integrasi antara kesabaran dan ketakwaan. Sabar diperlukan untuk menghadapi tekanan hidup, sementara takwa melalui hubungan yang kuat dengan Allah (hablum minallah) menjadi kompas yang mengarahkan langkah manusia agar tetap berada di jalan yang benar.
Khutbah diakhiri dengan doa yang menyentuh hati, memohon agar amal ibadah selama Ramadhan diterima, dosa-dosa diampuni, dan bangsa Indonesia dijaga menjadi negeri yang aman dan sejahtera (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur). Harapan besar disampirkan agar setiap jamaah keluar dari lapangan sholat dengan semangat baru untuk menebar rahmat bagi alam semesta.
Sumber: Khutbah Idul Fitri 1447 H di Masjid Al-Irsyad dengan Khotib Ustadz Muhammad Sholeh Drehem, Lc